Prompt #11: Kemarin

5 Mei

“Muti, tunggu!” Aku bergegas saat melihat dia hendak memasuki mobil. “Ada yang ingin aku katakan.”

“Hmmm, aku mau ke Gambir. Ikut aja, yuk! Di perjalanan kamu bisa cerita.”

Begitu duduk di samping Muti, aku gelisah. Bingung harus mulai dari mana.

“Kok diam? Ada apa, sih?” Muti kembali menatap jalanan di depannya.

“Enggg… ini soal Revan.”

“Ohya? Kebetulan. Aku mau bertemu dia.”

“Bertemu… Revan?” Aku menelan ludah.

“Iya. Kemarin sebelum berpisah dia bilang akan menunggu di tempat yang sama. Hari ini dia balik lagi ke Solo.” Mulut Muti manyun. “Padahal masih kangen sudah harus pergi lagi.”

“Kemarin? Aneh.”

“Iya, sih. Kemarin Revan agak aneh. Nggak semesra biasanya. Lebih banyak diam. Biasanya dia akan cerita soal kerjaannya di Solo. Nomornya semalam juga nggak bisa dihubungi.”

Setengah perjalanan, aku lebih banyak diam. Mendengarkan celoteh Muti.

Muti mencari parkiran kosong.

“Ada apa dengan Revan?” Muti mengamit lenganku memasuki stasiun Gambir.

“Anu… itu… Eh, bagaimana kalau kemarin itu kamu tidak bertemu Revan?“

“Ada-ada saja pertanyaanmu, Ra.” Muti tertawa renyah.

“Muti, Revan tak jadi ke Jakarta.”

“Jelas-jelas kemarin aku menjemputnya, Ra. Yuk, ah, kita tunggu Revan di dalam. ”

nota juiceMuti mengajakku memasuki Coffe Bento.

“Mas, masih ingat aku, kan?”

Lelaki di belakang meja kasir itu mengerutkan kening.

“Kemarin aku datang bersama teman pria. Aku pakai baju biru. Pesan dua juice orange. Ini… aku masih simpan struknya.”

Lelaki itu menggeleng. “Hmmm, coba tanya barista yang di sana.”

Seorang lelaki bermata sipit menghampiri kami. Sejenak menyimak penuturan Muti.

“Oh, ya, aku ingat. Nona yang kemarin menolak kopi Arabican Night yang aku tawarkan.”

“Nah, bener, kan?”

“Tapi, Nona… Anda sendiri saat itu.”

Muti menatapku tak mengerti.

Aku melihat struk yang masih tergenggam. “Kemarin yang bayar minumannya siapa? Apa Revan minum juice-nya?”

Muti mengejang. Wajahnya pias. Aku langsung tahu jawabannya.

Aku harus menjelaskannya secara perlahan.

“Muti, Revan tak pernah sampai di Gambir. Itu yang sejak tadi mau aku katakan. Dia kecelakaan saat menuju Solobalapan. Kemarin dia koma. Keluarganya berusaha menghubungimu tapi entah mengapa nomormu sibuk terus. Dan hari ini… hari ini aku dihubungi untuk memberitahumu kalau… kalau Revan sudah nggak ada.” Aku sudah tak dapat menahan air mata.

Struk itu terlepas dari genggaman Muti seiring tubuhnya yang luruh ke bumi.

***

______________________________
struk: penerimaan, tanda terima, kwitansi, tanda penerimaan
barista: sebutan untuk seseorang yang pekerjaannya membuat dan menyajikan kopi kepada pelanggan

Iklan

2 Tanggapan to “Prompt #11: Kemarin”

  1. ronal 6 Mei 2013 pada 6:45 am #

    twistnya dapet mba ….mantab 😀

  2. rinibee 7 Mei 2013 pada 12:59 am #

    Eh aku pernah lho bikin cerita kaya gini.. 😀

    Kapan-kapan mampir yaa.. 🙂
    http://rinibee.wordpress.com/2010/07/09/satu-hari-yang-takkan-terlupakan/

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: