Arsip | Uncategorized RSS feed for this section

Blog-ku, Catatan Yang Tak Terucap

25 Feb

Blog-ku, Catatan Yang Tak Terucap

Dunia blog pertama kali diperkenalkan oleh seorang teman, Yanuardi Syukur, pada tahun 2007. Dia memperlihatkan blognya di multiply.com. Saya membaca tulisan-tulisannya, melihat foto-fotonya, mengikuti percakapannya dengan teman-temannya.

“Salah satu keistimewaan blog,” kata teman saya saat itu, “kamu bisa mempublikasikan tulisanmu sendiri tanpa melalui banyak prosedur seperti kalau kamu menerbitkan buku yang membutuhkan jangka waktu lama. Kamu menulis, mengeditnya sendiri, mempostingnya di blog. Saat di publish, saat itu juga tulisan kamu telah bisa dibaca oleh orang lain. Dan, tentu saja kamu tidak perlu mengeluarkan biaya lebih besar, selain biaya internet.” Kira-kira seperti itulah yang dikatakannya.

Saat itu terpikir, “Wah, keren kalau punya blog milik sendiri.” Apalagi untuk ukuran kota Kendari, saat itu mungkin hanya sedikit yang memiliki blog. Jadi kalau saya memiliki blog, saya merasa sebagai bagian dari orang-orang keren di kota ini.

Multiply.com adalah cinta pertama saya di dunia diary elektronik ini. Adik saya, Nining, yang lebih dulu memiliki blog di multiply.com, yang mengajari saya lebih lanjut setahun kemudian, tahun 2008. Sayang, itu tidak berlangsung lama karena kami terpisah kota. Akhirnya, ibarat bayi, saya belajar sendiri. Saya meraba bagaimana menggunakannya, belajar duduk dengan berhasilnya mempublikasikan tulisan sendiri, belajar merangkak dengan membangun hubungan dengan orang-orang yang tidak saya kenal sebelumnya yang selanjutnya menjadi teman berbagi cerita, dan akhirnya bisa berjalan sendiri.

Saya pun berbagi kepada teman yang lain. Karena blog masih merupakan sesuatu yang asing saat itu, saya pernah beberapa kali diundang untuk melatih beberapa komunitas di kampus untuk mengisi pelatihan membuat blog. Sesuatu yang sangat membahagiakan saat kita bisa berbagi ilmu.

Saya mulai sering memposting tulisan-tulisan saya di blog, mereview buku-buku yang telah saya baca, mengupload foto-foto perjalanan saya, dan hal-hal lain yang menyenangkan.

Meski saya termasuk tipe yang bisa mengungkapkan sesuatu hal baik pendapat, ide, dll. Pada tataran tertentu, ada sesuatu hal lain yang tak sempat terucapkan kepada pasangan, keluarga, sahabat, teman, dan kenalan, saya tuangkan melalui tulisan. Saya bisa dengan bebas menuliskan uneg-uneg saya, kesedihan saya, rasa bosan saya, atau kebahagiaan saya, rasa cinta dan sayang saya, rasa hormat dan terima kasih saya kepada siapa pun. Lewat tulisan saya lebih ekspresif menyampaikan semua hal itu.

Karena banyak sebab… saya sempat vakum ngeblog beberapa lama. Saya masih memposting tulisan saya, namun tidak sesering dulu. Hingga saya pun mengenal jejaring sosial yang sedang menjadi trending topic saat itu.

Suatu hari, saat sedang mencari sebuah artikel, saya terhubung ke suatu blog. Isi blognya sangat informatif dan sangat berguna buat saya sebagai seorang perempuan. Dengan alasan yang sangat sederhana: karena saya menyukainya, saya memutuskan bergabung dalam grupnya di Facebook.

Hari-hari selanjutnya, saya disuguhkan dengan informasi-informasi seputar perempuan, berbagai tips, rekomendasi film, foto-foto unik dan lucu, quotes yang menarik dan membuat semangat, dan hal-hal lain yang membuat saya jatuh cinta. Tiap hari, saya menantikan kejutan apa lagi yang akan diberikan.

Hingga suatu hari… saya berpikir, mengapa saya hanya menjadi konsumen atas tulisan-tulisan orang lain? Meski saya menyukai tulisan orang lain tersebut, mengapa saya tidak membuat tulisan saya sendiri juga? Bukankah saya pernah melakukannya?

Itulah titik balik hingga saya kembali lagi ke blog.

Saat membuka blog saya. Hiks, sangat menyedihkan. Tulisan terakhir, saya tulis saat ulang tahun saya, setahun lalu!

Tapi, apa yang harus saya tulis? Saya sama sekali tidak memiliki ide sama sekali. Lalu saya blogwalking ke beberapa blog teman yang lama tidak saya jumpai. Dan saya menemukan banyak informasi lomba. Dan sungguh menakjubkan, tiba-tiba saja dalam pikiran saya begitu banyak ide yang berterbangan menunggu saya tangkap satu persatu untuk saya tuangkan dalam tulisan.

Usai mengikuti lomba yang satu, saya mencari lomba yang lain. Bukan, bukan karena melihat hadiahnya. Tapi lomba telah merangsang munculnya kreatifitas saya kembali. Saya ingin kembali mengasah kemampuan menulis saya, ingin mengaktualisasi diri serta menunjukkan keeksistensian diri. Dan tahukah? Bahwa setelah mengikuti lomba, pertemanan saya bertambah baik di blog maupun di FB. Saya merasa bahwa inilah salah satu karunia Allah kepada saya. Soal menang lomba atau tidak… setidaknya saya telah menulis, menulis, dan menulis.

Dan, inilah saya sekarang bersama blog-ku, dan catatan-catatan isi hati yang tak terucapkan.

***

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes “Ngeblog di Mata Perempuan” yang diselenggarakan oleh EmakBlogger

[Narsisku Bahagiamu] Mbak Sayur, Sahabat Keluarga Kami

11 Feb

“Sayur… sayur, Bu!” suara lantang mbak Sayur terdengar hampir tiap pagi.

Apa yang dapat kuceritakan tentang mbak Sayur?

Saya mengenal perempuan yang bernama asli mbak Narti itu dari mama. Mama adalah salah satu pelanggan setianya, bahkan sebelum saya lahir. Jadi, seharusnya banyak yang bisa saya ceritakan tentang dia mengingat saya mengenalnya seumur hidup saya. Namun ternyata tidak mudah menuliskan kisah mbak Narti dalam tulisan saya kali ini.

Saya mengenalnya lebih dari sosok penjual sayur, hingga semua kenangan ingin saya tulis. Namun saya pikir itu tidak mungkin. Jadi saya perlu waktu untuk itu. Saya berjalan-jalan lebih dahulu, tiduran, main games, atau cek notifikasi di FB.

Meski sejak pagi saya telah melakukan sesi pemotretan dan wawancara dengan mbak Narti, namun hingga malam menjelang, hanya kalimat pembuka itu yang paling saya ingat tentang mbak Narti [selanjutnya akan saya sebut sebagai mbak Sayur sebagaimana kami memanggilnya selama ini ]


Akhirnya, mengingat deadline tinggal 26 jam lagi, memaksa otak saya agar segera encer hehehe…

* * *

“Sayur… sayur, Bu!” suara lantang mbak Sayur terdengar hampir tiap pagi.

Pemandangan mama belanja sayur gendong sama mbak Sayur memang bukan hal baru bagi saya. Sejak kecil, mata dan telinga saya sudah mengakrabi sosok dan suara mbak Sayur dengan logat Jawanya itu.

[panah merah] tembok sekolah dasar

“Ada palola?”

“Ada, Bu.” Lalu dia menurunkan bakulnya dari gendongan dan mencari palola diantara tumpukan sayur yang diatur sedemikian rupa agar muat di bakulnya.

Dia lalu menyerahkan kantong plastik berisi palola atau terong bulat kecil yang merupakan makanan kesukaan Papa. Mbak Sayur memang hapal sayur apa saja yang selalu dibeli mama. Karena pelanggan setia, biasanya rumah pertama yang didatangi mbak Sayur adalah rumah kediaman kami di bilangan MT. Haryono, Wua-Wua yang merupakan salah satu wilayah terpadat di kota Kendari.

Setelah satu persatu anak-anak mama menikah dan tinggal tak jauh dari kediaman keluarga besar, para anak dan menantu perempuan mama pun menjadi pelanggan mbak Sayur. Bukan… bukan karena pasar jauh. Pasar Baru hanya sekitar 10-15 menit naik angkot. Namun kami [saya dan saudara perempuan lainnya], memang tidak terlalu suka berdesak-desakan jika ke pasar tradisional. Jadinya keberadaan mbak Sayur sangat kami harapkan.

Bernarsis ria bersama mbak Sayur

Beberapa tahun belakangan, ada yang berubah dari kebiasaan mbak Sayur menjajakan dagangan sayurnya. Mbak Sayur tidak lagi berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, dari satu pelanggan ke pelanggan lainnya. Dia tinggal menggelar dagangannya di emperan toko yang belum buka atau di trotoar dekat SD. Para pelanggan akan menghampirinya. Dan rata-rata pelanggannya selama ini tahu kemana harus mencari mbak Sayur setiap pagi. Ohya, karena dekat SD… pelanggan mbak Sayur juga dari kalangan guru-guru.

Pagi ini pun, saya bersama kakak perempuan saya belanja sayuran. Dari kejauhan, kami telah melihat mbak Sayur telah berada di trotoar. Saat kakak saya memilih sayuran, saya meminta kesediaan mbak Sayur untuk menjadi tokoh dalam kisah saya kali ini.

Saat wawancara

“Saya menjual kurang lebih sudah 35 tahun.” kata mbak Sayur mengawali kisahnya.

Perjalanan hidup mbak Sayur tidaklah mudah. Sejak masih remaja, saat gadis seusia dia bersekolah atau bersenang-senang menikmati masa muda mereka, dia justru melakoni pekerjaan sebagai penjual sayur gendong.

“Masih gelap sudah harus ke pasar Baruga cari sayur yang akan dijual kembali. Kalau tidak cepat, kita gak akan dapat sayur yang bagus.” lanjut mbak Sayur sambil menambahkan bahwa dia berangkat pukul 2 dini hari dari rumahnya di Konda menuju pasar Baruga.

Saat ini, pasar Baruga memang tempat berburu sayuran segar dan hasil bumi lainnya yang didatangkan dari berbagai pelosok desa dan perkebunan. Bahkan ada juga yang didatangkan dari Makassar.

“Saya pertama kali menjual memang di daerah Wua-Wua sampai sekarang.” Ya, di area tempat tinggal saya inilah mbak Sayur bertemu mama dan kemudian hari menjadi pelanggan setianya hingga hari ini.

“Setelah menikah, saya masih tetap menjual sayur seperti ini. Sedang bapaknya anak-anak bisnis kayu.” lanjut mbak yang memiliki 4 anak dari pernikahannya itu.

“Saat bapak kena stoke, otomatis penghasilan hanya dari menjual sayur. Untung anak-anak sudah gede. Sudah bisa membantu sedikit-sedikit.”

“Ini aja mas, lebih masak” — “Kayaknya ini lebih gede, mbak.”

Hasil kerja kerasnya, mbak Sayur bisa menyekolahkan keempat anak-anaknya. Dua telah sarjana, satu cewek lulusan D3 Kebidanan, sedang yang bungsu kelas 2 SMP. Meski kini bisa menikmati hasil kerja kerasnya dan melihat anak-anaknya berhasil, mbak tetap melakoni pekerjaanya sebagai penjual sayur.

“Yah, mau gimana lagi. Bapak sekarang sudah enggak ada. Di rumah juga bengong… mending menjual.” kata mbak yang wajahnya masih terlihat awet muda meski usianya sudah diakhir 40-an.

Sekarang jualan mbak Sayur bukan hanya sayuran mentah. Tapi juga sayuran yang telah dimasak. Dan rata-rata para guru memang lebih memilih membeli ‘sayuran jadi’ daripada harus mengolah lagi.

[panah merah] sayuran masak yang dijual mbak Sayur

Dalam berdagang… tidak selamanya manis. Mbak Sayur pun pernah mengalami kekecewaan saat sayur masaknya yang telah dipesan sehari sebelumnya, ternyata dibatalkan keesokan harinya oleh salah satu ibu guru. Marahkah dia?

“Hempas hati saya.” curhat mbak Sayur ke salah satu kakak perempuan saya. Namun mbak Sayur tidak dendam. Sayur masak yang tidak jadi diambil pemesannya itu lalu ditawarkan ke pelanggan lain. Mbak Sayur berjalan dari satu toko ke toko lain agar sayur masak itu tidak mubazir. Dan hari itu, mbak Sayur terlambat pulang ke rumah karenanya.


Mbak Sayur memang akrab dengan keluarga kami laiknya keluarga sendiri. Tiada sekat antara penjual dan pembeli. Bahkan kalau bertemu di jalan pun seperti menyapa kenalan lama. Bukan hanya itu… hubungan baik mbak Sayur dengan keluarga kami sering membuat mbak Sayur memberikan kami bonus-bonus yang tidak dia beri ke pelanggan lainnya. Dan saat keluarga besar kami mengadakan hajatan besar pun, nama mbak Narti ada dalam daftar tamu undangan.

Ada satu kisah ketika Nurmina, kakak perempuan saya beserta suaminya pergi ke Konda dan tak sengaja bertemu dengan mbak Sayur di sana. Mereka lalu diajak main ke rumahnya. Pulang dari sana, kakak saya di kasih dua pasang angsa. Dan itu gratis! [Nah, kalau ada yang penasaran mau lihat angsa pemberian mbak Sayur bisa juga di lihat di sini.]

Saya sendiri punya pengalaman yang tak terlupakan. Dulu, saya pernah beli pare karena dibujuk oleh si mbak. Mbak Sayur, yang saya tahu jago masak, memang sering membagi resep kepada saya.

“Enak nih kalau ditumis. Diiris kecil-kecil, tipis-tipis biar gak terlalu pahit. Nih, ada bawang merah, bawang putih.” Kata mbak sambil menaruh barang-barang yang disebutkannya ke tangan saya. “Lombok merah ada gak? Kalau gak ada, nih, ta tambahi. Bonus. Terakhir, masuki
n santan. Ini juga ada kelapa, udah diparut. Mau gak?”

Kalau mengingat itu, saya tertawa sendiri. Bayangkan… semula mbak hanya menawarkan pare. Tapi saat saya membawa masuk semua belanjaan saya pagi itu… ternyata bukan hanya pare tapi beserta bumbu-bumbunya hahaha… [kalau ada yang mau lihat hasil masakan saya bisa lihat di sini. Sorry, namanya juga lagi narsis hehehe…]

Dikemudian hari saat saya mengikuti Seminar Pemasaran ternyata trik yang dilakukan mbak Sayur disebut Up Selling Technique, yang menawarkan kepada pelanggan barang-barang lain yang tersedia [ready stock]. Cara tersebut sama seperti yang dilakukan franchise makanan cepat saji.

“Pesan apa, mbak?”

“Paket A.”

“Dengan kentang?”

“Tidak.”

“Es krim.”

“Tidak.”

“Mau coba menu special kami hari ini, mbak? Ada sphagetti”

Aaaarrrrrrgggghhhhh…..

“Tidaaaaaaaaaaaaak!!!”

[heuheuheu… ada yang mempunyai pengalaman yang sama?]


Kalau dipikir-pikir, di mana mbak Sayur belajar hal itu?

Oops, saya lupa pada angka 35 tahun… tentu saja pengalaman lebih berharga dibanding seminar 3 hari yang ilmunya belum tentu dipraktekkan semua hahaha… Dan saya banyak belajar tehnik pemasaran dan peluang usaha pada mbak Sayur.

Bagi saya, mbak Sayur adalah buku Ekonomi Pemasaran yang terbuka yang dapat saya baca kapanpun saya butuh.


Tulisan ini dalam rangka mengikuti lomba di sini

didedikasikan buat mbak Narti => mbak Sayur, Sahabat Keluarga Kami


Pemeran:

Tokoh Utama: Mbak Narti [lebih akrab kami panggil dengan sebutan mbak Sayur. Seingat saya wajah mbak Narti sejak dulu tiada yang berubah, seperti waktu terhenti di situ. Bedanya sekarang mbak Narti menutupi rambutnya dengan jilbab.]

Pendukung 1: Nurmina [kakak perempuan saya yang berperan sebagai pembeli]

Pendukung 2: Arif [mas tukang ojek yang berperan sebagai pembeli pepaya]

Kameramen: Dirga [ponakan/anak ibu Nurmina]

Penulis: Nurusyainie [yang bingung apakah harus menggunakan mbak Narti atau mbak Sayur pada judul. Mengingat tidak lazimnya menyebut nama secara langsung di kota kami, jadi lebih memilih kata mbak Sayur untuk dijadikan judul]

Menjadi “TUA’

14 Apr

Terbangun di suatu pagi, entah mengapa tak seperti biasanya saya langsung bercermin. Ada sesuatu di poni yang membuat saya menyisir rambut dengan tangan. Dan, hati saya tersentak. Apa penglihatan saya yang salah? Sekali lagi, kudekatkan wajah ke cermin dan menatap rambut saya. Ya Allah, benar… itu adalah selembar UBAN.

Beberapa saat saya berdiri terpaku. Seingat saya, ini kali pertama saya menemukan uban di rambut saya. Hingga saat itu saya berpikir, udah setua itu kah saya hingga memiliki uban? Oh no….!!!

Pagi itu senyum saya tidak terbit.

Saya berusaha menjauh dari cermin. Tapi, setiap memasuki kamar dan melewati cermin besar, mata saya tergoda untuk lagi-lagi melihat uban itu. Saya selalu berharap bahwa penglihatan pertama saya salah. Namun, itu memang uban.

Hingga menjelang siang, meski berusaha untuk terus menjauh dari cermin, tetap saja saya selalu kembali ke sana. Dan tahukah apa yang kutemukan setelah sekian kalinya saya bercermin? Saya menemukan bahwa dengan adanya uban itu, saya makin terlihat ‘dewasa‘ dan ‘cantik‘. Maka hari itu saya berdamai dengan hati dan mulai menerima kehadiran rambut putih itu.

Dan… hari ini sebenarnya hari yang biasa, sama seperti hari kemarin, dan kemarinnya lagi. Aktivitas pun masih seperti biasa. Namun rupanya, tanggalnya mengingatkan bahwa usia saya semakin beranjak. Angka diakhir 20-an yang membuat saya makin menyadari bahwa kehadiran uban beberapa minggu yang lalu merupakan sesuatu yang pasti, cepat atau lambat.

Usia yang mengingatkan bahwa saya masih belum cukup baik sebagai seorang hamba, belum mampu mengikuti semua sunnah Nabi Muhammad saw., belum bisa menjadi anak yang menjadi cahaya mata buat kedua orang tua, belum menjadi pribadi yang menyenangkan buat semua saudara, keluarga, dan sahabat.

Tapi, saya akan terus belajar untuk menjadi seperti semua itu.

 

 

Upik Abu yang Kini Menjadi Cinderella

14 Des

Kalau saja perempuan berjilbab itu tidak menegur saya lebih dulu, mungkin saya tidak akan mengenalinya.

“Nur, kan?” katanya sambil menjabat tangan saya.

“Iya… “ jawab saya masih bingung.

“Masa lupa?”

Kuperhatikan perempuan itu. Ohya Allah… dia Br, teman SD saya.


Waktu SD, meski memiliki fisik yang mungil dan kepintaran masih rata-rata, saya bergaul dengan teman-teman yang bisa dibilang kalangan “borju”. Sedang Br berada di luar lingkungan itu. Jadi, sebenarnya kami tidaklah terlalu akrab.

Sepanjang ingatan saya, Br sering dijadikan bahan lelucon oleh kawan-kawan lelaki. Fisiknya tiada yang aneh. Rambutnya lurus, panjang menjuntai. Badannya proporsional, gak gemuk juga gak kurus. Kulitnya pun putih. Lalu apa yang aneh?

Semula, saya pun tidak memperhatikan. Tapi teman-teman lelakilah yang sering mengganggunya sehingga hal itu terlihat. Br memiliki gigi yang agak maju. Hal itulah yang selalu jadi bahan olokan.

Marahkah dia? Tentu saja. Sebagai anak-anak dia kadang menangis, kadang juga hanya cemberut. Tapi seiring kenaikan jenjang kelas, Br seperti telah terbiasa mendengar olok-olokan yang sama hampir setiap hari sepanjang tahun. Huft… tega banget ya 😦

Selepas SD, kami tidak pernah bertemu lagi. Kami memilih SMP yang berbeda. Begitu pun SMA. Tapi saat itu saya pernah satu kali naik angkot yang sama dengan Br. Kami tak bertegur sapa. Entah… Saya sendiri tidak mengerti mengapa saat itu saya tidak menyapa duluan. Apa karena saya risih dengan pakaiannya? Entahlah…

Bertahun setelah itu, kami memang tidak pernah lagi bertemu. Kabarnya pun saya tidak tahu. Hingga hari itu… saat ia menyapa duluan dengan penampilan yang baru pula! MasyaAllah… Br benar2 telah berubah. Dia telah menjadi seorang muslimah seutuhnya. Pakaiannya tidak lagi minim dan ketat seperti terakhir kali saya melihatnya di angkot.

Sejak itu kami menjadi sering ketemu. Tapi faktanya, Br lah yang sebenarnya lebih sering menyambangi saya. Baik itu ke rumah mau pun di kampus. Saya tiba-tiba saja menjadi tempat curhatnya. Karena seringnya bercerita ke saya… saya pun tahu kalau sebenarnya perubahannya itu tidak mudah. Ketika dia memutuskan menghijabi dirinya, pertentangan muncul dari ibunya. Lalu ketika dia memakai gamis, tetangga kiri kanan pun membicarakan dia seolah-olah dia hamil.

Anehnya lagi… teman-teman yang lain justru curhat ke saya juga tentang ketidaksenangan mereka kepada Br. Kata mereka Br terlalu “ramah” pada non muhrim. Meski saya pun kadang bicara blak-blakan kepada Br tentang sikapnya itu, saya tidak bisa menghindari kenyataan kalau Br memang adalah seorang yang ramah. Pada siapa pun! Keluarga saya saja semua diakrabinya.

Rupanya Allah memberi 2 cobaan sekaligus kepada Br. Saat ibunya sakit, ada seorang lelaki yang dengan segala kebaikannya, keramahannya, kelemah lembutannya menolong keluarga Br. Mau bersusah payah di RS dan membantu meminjamkan dana untuk biaya pengobatan. Hati wanita mana yang tidak luluh?

Dan… tanpa diduga tersebarlah fitnah itu!

Mulut memang tidak berbicara, tapi pandangan mata yang memicing kala dia lewat. Juga bisikan-bisikan… membuat segalanya tidak nyaman baginya.

Sakit! Itulah yang dirasa Br saat sore menjelang maghrib dia tiba-tiba datang ke rumah sambil menangis. Lelaki itu hanya menganggapnya adik. Hah, ingin kudamprat lelaki itu!

Tersakiti membuat Br menjauh. Bukan karena apa-apa Bukankah dia memang sering merasa seperti itu? Disakiti, diganggu, diolok-olok, direndahkan. Hal itu sudah biasa baginya. Dalam pikirannya saat itu, dia hanya ingin merawat ibunya.

Seiring waktu… kami pun kembali terpisah. Hingga suatu sore Br datang ke rumah (lagi-lagi… Br lah yang lebih dulu menyambung tali silaturrahmi kami). Di mata saya, Br tetaplah perempuan yang saya kenal sejak dulu. Tiada yang berubah! Namun siapa yang menyangka kalau selama kami berpisah beberapa tahun… dia telah berubah menjadi seorang Cinderella? Dan mata saya masih saja buta melihatnya!

Kalau saja saya tidak sengaja mendengar pembicaraan keponakan dengan kakak perempuan saya, saya tidak akan mengetahuinya.


“Ibu Br cantik sekali.”

“Ah, biasa saja,” sahut kakak saya. Dia memang telah mengenal Br lebih lama. Mungkin dia juga belum menyadari perubahan itu.

“Putih sekali. Apa yang dia pakai ya?”

“Kata Amma Nurus… dia pakai S**n*ui.”

“Banyak teman-teman sekolahku yang suka sama ibu Br. Orangnya baik, ramah.”


Sepenggal pembicaraan itu menjadi pemikiran saya. Benarkah?

Dunia pun bagai terbalik bagi Br. Dia datang kembali ke rumah dan curhat kalau lelaki yang pernah digosipkan dengannya, yang dulunya hanya menganggapnya adik, kini sering menghubunginya dan menawarkan hubungan yang lebih serius. Dan apa jawab Br sekarang?


“Maaf kak, saya sudah punya calon! Tolong jangan ganggu saya lagi.”


Saya tahu… itu bukan jawaban untuk balik menyakiti hati lelaki itu. Karena seperti yang sudah saya katakan, Br orang yang baik. Meski pernah disakiti, dia masih ramah terhadap lelaki itu. Pada beberapa kali kesempatan bertemu, Br masih menyapa dengan bahasa yang santun. Br menyadari, lelaki ini telah berbuat banyak buat keluarganya


Tapi memang telah ada lelaki baik yang lain yang telah datang kepadanya. 


Sepercik Ingatan

14 Des

Koran bekas yang tadi saya baca memang telah beberapa menit yang lalu saya tinggal begitu saja di bangku ruang tunggu bandara. Tapi salah satu berita yang ada di koran itu terus teringat hingga saya menemukan kursi bernomor 8B.

Saya mencoba duduk nyaman, namun ada kilatan-kilatan peristiwa yang seolah membawa saya ke beberapa tahun silam. Ke peristiwa yang sama dengan berita di koran bekas itu.


Antara tahun 1996 – pertengahan 1997

Siang itu, pulang sekolah saya tidak langsung pulang. Saya main dulu ke rumah sahabat saya, Ar. Tidak ada agenda penting apapun. Hanya main saja.

Kami ngobrol sambil mempersiapkan makan siang. Nah, dalam obrolan kami terselip sebuah cerita kalau beberapa hari lalu, di samping rumah kost yang dia tempati dengan kakak perempuannya, ditemukan orok. Penemuan itu pun bermula dari seekor anjing. Rupanya, anjing tersebut mencium aroma tak sedap dari lubang yang dangkal dan hanya diberi pengganjal batu besar. Urusan itu telah ditangani pihak kepolisian.

Cerita itu menguap begitu saja.

Beberapa minggu kemudian…

Sebagai siswa kelas 3 MTs (setingkat SMP), kami mulai dipersiapkan mengikuti ujian akhir. Sore hari, kami mengikuti pelajaran tambahan.

Hari itu, saya janjian dengan Ar untuk ke rumah kost-nya terlebih dahulu. Rencananya, kami akan bersama-sama ke sekolah.

Setelah makan siang dan ganti baju, saya keluar lebih awal agar cepat tiba di kost-an AR.

Saya tidak mengerti apa yang terjadi. Begitu tiba… saya mendapati Ar berada di luar rumah, sedang duduk di rumput depan kamarnya. Tanpa persiapan apa pun!

Khawatir terlambat tiba di sekolah, saya mendesak AR agar segera berkemas. Ia terus menggeleng.

“Ada apa?” pertanyaan yang saya lontarkan bertahun silam itu hingga kini tetap tak terjawab.

Saya mengajak dia masuk ke kamar, dia tidak mau. Ar tetap memilih duduk sambil terus mencabuti rumput-rumput yang ada di depannya.

Karena tidak mengerti dan tidak mendapat alasan jelas dari Ar, saya menerobos ke kamar. Ar hendak melarang…. Terlambat!!! Pintu telah terbuka dan mata saya terlanjur melihat seorang lelaki yang sedang tidur.

“Siapa dia?” pertanyaan ini pun tak terjawab. Ar begitu sedikit memberi jawaban. Saat itu yang terdengar jelas dipendengaran saya, kalau lelaki itu teman kakaknya, Un. Kata-katanya yang lain hanyalah gumaman yang tak jelas.

Un muncul hanya berbalut handuk di tubuhnya. Dia dari kamar mandi yang letaknya terpisah dari rumah kost. Kami pun kembali duduk di rumput.

“Kamu pergi saja sendiri. Saya tidak jadi pergi.”

Kata-kata Ar membuat saya benar-benar kecewa.

“Kenapa?”

Saya masih tidak mengerti alasan dia. Di mata saya, tidak ada sesuatu yang menghalanginya.

“Saya sudah jauh-jauh ke sini.”

Waktu berangkat les telah lewat. Percuma… Secepat apa pun saya melangkah, saya akan tetap terlambat. Kuselonjorkan kaki, masih menunggu sebuah alasan dari mulut Ar.

Berjam-jam berlalu begitu saja. Dalam diam kami… Tidak, sebenarnya hanya sayalah yang terus berbicara sejak tadi. Terus mendesak Ar untuk cerita dan hanya mendapat balasan gelengan kepala dan gumaman yang makin tak jelas.

“Saya pulang…” kata saya bernada marah. Sungguh saat itu saya benar-benar marah.

Demi sebuah persahabatan, demi sebuah janji, saya lewati sekolah untuk ke kost-annya terlebih dahulu. Padahal jarak rumah saya lebih dekat ke sekolah di banding ke kost-annya. Dan demi sebuah alasan… saya korbankan waktu les saya!

Esoknya di sekolah…. Kami tak bertegur sapa padahal kami sebangku. Amarah ini masih membakar saya… bahkan menutupi apa yang sempat saya lihat di sana.


Kisah itu terlupa. Bahkan memikirkan pun tidak. Pikiran kanan-kanak saya tidak sampai memikirkan mengapa ada lelaki di dalam kamar kost mereka. Pun saat hubungan saya dan Ar kembali baik, saya bahkan tidak lagi mempertanyakan sebuah alasan.

Tidak, tidak … saya tidak hendak men-judge seseorang karena sebuah berita di koran bekas yang entah kini berada di mana. Apakah masih di bangku itu ataukah telah terbawa oleh pembaca lainnya. Saya pun tidak berani mengaitkan kedua kisah di atas. Mungkin saja itu dua peristiwa berbeda yang kejadiannya berdekatan. Dan saya sangat berharap seperti itu.

Namun… berita di koran bekas itu seperti dejavu. Aborsi, mayat bayi, anjing, sepasang muda-mudi. Potongan-potongan kisah yang hampir mirip. Lalu saya dihadapkan pada fakta bahwa Un tidak menyelesaikan SMA-nya. Kabar terakhir yang saya dengar dia menikah. Apakah dengan lelaki yang tak sengaja kulihat itu? Entahlah….

Setelah membuang jauh-jauh pikiran betapa lugunya saya hingga tidak menyadari apa yang terjadi saat itu, saya mencoba membayangkan jika saja saya berada di posisi Ar.


Panas, lapar, dan rasa gerah mempercepat langkah Ar menapaki satu persatu tangga menuju rumah kost-nya. Ia ingin segera tiba dan bersiap-siap untuk ke sekolah lagi. Nur akan menyambanginya untuk bersama-sama ke sekolah.

Pintu kamarnya telah terlihat. Tidak tergembok. Berarti Un, kakaknya telah pulang terlebih dahulu. Ia membayangkan, makan siang telah siap.

“Teh Un…” diketuknya pintu. Terkunci!


Apa yang saya bayangkan kemudian, mungkin seperti itulah yang terjadi. Ar mengetahui dan melihat lebih banyak dibanding apa yang tak sengaja terlihat. Jika benar, saya kini mengerti betapa beratnya Ar menjawab pertanyaan-pertanyaan lugu saya.

Kugerakkan badan mencari posisi nyaman untuk tidur. Perjalanan masih panjang. Pikiran saya masih memperkirakan di mana keberadaan Ar sekarang, sebelum akhirnya benar-benar terlelap.




Saat Perpustakaan berganti menjadi bilik kecil dalam warnet

30 Sep

Sepanjang ingatan saya saat menempuh pendidikan formal, perpustakaan adalah tempat favorit yang selalu dikunjungi. Saat SD, saya suka duduk berlama2 sambil membaca kisah2 dongeng nan bergambar di sudut ruang yang terhalang pandangan mata oleh rak buku. Saya mengenal kisah Tom Sawyer pun karena sering menghabiskan waktu siang hingga sore saya di perpustakaan.

Saat berganti seragam putih biru, saya baru boleh masuk ke ruangan yang buku2nya lebih banyak. Buku2 yang sesuai usia. Saya paling senang meminjam buku cerita terjemahan. Begitu pun saat SMA. Novel2 detektif selalu jadi rebutan untuk dipinjam. Kesenangan itu berlanjut saat kuliah. Saat ada tugas, tempat pertama yang harus dikunjungi adalah perpustakaan.

Saya lupa kapan terakhir kali saya ke sana. Mungkin sekitar 3 atau 4 tahun lalu, entahlah! Saya tidak benar2 mengingatnya.

Kemudian seiring dengan pengenalan saya akan dunia blog, yang pertama kali dikenalkan oleh seorang teman dari Selatan pada 2007 silam, saya mulai sering menulis di blog. Biasanya sambil ngeblog, saya juga mencari tugas kuliah melalui google, situs pencarian terbesar saat ini. Tanpa saya sadari, saya mulai kecanduan ke warnet. Saya menemukan banyak teman di dunia maya.

Begitu seringnya saya ke warnet sehingga saya mengetahui jam2 padat saat semua bilik yang tersedia terisi penuh. Siang hari, saat sekolah usai, warnet langganan saya yang dekat rumah penuh dengan anak2 berseragam putih abu2 sedang mencari tugas sekolah. Atau waktu setelah maghrib saya ke warnet, akan penuh dengan mahasiswa2 yang juga sedang mencari tugas. Dari pengalaman itulah saya lebih menyukai datang ke warnet pada pagi hari saat saya bebas memilih bilik mana yang akan saya masuki.

Perpustakaan terlupa untuk sementara. Toko buka pun telah lama tak kudatangi. Informasi, berita, dan hal2 apa pun yang saya cari akan mudah saya temukan dengan hanya mengetikan kata kunci pada situs pencari. Dan… seeeett… hanya selang beberapa detik, berbagai hal yang saya butuhkan dan inginkan ada di depan mata.

Hingga suatu hari, saya menonton berita di salah satu Stasiun Televisi lokal tentang berkurangnya minat pengunjung ke perpustakaan.

Saya pikir, salah satu penyebabnya adalah adanya perbedaan waktu antara penyedia dan pengguna. Pihak perpustakaan sebagai penyedia bahan baca dan bahan2 penelitian lainnya buka pada jam2 kerja sebagaimana pegawai pada umumnya, Sedang saat2 tersebut, pengguna perpustakaan -dalam hal ini kebanyakan, adalah pelajar dan mahasiswa berada dalam ruang kelas. Mereka masih berada dalam jam sekolah/kuliah. Siang hari, saat perpustakaan buka pada jam kedua pun terkadang masih merupakan waktu2 belajar para mahasiswa. Dan ketika pulang pada sore hari dan mendapat tugas, satu2nya tempat yang mereka tuju adalah warnet. Mengapa? Untuk warnet tertentu ada yang buka selama 24 jam. Jadi mereka bisa datang kapan saja ke untuk mencari bahan tugas.

Penyebab lainnya, karena kecepatan mendapatkan apa yang dibutuhkan pengguna. Dengan hanya sekali klik, apa yang dicari akan segera ditampilkan dilayar monitor. Apalagi sekarang, alat2 penunjang semakin mudah dimiliki seperti flash dish yang dapat menyimpan data hingga beberapa gigabyte, kemudian modem dengan berbagai model dan merk yang memudahkan kita menyusuri dunia maya tanpa harus keluar rumah, hingga ponsel yang bisa melakukan peran kedua alat tersebut.

Alangkah bedanya bila kita ke perpustakaan. Kita mesti menyusuri beberapa rak dan memilah2 tiap buka untuk menentukan buku mana yang sebenarnya memuat hal2 yang kita butuhkan.

Sekali lagi, bukan hendak menyudutkan salah satu pihak. Toh, saat ini telah banyak perpustakaan digital. Tapi, hal ini tentu menjadi pemikiran bahwa perkembangan teknologi telah merubah kebiasaan masyarakat tertentu. Dan perubahan itu adalah hal yang niscaya terjadi. Saya rasa hal ini merupakan tugas bersama agar mengawal perubahan ini berjalan ke arah yang lebih membawa banyak manfaat.

Masakan Fave Keluarga Saat Ini

6 Mar
Buah Paria atau Pare adalah masakan fave di keluarga saat ini. Agak pahit memang tapi mmh… lumayan enak.

Tangisan

20 Feb

Semenjak kita memiliki buah hati, seharusnya sejak itulah kita harus membiasakan diri mendengar tangisan. Bukankah ketika hadir pun yang pertama kali dilakukannya adalah menangis? Ketika kita gemes mendengarnya tertawa, seharusnya kita pun menyiapkan diri mendengar tangisannya.

Sebagai seorang ibu maupun ayah tentu tak ingin mendengar anak menangis. Namun kita pun tak bisa memungkiri bahwa menangis adalah hal yang alami. Manusiawi.

Yang harus kita pikirkan kemudian adalah bagaimana menyikapi berbagai macam tangisan anak. Terkadang kita berpikir instan. Bila anak menangis, kita cepat-cepat berbuat apapun untuk mendiamkannya. Apa pun itu! Ada yang meloloskan semua keinginan anak supaya ia tidak merengek terus-menerus. Ada yang sekedar mengancam akan memukul, bahkan ada orang tua yang langsung melayangkan tangan menyentuh kulit lembut itu.

Pertanyaan kemudian, Siapkah kita menjadi orang tua yang baik?

Tulisan ini terinspirasi pada seorang ibu dan anaknya


Diam

27 Jan


Beberapa hari lalu saya melihat seorang ibu yang membentak anaknya.

“Ma, minta uangmu, ma.” Anak usia 5 tahun itu mendekati mamanya dengan takut2.
“Kamu itu, dari kemarin minta uang terus.”
“Ma…”
“Kamu minta dipukul lagi, hah?”
“Oh ma, … uangmu!” Anak lelaki tersebut tetap merengek, malah sudah teriak2 minta keinginannya segera terpenuhi.

Dan terjadilah …

Di depan mata saya, anak tersebut dipukul. Oh, God!

“Sudah, tidak usah dipukul! Kalau tidak mau kasih, yah sudah. Biarkan saja!” Saya ikut emosi.
“Dari kemarin dia minta uang terus.”
“Biarkan saja. Tidak usah ditanggapi.”
“Saya tidak tahan dengar dia menangis terus.”
Saya geleng2 kepala. Lalu, kalau sudah dipukul apa menangisnya akan reda? Yang ada malah menangisnya makin kencang.

Saya tinggalkan ibu dan anak malang tersebut.

Pikiran saya melayang ke masa silam.

Dulu, dulu sekali, saya kesal bila Pa diam menanggapi keinginan2 saya. Mau beli ini, beli itu, Pa diam. Minta ini, minta itu, Pa juga diam. Seakan2 untuk mengatakan ‘YA’ dan ‘TIDAK’ terasa berat.

Pa tidak pernah bilang YA dan TIDAK, SETUJU atau TIDAK SETUJU. Mau menangis sekeras2nya atau guling2 di tanah pun percuma. Pa tetap diam. Pa seakan menulikan telinganya.

Saya kesal. Kesal sekali dengan sikap diam Pa.

Tapi, ya Allah, saya sadar bahwa saya memiliki seorang Pa yang sangat sabar. Semenjengkelkan apa pun tindakan yang saya perbuat untuk menarik perhatiannya, Pa tidak menunjukkan kemarahannya. Pa tidak pernah mengayunkan tangannya memukul. Yang Pa lakukan hanya diam. Pura2 tidak perduli, pura2 tidak dengar.

Sepintas mungkin terlihat kejam. Kok, sama anak sendiri gak pedulian gitu? Saya tahu Pa memang pendiam. Tidak banyak omong. Tapi, percayalah, saya sudah membuktikannya dan itu lebih baik dari pada ibu tadi berteriak2 menyumpahi anaknya sambil memukul.

Saya kini menyadari diamnya Pa menghalanginya melakukan tindakan negatif seperti memukul dan menyumpah. Diamnya Pa, mendiamkan saya dengan sendirinya, menyadarkan saya bahwa apa pun yang saya lakukan, semua akan percuma. Saya diajar dengan sendirinya bahwa semua keinginan tidak semuanya baik untuk saya dan tidak semuanya harus terwujud dengan cara meminta para orang tua.

Dan, saya banyak belajar DIAM pada Pa.

Terserah apa yang mau dikatakan para ahli Parenting tentang cara Pa mendidik dengan diamnya.

Mereka Bukanlah Sekedar Angka2

16 Jan

200, 300, 500, 800, 1000

Angka2 di atas akan selalu bertambah. Miris? Tentu saja. Kita akan terkaget-kaget, lalu mengusap dada. Pilu!

Mereka dulunya adalah tubuh yang utuh, memiliki nama, punya keluarga, punya kerjaan, punya impian. Mereka punya kehidupan masing-masing.

Mungkin saja,
ada diantara mereka seorang lelaki gagah yang bertahun-tahun tak pernah bertemu sang ibu. Saat kesempatan itu tiba, saat perjalanan menuju rumah ibunya dengan penuh kerinduan yang selama ini dipendam, tiba-tiba mobilnya meledak, tubuhnya tercerai berai.

Bisa juga,
hari itu adalah hari bersejarah dalam hidup seorang gadis. Saat ia hendak menggenapkan diennya. Saat menunggu iring-iringan pengantin pria, serangan itu mengenai mereka.

Atau kisah,
seorang pemuda yang baru saja membangun rumah buat keluarganya kelak, ternyata hancur berkeping-keping sekaligus kuburan baginya.

Dan bisa jadi,
hari itu adalah hari pertama seorang anak cerdas memasuki dunia sekolah, sekaligus hari terakhir baginya.

Banyak kemungkinan bisa terjadi pada diri tiap korban.

Tapi, masih ingatkah kita kalau mereka bukanlah sekedar angka-angka? Masih tidak perdulikah kita? Masih kikirkah kita meski untuk sebuah do’a? Masih enggankah kita melepas kenikmatan fasilitas buatan bangsa pembantai itu?