Tag Archives: cinta

Prompt #7: Hanya Ingin Melihatmu

1 Apr

#James

Lelaki itu lagi! Di kota kecil ini sangat mudah mengenali wajah baru. Lelaki itu melangkah canggung. Dia memegang selembar kartu pos. Kami sempat bertatapan beberapa saat, sebelum lelaki itu menyerahkan kiriman kartu posnya ke Miss Park, rekan sekerjaku.

Sebelum keluar, aku bisa melihat lelaki itu masih mencoba melihatku sebelum menghilang di balik pintu yang perlahan tertutup.

*

image

source: tumblr

#Mike

Aku mengelus rambutnya. Aku berjanji membangunkannya sore nanti.

Love is the sweetest thing. But being bitter when the universe didn’t support our togetherness.

Aku menemukan tulisan itu di diary Sonia yang tak terkunci, setahun setelah pernikahan. Sesuatu yang menjawab tanya mengapa dia kelihatan tak bahagia.

Who is the Man?”

Saat pembicaraan dari hati ke hati, kulihat binar di matanya. Binar untuk lelaki lain. Aku terluka. Harga diriku sebagai lelaki terkoyak! Aku ingin marah. Namun guncangan tubuh Sonia makin keras. Batuknya kali ini mengeluarkan darah. Kulihat tubuhnya begitu lelah, lalu luruh ke pelukanku. Sekaligus meluruhkan amarah ini.

Saat dia tersadar, kugenggam tangannya. Aku tak ingin melepasnya.

If there is a little bit of love for me. Give me, I’ll keep it.

Baca lebih lanjut

Ibu Tidak Pernah Berharap Melahirkanmu

27 Feb

???????????????????????????????

Baca lebih lanjut

#Postcardfiction: Dream Come True

31 Des

Kamu baik-baik saja?

Besoknya, Olive akan kembali mengirim pesan yang sama ke semua media sosial yang sering mereka gunakan untuk berkomunikasi. Keesokan harinya lagi, Olive akan melakukan hal yang sama. Begitu seterusnya hingga hari berganti minggu, minggu berganti bulan.

“Semua telah menunggumu.” Ibu menyentuh halus pundak Olive.

Olive menatap nanar pada layar di depannya. Berharap ada keajaiban. Tapi, hingga Ibu menggandeng tangannya, tak ada balasan yang diharapkannya.

Keluarga Jason menyambutnya ramah. Olive memaksakan sebuah senyum manis di acara makan malam itu.

“Saya tidak tahu apa kamu setuju dengan perjodohan ini, “kata Olive saat mereka diberi kesempatan ngobrol berdua. “Tapi saya telah berjanji pada seseorang untuk menunggunya.”

“Ibumu cerita semuanya. Tapi dia sudah….”

“Tidak!” Olive cepat memotong perkataan Jason. “Prima masih hidup. Saya yakin itu!”

“Bukankah kapalnya….”

“Dia masih hidup!”

“Jika tidak?” Baca lebih lanjut

#Postcardfiction: Long Distance Relationship

31 Des

long-distance relationshipSaya tidak berharap banyak, tapi maukah kamu menungguku?
Ya.
Meski kamu tahu kalau pekerjaan saya tak memungkinkan untuk selalu menyapamu setiap hari?
Saya mengerti.

Olive membaca kembali history percakapan mereka di skype sebulan lalu.

Menunggu. Dia tahu bahwa dia bisa menunggu, meski dia tahu pula kalau dia akan menahan rasa rindu begitu besar saat Prima tak menyapanya selama beberapa hari.

Hari ini, beberapa kali dia membuka skype dan berharap Prima online di sana. Tapi lagi-lagi dia menghela nafas. Dia paham sekali. Toh, ini bukan pertama kalinya dan Prima selalu minta maaf saat akhirnya dia bisa online.

“Sorry, baru dapat signal.”

Olive selalu bergurau dengan mengatakan, “Makanya, kalau beli hp, jangan lupa beli dengan signalnya.”

“Kalau perlu, saya beli dengan towernya sekalian.”

Lalu mereka akan tertawa bersama. Tawa riang mereka mencairkan kebekuan yang selalu hadir di awal percakapan. Baca lebih lanjut

#Postcardfiction: Move On

22 Des

titanic

Keramaian itu membuatnya sesak. Membawa kakinya terus melangkah. Olive berhenti di samping kapal besar yang tengah sandar di dermaga. Dia memandang dengan takjub. Sejak nonton Titanic, dia terobsesi pada salah satu adegan favoritnya saat Rose dan Jack berada di ujung kapal. Mereka bagai terbang. Bebas. Dan Olive ingin sekali merasakan hal itu.

“Kamu ingin masuk?” Darrel tiba-tiba muncul di hadapannya.

Belum sempat menjawab, Olive merasakan tangannya ditarik Darrel memasuki kapal besar itu. Mereka berlari… tertawa riang saat berhasil mengecoh salah satu ABK. Olive terjatuh di salah satu anak tangga. Darrel cepat meraih pinggangnya sebelum dia jatuh menyentuh lantai. Olive melepas sepatunya. Sekali lagi mereka berlari… tertawa riang.

Beberapa kali mereka salah masuk. Salah satu ABK meneriaki mereka yang melihatnya berganti pakaian. Beberapa ABK yang sedang main kartu, bengong saat Olive dan Darrel melintas di hadapan mereka. Beberapa kali pula mereka menemukan jalan buntu. Lalu, sekali lagi mereka berlari… tertawa riang.

Olive menahan nafas saat mereka tiba di haluan kapal. Takjub melihat pemandangan laut yang begitu luas di lihat dari atas. Perlahan dia mulai menaiki satu dua terali. Dia memejamkan mata dan merentangkan tangannya. Hawa sejuk segera memenuhi paru-parunya. Darrel melambai padanya. Baca lebih lanjut

Lelaki Pertama

1 Des

Dia adalah lelaki pertama dalam hidup saya. Dia juga lelaki pertama yang mendapatkan cinta saya. Lelaki sederhana yang memandang hidup ini secara sederhana pula, hingga tiada kerumitan padanya.

Lelaki pertamaku itu memiliki kesabaran luar biasa hingga saya sering bertanya, seluas apakah hati lelaki itu hingga dapat menampung semua hal termasuk kekecewaan yang sering saya timbulkan padanya.
Tak pernah sekalipun saya mendengar teriakan amarahnya. Dia begitu diam. Saya kadang mengira, dia pun menyimpan amarahnya dalam diam. Baca lebih lanjut

Sakit Rindu

16 Nov

Umur 4 tahun, saya pernah berpisah beberapa hari dengan Mama.

Ingatan saya pada hari itu sangat kabur, saya hanya mengingat beberapa hal… itu pun secara samar-samar. Entah bagaimana… saya bersama Ray, kakak ketiga saya yang laki-laki, ikut sepupu saya pulang kampung. Apakah saya yang bersikeras ikut atau kah ada hal lain, saya tidak ingat. Yang pasti, hari itu untuk pertama kalinya saya jauh dari Mama.

Ingatan saya melompat kebagian yang saya ingat saat itu.

Senja telah menyelimuti desa. Saya dan Ray masih bermain di luar rumah. Entah bagaimana saya tiba-tiba ngambek. Dan saat ditanya ada apa, saya yang semula tidak bersuara malah menangis kencang. Bude dan sepupu saya bingung. Dan saya masih ingat saya menunjuk kakak saya sebagai penyebab tangis saya. Saya menuduhnya melempari saya dengan tanah. Padahal saat itu pun saya sendiri bingung mengapa saya tiba-tiba menangis.

Saya dibujuk untuk diam dan dibawa masuk ke rumah karena hari mulai gelap. Tapi suasana hati saya masih suram. Saya benar-benar tidak berminat pada apa pun saat itu, meski saya ditawari berbagai macam hiburan untuk menghentikan tangis dan ngambek saya.

“Iya, besok kita pulang.” Begitu bujuk Bude.

Itulah hari pertama yang saya lalui di kampung halaman bapak saya. Baca lebih lanjut

Phopay si Pelaut

15 Nov

Saya akui… pola pikir saya tentang nikah agak sedikit kolot. Di jaman ini, saya masih memegang prinsip kalau istri ikut ke mana suami ditugaskan. Bahkan saya mengkondisikan diri saya agar bisa seperti itu.

Saat teman2 berlomba2 melamar kerja di Bank, atau menjadi PNS di salah satu dinas… saya justru tidak berambisi kepada karir. Meski saya beberapa kali dibujuk untuk masuk ke suatu dinas tertentu karena ada om atau sepupu yang memiliki koneksi di sana, saya masih tidak bergeming.

Bagi saya… rumah adalah pusat saya beraktivitas, termasuk dalam hal rezeki. Rumah bukan hanya sebagai tempat persinggahan untuk sekedar melepas lelah lalu pergi lagi. Kemudian pulang kembali dengan membawa sisa tenaga. Dan sisa tenaga itu lah yang akan dibagi lagi untuk keluarga. Benar2 melelahkan hidup seperti itu. Lalu kapan waktu untuk menikmati nyamannya rumah jika fungsinya hanya seperti “hotel”?

Karena saya telah mengkondisikan diri saya… saya pun telah beberapa kali mengukur kemampuan saya tentang situasi terburuk yang akan saya hadapi.

Terbiasa menggunakan peralatan elektronik yang memudahkan pekerjaan, terbiasa berada di lingkungan yang mudah dan serba dekat dengan akses pendidikan, hiburan, dan belanja, terbiasa dengan adanya koneksi internet… maka kemungkinan terburuk yang pernah saya pikirkan adalah ketika saya mendapat pasangan hidup yang tiba2 ditugaskan di daerah terpencil, minim sarana dan prasarana, gak ada listrik, harus masak dengan peralatan seadanya dan manual pula karena gak ada listrik, dan yang memperburuk semua itu adalah tidak adanya signal. Lengkap sudah penderitaan.

Maka… saya mengukur kemampuan saya… mampukah saya bertahan dengan kondisi itu?  Saya mungkin akan menangis berhari-hari dan mengeluhkan apa pun yang tidak ada. Namun… mengejutkan, saya rasa saya bisa melaluinya. Karena saya tahu… saya tidak akan sendiri. Akan ada bahu yang bisa saya sandari. Kami akan melaluinya. Kami akan saling menguatkan. Baca lebih lanjut

Kerinduan Seorang Kakak

5 Mar

Hora ashimoto wo mitegoran. Kore ga anata no ayumu michi. Hora mae wo mitegoran. Are ga anata no mirai….


Tidurku terhentak seketika. Lagu Mirai terdengar pertanda ada pesan masuk. Siapa tengah malam ini sms? Tanganku meraba-raba dimana letak HP itu. Dari Asni. Ada apa, ya? Beberapa hari ini ia memang sedang sakit. Segera kubuka sms itu.

kadang-kadang ku sms kakak, kadang-kadang tidak … kadang-kadang ku telepon kakak, kadang ku lupa … tapi jangan risau, berapa banyak pun kadang-kadangnya, Kakak Nur tetap kakak-ku, bukan untuk kadang-kadang tapi untuk selamanya … ^_^  (16-Okt-08 dikirim 23:25 wita)

Napasku sesak oleh keharuan yang tiba-tiba menyelusup ke hati. Asni bukanlah adik kandungku. Dia adik tingkat di kampus. Dia hanya salah satu adik dari beberapa adik-adik manis yang kutemukan dalam perjalanan kehidupan ini. baca selengkapnya

Cinta dan Sayang

4 Mar

Cinta dan Sayang. Hmmm… dua kata ini bagai saudara kembar. Serupa tapi tak sama. Tak terpisahkan. Namun sayang, banyak yang salah persepsi dengan kedua kata tersebut. Pada situasi ini tentu sangat membingungkan. Mana arti dan makna sebenarnya dari kedua kata itu. Maka marilah kita kembalikan pada arti dan makna kedua kata itu pada bahasa aslinya. Bahasa tertua di dunia, yaitu bahasa Arab.

“Di antara tanda-tanda (kemahaan-Nya) adalah Dia telah menciptakan dari jenismu (manusia) pasangan-pasangan agar kamu memperoleh sakinah disisinya, dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kemahaan-Nya) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum:21)

Tentu, sudah sering kita mendengar kata sakinah, mawaddah, dan rahmah. Betapa sering ketiga kata ini diucapkan buat pasangan yang baru menikah. Meski hanya membahas cinta dan sayang, tapi kita tidak dapat mengabaikan keberadaan sakinah yang menjadi awal dari mawaddah dan rahma. baca selengkapnya