Tag Archives: prompt

Prompt #29: 27 Maret

11 Okt

Aku masih berkutat dengan pembukuan saat bel berbunyi. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa yang barusan masuk. Aku mengernyitkan kening. Seorang wanita memakai terusan tebal dan memakai kacamata hitam serta penutup kepala. Dia sepertinya bukan pengutil yang harus diawasi.

Aku kembali menekuri angka-angka di depanku. Bulan lalu, toko buku ini mengalami kerugian hingga Nadine harus diberhentikan. Mr. Xavier masih mempertahankanku karena aku bisa mengerjakan pembukuan sekaligus melayani pembeli, menggantikan Nadine. Pekerjaan bertambah tapi dengan gaji tetap. Tentu saja aku tidak berani meminta tambahan gaji. Aku sangat tahu pendapatan toko buku ini. Orang-orang lebih sering memasuki restoran dari pada toko buku kecil yang berada di salah satu sudut bandara ini.

Kalau bulan ini tidak ada peningkatan, aku khawatir Mr. Xavier akan menutup toko ini dan aku akan menjadi pengangguran.

“Permisi.”

Aku mendongak dan melihat wanita itu melepas kacamata hitamnya.

“Ada yang bisa aku bantu?”

“Aku mencari buku Saat Engkau Tak Bahagia dengan Pekerjaanmu.”

Hah?! Apa wanita ini sedang menyindirku?

“Buku apa?” Aku tak yakin dengan pendengaranku.

Wanita itu menyebut sekali lagi.  Aku bengong sesaat. Meski tidak yakin buku itu ada di sini karena Nadine yang lebih hapal judul dan letak buku, tapi kakiku melangkah ke arah rak yang berlabel Ekonomi Keuangan.

Baca lebih lanjut

Prompt #12: Peti Kenangan

6 Mei

Terasa sepi saat satu persatu pelayat meninggalkan rumah. Kucari ibu. Tentu saat ini, ibulah yang paling merasa kehilangan. Kuketuk pintu lalu membuka gerendel.

Ibu membelakangiku. Di depannya ada sebuah peti besar. Peti yang dulu pernah coba kubuka tapi tak pernah berhasil. Dan peti itu kini terbuka lebar!

Ibu menoleh. Matanya berair. Kulihat dia sedang memeluk sesuatu.

“Di peti ini, semua kenangan ibu dan ayah berada.”

Mataku melihat sesuatu. Kuambil dari himpitan barang lain. Aku ingat kisah robot ini hingga harus masuk ke peti.

“Robot ini ayah ambil karena membuat kalian berkelahi karenanya. Ayah akan mengembalikan kalau kalian bisa akur.” Namun, robot itu tak pernah kembali meski aku dan Benny akur.

Tubuhku semakin menjorok ke dalam peti. Semakin ke dalam, makin banyak benda-benda masa lalu yang kembali kuingat.

kondeAku terkejut saat aku secara tak sengaja menyenggol sesuatu yang besar dan menyembul. 

Astaga! Konde? Tapi, siapa yang pakai konde di rumah ini?

“Ini milik Ibu?” Kutarik keluar konde itu. Aaah, pertanyaan yang kemudian kusesali. Satu-satunya perempuan di rumah ini dulunya hanya Ibu. Sebelum istriku dan istri Beny masuk ke dalam keluarga kami.

Ibu mengerutkan kening. Meletakkan foto yang tadi dipeluknya kemudian mengambil konde di tanganku. Ibu menggeleng.

Kami terdiam. Suasana terasa canggung. Kini, pasti menjadi pemikiran ibu dengan kehadiran sebuah konde tak dikenal di peti kenangan keluarga kami.

“Diana. Ini pasti milik Diana.”

Baca lebih lanjut

Prompt #11: Kemarin

5 Mei

“Muti, tunggu!” Aku bergegas saat melihat dia hendak memasuki mobil. “Ada yang ingin aku katakan.”

“Hmmm, aku mau ke Gambir. Ikut aja, yuk! Di perjalanan kamu bisa cerita.”

Begitu duduk di samping Muti, aku gelisah. Bingung harus mulai dari mana.

“Kok diam? Ada apa, sih?” Muti kembali menatap jalanan di depannya.

“Enggg… ini soal Revan.”

“Ohya? Kebetulan. Aku mau bertemu dia.”

“Bertemu… Revan?” Aku menelan ludah.

“Iya. Kemarin sebelum berpisah dia bilang akan menunggu di tempat yang sama. Hari ini dia balik lagi ke Solo.” Mulut Muti manyun. “Padahal masih kangen sudah harus pergi lagi.”

“Kemarin? Aneh.”

“Iya, sih. Kemarin Revan agak aneh. Nggak semesra biasanya. Lebih banyak diam. Biasanya dia akan cerita soal kerjaannya di Solo. Nomornya semalam juga nggak bisa dihubungi.”

Setengah perjalanan, aku lebih banyak diam. Mendengarkan celoteh Muti.

Baca lebih lanjut

Prompt #9: Sang Ketua Kelas

12 Apr

Ulangan kali ini berbeda. Kartu peserta dikumpulkan oleh guru pengawas dan menempatkan kartu-kartu itu secara acak. Di mana kartu itu berada, di situlah tempat duduk siswa yang bersangkutan selama ulangan berlangsung.

Kami berbaris di depan kelas. Siswa perempuan dipersilahkan masuk lebih dulu untuk mencari di mana tempat duduknya. Aku menemukan kartu peserta ulanganku di sudut, tergeletak di meja belakang. Sebagai siswa yang sering ditempatkan di depan, aku sedikit kecewa dengan cara baru ini.

Giliran siswa laki-laki masuk.

OMG! Aku terperanjat saat melihat Rio, sang ketua kelas. Siswa terpintar di kelas dan tentu saja paling cakep itu sedang berjalan ke arahku. Mengapa tadi aku tak melihat kartu di meja depanku? Mungkinkah?

Serasa ingin pingsan saat mengetahui Rio duduk tepat di depanku. Aku salah tingkah. Diam-diam menatapnya dari belakang. Rambut dan tengkuknya jadi sasaran mataku. Oh, dari belakang saja sudah cakep! Tak pernah aku sedekat ini dengannya. Bergerak sedikit saja, aku berusaha tak menimbulkan suara keras. Bahkan untuk bernapas!

Kertas ulangan untuk sesaat bisa membuatku sedikit fokus. Meski saat menemukan soal sulit, mataku tanpa sadar menatap teman yang lain. Aku sedikit terkejut saat bertemu mata dengan Yulia. Sesekali pula dengan Rahmi. Lalu Desy.

Satu jam berlalu.

Rio berdiri. Kayaknya dia sudah selesai. Aku tidak heran kalau dia cepat mengumpulkan jawaban. Aku keluar beberapa menit kemudian.

Depan kelas, rupanya Yulia, Rahmi, Desy, Via, dan Yanti telah menungguku.

“Nur, gimana rasanya duduk di belakang Rio?”

Eh?!  

“Bisa lihat jawabannya, gak?”

Aku menggeleng. Aku memang tak terbiasa nyontek.

“Kamu gak pusing cium aroma parfumnya?”

Hah?! Pertanyaan macam apa ini? Itu mereka tanya karena kasihan atau sirik, sih?

Aku langsung ngeloyor meninggalkan mereka. Setidaknya, seminggu ini Rio masih duduk di depanku. Besok, aku masih bisa mencium aroma parfumnya yang tadi tak sempat terpikirkan.

***

Jumlah kata: 287

Prompt #9: Wangi yang Sama

11 Apr

pelukan-ibuAku kaget tatkala Tisya telah berada di samping dan memeluk lenganku.
“Ada apa, Tisya?”
“Tante harum banget. Tisya suka!”

Aku bertatapan dengan Yoga. Aku gak pake parfum!

“Tante senang kalau Tisya suka.”

“Iya. Wangi tante mengingatkan Tisya pada Bunda. Tisya serasa meluk Bunda.”

Lagi-lagi aku bertatapan dengan Yoga.

Apa maksudnya? Yoga menggeleng.

Aku menghela nafas. Mudah-mudahan ini reaksi positif Tisya akan hubunganku dengan ayahnya.

Sebelum berpisah…

“Menurut Tisya, wangi tante kayak apa?”

Mata bulatnya menerawang. “Dulu, waktu bunda masih ada, Tisya mencium wangi yang sama di mana-mana. Tisya suka. Sekarang tidak pernah ada lagi.” Dia menunduk. Sedih.

Sesampai di rumah, aku mencium lengan bajuku mencari wangi yang sama dengan yang dicium Tisya. Tapi aku hanya mencium aroma pewangi pakaian yang melekat dibajuku. Aku ke ruang cuci dan mendapati botol Downa merah yang wanginya sama dengan bajuku.

***

Jumlah kata: 136

Prompt #7: Hanya Ingin Melihatmu

1 Apr

#James

Lelaki itu lagi! Di kota kecil ini sangat mudah mengenali wajah baru. Lelaki itu melangkah canggung. Dia memegang selembar kartu pos. Kami sempat bertatapan beberapa saat, sebelum lelaki itu menyerahkan kiriman kartu posnya ke Miss Park, rekan sekerjaku.

Sebelum keluar, aku bisa melihat lelaki itu masih mencoba melihatku sebelum menghilang di balik pintu yang perlahan tertutup.

*

image

source: tumblr

#Mike

Aku mengelus rambutnya. Aku berjanji membangunkannya sore nanti.

Love is the sweetest thing. But being bitter when the universe didn’t support our togetherness.

Aku menemukan tulisan itu di diary Sonia yang tak terkunci, setahun setelah pernikahan. Sesuatu yang menjawab tanya mengapa dia kelihatan tak bahagia.

Who is the Man?”

Saat pembicaraan dari hati ke hati, kulihat binar di matanya. Binar untuk lelaki lain. Aku terluka. Harga diriku sebagai lelaki terkoyak! Aku ingin marah. Namun guncangan tubuh Sonia makin keras. Batuknya kali ini mengeluarkan darah. Kulihat tubuhnya begitu lelah, lalu luruh ke pelukanku. Sekaligus meluruhkan amarah ini.

Saat dia tersadar, kugenggam tangannya. Aku tak ingin melepasnya.

If there is a little bit of love for me. Give me, I’ll keep it.

Baca lebih lanjut

Prompt #4: Mengapa Aku Tak Punya Ayah

10 Mar

Deru motor berhenti. Tak berapa lama terdengar langkah kaki kecil berlari menghampiri.

“Ibu! Lihat! Aku bawa boneka untuk Risa!”

Ibu tersenyum kemudian berkata, “Lucu sekali. Mudah-mudahan Risa suka. Ibu antar ke kamarnya sekarang?”

Bayu mengangguk senang. Lalu mengikuti Ibu menemui adik barunya.

boneka untuk risa

Ibu meletakkan boneka bayi itu di samping Risa yang terlelap.

Bayu melihat ukuran mereka hampir sama. Tiba-tiba Bayu nyeletuk, “Risa sebenarnya muncul dari mana, Bu?”

Ibu kaget, tidak siap dengan pertanyaan tak biasa itu. Ibu masih memikirkan jawaban yang tepat, ketika Bayu melemparkan tanya yang lain.

“Trus, kapan aku punya Ayah? Teman-temanku selalu dijemput Ayah mereka. Mengapa aku tidak punya Ayah, Bu?”

“Tapi, ada Bunda yang jemput, kan?”

“Iya sih. Tapi tetap saja lain, Bu.”

*

Baca lebih lanjut