[Fiksi] Sehari Sebelum Ramadhan

11 Jul

“Kami sekeluarga akan umroh.”

Tya menoleh ke arah Nuri. Ia tersenyum senang dengan rencana Ramadhan rekan kerjanya itu.

“Kamu sendiri bagaimana?”

Tya gelagapan. “Eh, belum ada rencana.” Ia meringis.

“Biasanya kalian punya…” Nuri tiba-tiba berhenti. “Oh, maaf. Saya lupa.”

“Nggak apa-apa.”

Tya pulang dengan langkah gontai. Dia memang tidak memiliki rencana apapun. Ramadhan kali ini adalah Ramadhan pertama yang akan dia lalui tanpa Adam. 

***

“Azka sudah tidur, mbak Mar?”

Wanita paruh baya itu mengangguk. Lalu beranjak hendak mempersiapkan makan malam.

“Nggak usah. Mbak Mar istirahat saja. Saya sudah kenyang.”

Tya masuk ke kamar Azka. Dipandangi wajah anak satu-satunya itu. Wajah yang membuat dia makin rindu kepada Adam.

“Ibu sayang Azka,” bisiknya. Dikecupnya dahi Azka. Lalu dia beranjak  ke kamarnya sendiri.

Tya mengusap foto Adam, dielusnya seperti sedang membelai wajah sang kekasih. Ditatapnya lama wajah itu. Wajah yang menyeruakkan kerinduan hingga air matanya menetes.

Kejadian lima bulan lalu masih begitu membekas. Luka jiwanya masih memerah.

Sekitar 5 menit lagi abang sampai.

Itu sms terakhir yang dia terima. Dia di depan kantor menunggu jemputan Adam. Lima… sepuluh, bahkan hampir sejam, Adam tak pernah muncul. Berkali-kali dia menelpon. Semua bagai senyap. Hingga berita itu datang menggenapi kecemasannya.

Dia mematung saat diceritakan kalau sopir mobil yang menabrak motor Adam telah ditangkap. Tiada artinya kini. Yang dia tahu bahwa Adam tak akan pernah bangun lagi. Tak akan ada lagi boncengan sepulang kerja. Tak akan ada lagi kecupan membangunkan di pagi hari.

“Pulanglah, nak! Kami akan menerimamu kembali.” Dia tahu maksud dibalik ucapan papanya yang menemuinya seminggu setelah pemakaman Adam.

Tiga tahun. Tiga tahun dia bertahan dengan keyakinan ini tanpa pernah berpikir untuk kembali. Namun, kepergian Adam membuatnya sedikit goyah. Dia bagai kehilangan pegangan. Hingga kerinduan berada di tengah keluarganya sempat melintas dipikirannya. Namun melihat Azka… mengingat harapan Adam terhadap buah hati mereka itu membuatnya membuang jauh-jauh lintasan pikiran itu. Harapan itu tak akan terwujud jika dia kembali.

Diusapnya air mata yang masih tersisa. “Abang pergi saat keyakinan saya belum kokoh. Tapi abang tak perlu khawatir.”

***

Nuri memeluknya erat. Ini hari terakhir masuk kerja.

“Maafkan waktu itu. Saya benar-benar lupa.”

Tya mengangguk. Melepaskan pelukan Nuri dan menepuk pundaknya.

“Tak apa. Saya pun selalu merasa Adam sedang pergi keluar kota. Tapi saya selalu sadar bahwa dia tak mungkin kembali.”

Nuri menatapnya lama, lalu tiba-tiba dia menangis.

“Kamu sangat tabah, Tya. Saya selalu ingin menangis untukmu.”

Tya menggeleng. “Tak perlu.”

Dia segera berbalik meninggalkan Nuri, menyembunyikan air matanya yang menetes.

***

Ditelusurinya jalan-jalan yang dulu pernah dia lalui bersama Adam. Dilihatnya beberapa tenda telah berdiri.

Hanya kenangan yang dia miliki kini. Ramadhan pertamanya bersama Adam dilaluinya dengan fun. Adam tahu ini puasa pertamanya, jadi Adam sepertinya ingin membuat puasa pertama itu begitu berkesan.

Adam membangunkannya dini hari. Lalu menyuruhnya bersiap-siap.

“Kita akan ke mana?”

“Kita akan jalan-jalan.”

“Sepagi ini?”

Adam mengangguk mantap. “Jangan lupa bawa mukena juga. Kita akan pulang setelah subuh.”

Dini hari itu begitu ramai.

“Hanya di bulan Ramadhan kamu bisa melihat suasana ramai pada jam-jam tidur seperti ini,” kata Adam saat itu.

Adam mengajaknya mampir di salah satu warung tenda. Sahur pertamanya. Lalu mereka berkeliling melihat geliat kota yang sudah terbangun. Hari itu, Adam memberinya pengalaman tak terlupakan.

***

“Ada tamu,” kata mbak Mar sambil tergopoh-gopoh menyambutnya di depan pagar.

Tya mengerutkan kening.

“Mama?”

Wanita itu berdiri menyambutnya. Mereka berpelukan. Wanita itu tak hentinya menciumi wajahnya.

“Maafkan Tya, Ma.”

“Kamu memang mengecewakan keluarga besar, Tya. Papamu, saudara-saudaramu. Mama pun kecewa, Tya. Tapi kamu tetap anak mama. Anak perempuan satu-satunya.”

Tya menunduk.

“Tak sekalipun mama lewatkan malam tanpa memikirkan bagaimana keadaanmu. Apa kamu bahagia dengan pilihanmu itu atau sebaliknya. Sampai pada hari itu… saat papa pulang dan mengatakan kamu tak ingin kembali.”

Mama terdiam. Menghela nafas sejenak.

“Pada titik itu, mama akhirnya menyadari satu hal. Kamu berpindah keyakinan karena kamu yakin, bukan karena Adam. Seharusnya mama menemuimu lebih cepat. Tak perlu menunggu selama ini untuk menyadari kalau kamu sudah dewasa. Kamu bukan lagi anak manja. Kamu tahu apa yang kamu pilih.” Mama menghela nafas panjang. Seakan-akan semua hal yang tersimpan dalam benaknya telah dia keluarkan.

“Kemari, nak!” Mama membawanya dalam dekapan. “Mama tak ingin kamu menjalani Ramadhan kali ini seorang diri. Mama akan menemanimu di sini.”

Tya tak dapat lagi menahan tangisnya. Dalam doa-doa panjangnya selama ini, dia pernah meminta salah satu dari orang tuanya akan menerima keputusannya memeluk Islam. Dan kini, sehari sebelum Ramadhan, Allah telah menjawab doa tersebut.

***

# Cerpen ini sedianya diikutkan dalam #proyekmenulis yang diadakan oleh nulisbuku.com… namun, semesta sedang tak mendukung hehehe… saya kelewatan batas akhir pengiriman 😀

Iklan

11 Tanggapan to “[Fiksi] Sehari Sebelum Ramadhan”

  1. ryan 11 Juli 2013 pada 3:06 pm #

    wah… sayang banget kelewat batas waktunya.
    bagus banget ceritanya. 😦

    • nurusyainie 11 Juli 2013 pada 6:18 pm #

      Makasih, mas Ryan 🙂
      Waktunya memang mepet. Saya rasa… tak berjodoh saja dengan proyek itu hehehe… ^^

      • ryan 11 Juli 2013 pada 6:40 pm #

        Mudah2an proyek berikutnya bisa ikutan.

  2. sri sugiarti 11 Juli 2013 pada 10:04 pm #

    Mbak keren ceritanya 🙂 aku suka… mau banyak belajar deh sama mbak…ceritanya mudah dimnegerti tanpa ada kat2 sastra…tapi mengalir dan satu lagi sebagai pembaca yang awam ttg fiksi…aku cukup mngerti dengan ceritanya 😀 like this deh maf kepanjangan komen #SalamSilaturahmi

  3. fatwaningrum 12 Juli 2013 pada 5:12 am #

    eh, semesta tak mendukung mbak nurus en mbak rini? *panggilpanggilmbakrini barengan yah? :D. tetep smgt2 mbaaaak, ini cerita kereeen 🙂

    • rinibee 12 Juli 2013 pada 6:28 am #

      Hehehehe.. Iya ih. Kok bisa barengan..? *halah.. :mrgreen:

      Setuju banget,. Ceritanya keren!

  4. rinibee 12 Juli 2013 pada 6:25 am #

    Sukaaa ceritanyaaa…. 😀

    Sayangnya nggak kekirim.. 😦

  5. Orin 15 Juli 2013 pada 5:32 pm #

    Aaahh…sayang ga sempat terkirim mba, mestinya menang lho ini..

  6. myra anastasia 16 Juli 2013 pada 9:16 am #

    ada kisah sedihnya tapi endingnya bahagia. Bagus, Mbak 🙂

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: