Tag Archives: cerita mini

[#CerMin] Tiket

21 Mei

Hujan yang tiba-tiba mengguyur memaksa mereka menepi. Awan memarkir motornya di dekat warung pinggir jalan yang masih buka. Dia lalu mengambilkan kursi buat Rani sedang dia memilih duduk di balok kayu yang ada di depan warung. Mereka saling diam. Hanya menatap rintik hujan yang makin deras.

Pemilik warung datang. Awan memberi tanda bahwa mereka hanya singgah berteduh.

Tak ada uang tersisa di sakunya. Uang terakhir yang dia miliki telah dipakai untuk membeli bensin.

Awan menghela napas berat. Selama dua minggu dia korbankan waktu luangnya sepulang sekolah untuk bekerja di toko kelontong milik pamannya agar bisa membeli dua tiket konser Ungu.

Dia ingat bagaimana mata Rani berbinar saat dia memperlihatkan dua tiket itu.

“Boleh aku yang pegang?”

Awan mengangguk. Dia senang melihat Rani bahagia. Namun, kini mata Rani sembab.

Awan menoleh saat mendengar Rani bersin. Dia melepas sweaternya.

“Pakai ini!”

Rani menggeleng.

“Kamu kedinginan.”

“Kamu sendiri bagaimana?”

“Aku bisa menahannya. Lagi pula aku laki-laki.”

Rani menerima sweater hitam itu. Tak hirau bagaimanapun buluknya, tapi sweater itu menghangatkannya. Rani menatap punggung Awan yang kembali duduk di balok kayu. Dia tahu, sekecewa apapun Awan padanya, bukan berarti Awan tak peduli lagi padanya.

“Maaf.”

Awan hanya diam.

“Seharusnya aku tidak menghilangkan tiket itu.”

***

Iklan

[#CerMin] Wangi yang Sama

14 Mei

Gelisah.

Hari ini adalah pertemuan yang akan menentukan kelanjutan hubunganku dengan Yoga, duda beranak satu. Yoga telah meluluhkan hati Ibu yang menentang hubungan kami karena statusnya itu. Kini, giliranku untuk mengambil hati anak semata wayangnya.

Di pintu masuk kulihat Yoga melambaikan tangan. Di sampingnya seorang anak berseragam TK. Aku gugup. Bagaimana kalau Tisya tidak menyukaiku? Bagaimana kalau dia takut memiliki ibu tiri?

Tisya menatapku lama. Setelah diingatkan ayahnya, Tisya mencium punggung tanganku.

Makan siang itu berlalu dengan canggung. Tisya sering mencuri pandang padaku.

“Ada yang mau Tisya katakan?” tanyaku ketika ia memandangku lagi.

“Tante harum banget.”

Aku bertatapan dengan Yoga. Lalu kembali menoleh ke Tisya.

“Tisya suka?”

“Iya. Wangi tante mengingatkan Tisya pada bunda.”

Lagi-lagi aku bertatapan dengan Yoga.  Apa maksudnya? Yoga menggeleng.

Aku menghela nafas. Mudah-mudahan ini reaksi positif Tisya akan hubunganku dengan ayahnya.

Sebelum berpisah…

“Boleh Tisya peluk tante?”

Yoga menatapku lalu mengangguk. Senyumnya terkembang.

“Boleh.” Kuusap rambut panjang Tisya. “Menurut Tisya, wangi tante kayak apa?”

“Dulu… Tisya mencium wangi yang sama setiap dekat dengan bunda. Tisya suka.”

“Tisya ingin mencium wangi yang sama lagi setiap hari?” Kali ini Yoga bertanya.

Tisya mengangguk. Wajahku menegang.

Di kamar…

Kupandangi parfum aroma green tea. Pantas saja Yoga menghadiahkanku parfum itu.

***

Jumlah kata: 200/200

Ditulis ulang dari FF saya dengan judul yang sama 😀

[#CerMin] Bidadari

8 Mei

Pukul dua. Arif tiba-tiba terbangun. Dia bermimpi tentang Mila, istrinya. Mila hanya menatapnya dari jauh. Tanpa kata. Tapi dari matanya seakan memintanya segera pulang. Arif mengusap wajahnya resah. Dia telepon istrinya. Berkali tanpa ada jawaban.

Apakah sudah waktunya lahir?

Paginya, mimpi semalam menguap begitu saja ketika Arif kembali berjibaku dengan adonan pasir, semen, dan air. Kemudian dia akrab dengan susunan bata merah yang makin tinggi. Terik matahari yang beranjak naik membuat tubuhnya mengilat oleh keringat.

Istirahat siang, masuk sebuah sms. Keresahannya semalam kembali menyeruak. Mila masuk rumah sakit! Pada mandor, dia minta izin pulang kampung. Dia hanya minta gajinya selama kerja.

Perjalanan dua jam serasa ditempuh empat jam. Depan lorong, dia dijemput adik iparnya dan langsung dibawa ke rumah sakit kabupaten. Dari jendela, dia hanya bisa menatap Mila yang berjuang melahirkan anak pertama mereka. Bertahan, sayang!

Senyum Arif atas kelahiran jagoannya tak lama. Pendarahan hebat membuat mata sayu Mila perlahan tertutup seiring dengan hembusan nafas terakhir. Begitu tipisnya perbedaan kebahagiaan dan kesedihan.

“Mila!”

Mila yang sedang menapaki tangga, menoleh. Pakaiannya indah bersinar. Memakai tiara tingkat tiga di kepalanya. Dia tersenyum, cantik. Bagai bidadari.

Arif lagi-lagi terbangun. Mengusap wajah. Resahnya hilang. Setidaknya dia yakin, Mila mendapat tempat terbaik di sana.

***

 

[#CerMin] Mengenangmu dalam Hening

30 Apr

Mengenangmu dalam Hening

#CerminBentang Minggu 1. Tema: Kopi/Coffee

Ditulis oleh:  @nurusyainie

Tepat seminggu setelah kepergianmu. Sakitku masih berdarah. Kehilanganmu masih membuatku limbung. Jiwaku masih belum menerima sepenuhnya. Semua begitu tiba-tiba. Tanpa firasat, tanpa tanda.

Sore itu, aku menunggumu seperti biasa. Aku gelisah saat melewati jam pulangmu. Jemputan mobil pabrik yang membawaku ke rumah sakit, menjawab tanya dihatiku tentang keterlambatanmu, sekaligus memberi kenyataan pahit. Aku kehilanganmu karena sesuatu yang dinamakan serangan jantung.

Hari ini aku mengumpulkan semua benda milikmu. Aku berhenti pada seragam biru yang terakhir kamu pakai. Aroma kopi masih melekat. Kuhirup dalam-dalam wangi itu. Kupeluk erat seakan memeluk dirimu.

Aroma kopi selalu mengingatkanku padamu. Setiap pulang kerja, kamu membawa dua bungkus kopi instan dari tempatmu bekerja di pabrik kopi. Lalu kita akan menikmatinya sambil menatap sunset dalam diam. Sesekali aku mencuri pandang ke arahmu. Pandangan yang membuatku jatuh cinta berulang kali.

Pertama kali, aku pernah bertanya tentang kebiasaanmu itu.

“Kopi, sunset, dan hening. Aku menyukai perpaduan ketiga hal itu.”

“Lalu, aku berada di mana?” protesku.

Kamu menoleh, lalu tersenyum. “Senja, kehadiranmu menyempurnakan ketiga hal itu.”

Pendar mentari sore membuatku makin rindu. Kusampirkan seragammu dan berjalan ke dapur.

Kuseduh secangkir kopi lalu membawanya ke beranda. Perlahan kuhirup. Mataku tak lepas memandang warna jingga di ufuk barat. Aku ingin mengenangmu dalam hening.

***

Bantu vote Cerita Mini ini agar menjadi Cermin of the Month (April 2013) ya teman-teman :Dwaktunya tinggal 2 hari
Caranya klik di sini. Setelah klik link, liat di kanan atas. Pilih: Mengenangmu dalam Hening – @nurusyaine

Makasih ya ^.^

[#CerMin] Omar

29 Apr

Kamera SLR masih menggantung di leherku. Aku baru saja memotret dua bocah, Yassin dan Amal. Mereka begitu manis dan masih terlalu kecil untuk menyadari situasi mencekam yang ada di sekitar mereka. Sebagai wartawan yang dikirim ke Myanmar -tepatnya di utara Rakhine di mana banyak etnis Rohingya berdiam- aku banyak menemukan fakta yang hampir sama dengan yang aku dengar. Kenyataannya bahkan lebih parah!

Keadaan mereka sangat memprihatinkan. Kemiskinan seolah menjadi denyut nadi yang tiada habisnya. Sepanjang mata memandang banyak bangunan dan lahan pertanian yang rusak. Sebagian tinggal di puing runtuhan rumah, sebagian tinggal di tenda-tenda bantuan negara lain.

Dari hasil berbincang dengan Omar, salah seorang penduduk yang menjawab dengan bahasa Inggris seadanya, aku mengetahui bahwa mereka dianggap imigran gelap oleh pemerintah. Akses pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan layak tertutup bagi mereka. What? Bagaimana mungkin ada suatu etnis yang berdiam puluhan bahkan ratusan tahun di salah satu Negara Bagian di Myanmar, tidak diakui sebagai warga negara dan hak-haknya tak terpenuhi?

Baca lebih lanjut

Saudaraku dan Ayahku

2 Mar

Setelah menempuh perjalanan panjang, Noura akhirnya berdiri di sebuah kantor besar. Dibagian depan terpampang papan nama, Simon Black & partners.
“Tuan Black telah menunggu Anda.”

orang2an

Simon mempersilahkan seorang gadis masuk ke ruang kerjanya.  Dari penampilannya yang lusuh, sepertinya gadis ini telah berjalan cukup jauh untuk tiba di kantornya. Dia sepertinya butuh bantuan hukum, pikirnya sesaat sebelum mempersilahkan gadis itu duduk.

Noura menatap lelaki di depannya yang masih membaca surat mendiang ibunya yang barusan dia berikan. Lelaki itu membaca sejenak lalu mengangkat kepalanya.
“Anda salah minta bantuan ke sini, nona Noura. Seharusnya Anda ke kantor polisi untuk melaporkan orang hilang.”
Noura masih menatap lekat lelaki itu. Mata coklat itu… rambut bergelombang itu…
“Saya rasa, Anda saudara saya Tuan Black!” kata Noura mengagetkan lelaki itu.

Baca lebih lanjut