Tag Archives: parfum

[#CerMin] Wangi yang Sama

14 Mei

Gelisah.

Hari ini adalah pertemuan yang akan menentukan kelanjutan hubunganku dengan Yoga, duda beranak satu. Yoga telah meluluhkan hati Ibu yang menentang hubungan kami karena statusnya itu. Kini, giliranku untuk mengambil hati anak semata wayangnya.

Di pintu masuk kulihat Yoga melambaikan tangan. Di sampingnya seorang anak berseragam TK. Aku gugup. Bagaimana kalau Tisya tidak menyukaiku? Bagaimana kalau dia takut memiliki ibu tiri?

Tisya menatapku lama. Setelah diingatkan ayahnya, Tisya mencium punggung tanganku.

Makan siang itu berlalu dengan canggung. Tisya sering mencuri pandang padaku.

“Ada yang mau Tisya katakan?” tanyaku ketika ia memandangku lagi.

“Tante harum banget.”

Aku bertatapan dengan Yoga. Lalu kembali menoleh ke Tisya.

“Tisya suka?”

“Iya. Wangi tante mengingatkan Tisya pada bunda.”

Lagi-lagi aku bertatapan dengan Yoga.  Apa maksudnya? Yoga menggeleng.

Aku menghela nafas. Mudah-mudahan ini reaksi positif Tisya akan hubunganku dengan ayahnya.

Sebelum berpisah…

“Boleh Tisya peluk tante?”

Yoga menatapku lalu mengangguk. Senyumnya terkembang.

“Boleh.” Kuusap rambut panjang Tisya. “Menurut Tisya, wangi tante kayak apa?”

“Dulu… Tisya mencium wangi yang sama setiap dekat dengan bunda. Tisya suka.”

“Tisya ingin mencium wangi yang sama lagi setiap hari?” Kali ini Yoga bertanya.

Tisya mengangguk. Wajahku menegang.

Di kamar…

Kupandangi parfum aroma green tea. Pantas saja Yoga menghadiahkanku parfum itu.

***

Jumlah kata: 200/200

Ditulis ulang dari FF saya dengan judul yang sama 😀

Iklan

Prompt #9: Sang Ketua Kelas

12 Apr

Ulangan kali ini berbeda. Kartu peserta dikumpulkan oleh guru pengawas dan menempatkan kartu-kartu itu secara acak. Di mana kartu itu berada, di situlah tempat duduk siswa yang bersangkutan selama ulangan berlangsung.

Kami berbaris di depan kelas. Siswa perempuan dipersilahkan masuk lebih dulu untuk mencari di mana tempat duduknya. Aku menemukan kartu peserta ulanganku di sudut, tergeletak di meja belakang. Sebagai siswa yang sering ditempatkan di depan, aku sedikit kecewa dengan cara baru ini.

Giliran siswa laki-laki masuk.

OMG! Aku terperanjat saat melihat Rio, sang ketua kelas. Siswa terpintar di kelas dan tentu saja paling cakep itu sedang berjalan ke arahku. Mengapa tadi aku tak melihat kartu di meja depanku? Mungkinkah?

Serasa ingin pingsan saat mengetahui Rio duduk tepat di depanku. Aku salah tingkah. Diam-diam menatapnya dari belakang. Rambut dan tengkuknya jadi sasaran mataku. Oh, dari belakang saja sudah cakep! Tak pernah aku sedekat ini dengannya. Bergerak sedikit saja, aku berusaha tak menimbulkan suara keras. Bahkan untuk bernapas!

Kertas ulangan untuk sesaat bisa membuatku sedikit fokus. Meski saat menemukan soal sulit, mataku tanpa sadar menatap teman yang lain. Aku sedikit terkejut saat bertemu mata dengan Yulia. Sesekali pula dengan Rahmi. Lalu Desy.

Satu jam berlalu.

Rio berdiri. Kayaknya dia sudah selesai. Aku tidak heran kalau dia cepat mengumpulkan jawaban. Aku keluar beberapa menit kemudian.

Depan kelas, rupanya Yulia, Rahmi, Desy, Via, dan Yanti telah menungguku.

“Nur, gimana rasanya duduk di belakang Rio?”

Eh?!  

“Bisa lihat jawabannya, gak?”

Aku menggeleng. Aku memang tak terbiasa nyontek.

“Kamu gak pusing cium aroma parfumnya?”

Hah?! Pertanyaan macam apa ini? Itu mereka tanya karena kasihan atau sirik, sih?

Aku langsung ngeloyor meninggalkan mereka. Setidaknya, seminggu ini Rio masih duduk di depanku. Besok, aku masih bisa mencium aroma parfumnya yang tadi tak sempat terpikirkan.

***

Jumlah kata: 287

Prompt #9: Wangi yang Sama

11 Apr

pelukan-ibuAku kaget tatkala Tisya telah berada di samping dan memeluk lenganku.
“Ada apa, Tisya?”
“Tante harum banget. Tisya suka!”

Aku bertatapan dengan Yoga. Aku gak pake parfum!

“Tante senang kalau Tisya suka.”

“Iya. Wangi tante mengingatkan Tisya pada Bunda. Tisya serasa meluk Bunda.”

Lagi-lagi aku bertatapan dengan Yoga.

Apa maksudnya? Yoga menggeleng.

Aku menghela nafas. Mudah-mudahan ini reaksi positif Tisya akan hubunganku dengan ayahnya.

Sebelum berpisah…

“Menurut Tisya, wangi tante kayak apa?”

Mata bulatnya menerawang. “Dulu, waktu bunda masih ada, Tisya mencium wangi yang sama di mana-mana. Tisya suka. Sekarang tidak pernah ada lagi.” Dia menunduk. Sedih.

Sesampai di rumah, aku mencium lengan bajuku mencari wangi yang sama dengan yang dicium Tisya. Tapi aku hanya mencium aroma pewangi pakaian yang melekat dibajuku. Aku ke ruang cuci dan mendapati botol Downa merah yang wanginya sama dengan bajuku.

***

Jumlah kata: 136