Tag Archives: fiksi

Prompt #29: 27 Maret

11 Okt

Aku masih berkutat dengan pembukuan saat bel berbunyi. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa yang barusan masuk. Aku mengernyitkan kening. Seorang wanita memakai terusan tebal dan memakai kacamata hitam serta penutup kepala. Dia sepertinya bukan pengutil yang harus diawasi.

Aku kembali menekuri angka-angka di depanku. Bulan lalu, toko buku ini mengalami kerugian hingga Nadine harus diberhentikan. Mr. Xavier masih mempertahankanku karena aku bisa mengerjakan pembukuan sekaligus melayani pembeli, menggantikan Nadine. Pekerjaan bertambah tapi dengan gaji tetap. Tentu saja aku tidak berani meminta tambahan gaji. Aku sangat tahu pendapatan toko buku ini. Orang-orang lebih sering memasuki restoran dari pada toko buku kecil yang berada di salah satu sudut bandara ini.

Kalau bulan ini tidak ada peningkatan, aku khawatir Mr. Xavier akan menutup toko ini dan aku akan menjadi pengangguran.

“Permisi.”

Aku mendongak dan melihat wanita itu melepas kacamata hitamnya.

“Ada yang bisa aku bantu?”

“Aku mencari buku Saat Engkau Tak Bahagia dengan Pekerjaanmu.”

Hah?! Apa wanita ini sedang menyindirku?

“Buku apa?” Aku tak yakin dengan pendengaranku.

Wanita itu menyebut sekali lagi.  Aku bengong sesaat. Meski tidak yakin buku itu ada di sini karena Nadine yang lebih hapal judul dan letak buku, tapi kakiku melangkah ke arah rak yang berlabel Ekonomi Keuangan.

Baca lebih lanjut

[Fiksi] Terasing

24 Jul

Warna-warni kertas melintang di plafon. Balon aneka warna pun ditempatkan di setiap sudut. Meja telah merapat ke tembok dan diberi taplak baru. Satu persatu perempuan muda menyajikan makanan di meja itu. Menatanya seindah mungkin.

Dari kursi roda, kulihat cucuku dengan gaun putih berenda menghampiriku.

“Kita ke rumah sebelah saja, ya, Oma.”

Ini bukan pertama kalinya aku diasingkan saat ada acara di rumah ini.

banner-kontes-unggulan-63-300x214

[Fiksi] Sehari Sebelum Ramadhan

11 Jul

“Kami sekeluarga akan umroh.”

Tya menoleh ke arah Nuri. Ia tersenyum senang dengan rencana Ramadhan rekan kerjanya itu.

“Kamu sendiri bagaimana?”

Tya gelagapan. “Eh, belum ada rencana.” Ia meringis.

“Biasanya kalian punya…” Nuri tiba-tiba berhenti. “Oh, maaf. Saya lupa.”

“Nggak apa-apa.”

Tya pulang dengan langkah gontai. Dia memang tidak memiliki rencana apapun. Ramadhan kali ini adalah Ramadhan pertama yang akan dia lalui tanpa Adam.  Baca lebih lanjut

[BeraniCerita #19] Anak Jalanan

11 Jul

Aku tak pernah berlama-lama menatap wajah anak-anak itu. Bagiku, mereka seperti mimpi buruk yang selama ini coba kuhapus. Selalu menyesakkan.

Mereka tak mengerti dengan penolakanku. Masih saja berdiri di sisi jendela mengharap aku membukanya. Kualihkan pandanganku pada traffic light di perempatan MT. Haryono, menunggu lampu merah segera berganti hijau.

Hembusan angin dari samping membuatku menoleh. Wajahku makin masam. Anggi lagi-lagi membuka jendela dan memberikan beberapa lembar rupiah kepada tangan-tangan kecil itu.

Anggi nyengir saat menangkap pandangan tak sukaku. “Kasihan mereka.”

***

Kulambatkan laju mobil saat dari jauh aku melihat lampu masih merah. Aku berharap tiba di perempatan pada waktu yang tepat hingga tak perlu terjebak dalam kerumunan anak-anak itu.

Kuikuti hitungan mundur lampu merah ke hijau. 3… 2… 1…

Segera kuinjak gas.

Belum lagi aku melewati traffic light, decit dan benturan yang memekakkan telinga membuat semua tiba-tiba berhenti. Kakiku otomatis menginjak rem. Aku keluar melihat apa yang terjadi.

zebracross

Tepat di zebra cross,  kulihat tubuh seorang anak menggelepar, lalu diam.

“Apa anak itu mati, Pa?” Anggi telah ada di sampingku.
“Masuk Anggi!”
“Apa dia mati?”
“Papa tidak tahu. Sebaiknya kamu masuk!”
“Mengapa tidak ada yang menolong? Tolong dia, Pa.” Anggi memohon. Wajahnya telah penuh air mata.

***

“Mas terlambat!” Sarah menyambut dengan wajah cemberut. “Kan, mas tahu, mobil akan saya pakai setelah mas menjemput Anggi.”

Aku diam. Sama seperti yang biasa aku lakukan saat Sarah mengomel. Namun kali ini aku gelisah. Aku masih memikirkan kejadian tadi. Anak itu…

Kuusap wajahku. Karena Sarah, aku menghapus masa laluku. Sarah tak pernah dan tak perlu tahu. Aku malu. Malu mengakui bahwa aku pernah menjadi bagian dari mereka. Anak-anak jalanan itu.

***

[#CerMin] Tiket

21 Mei

Hujan yang tiba-tiba mengguyur memaksa mereka menepi. Awan memarkir motornya di dekat warung pinggir jalan yang masih buka. Dia lalu mengambilkan kursi buat Rani sedang dia memilih duduk di balok kayu yang ada di depan warung. Mereka saling diam. Hanya menatap rintik hujan yang makin deras.

Pemilik warung datang. Awan memberi tanda bahwa mereka hanya singgah berteduh.

Tak ada uang tersisa di sakunya. Uang terakhir yang dia miliki telah dipakai untuk membeli bensin.

Awan menghela napas berat. Selama dua minggu dia korbankan waktu luangnya sepulang sekolah untuk bekerja di toko kelontong milik pamannya agar bisa membeli dua tiket konser Ungu.

Dia ingat bagaimana mata Rani berbinar saat dia memperlihatkan dua tiket itu.

“Boleh aku yang pegang?”

Awan mengangguk. Dia senang melihat Rani bahagia. Namun, kini mata Rani sembab.

Awan menoleh saat mendengar Rani bersin. Dia melepas sweaternya.

“Pakai ini!”

Rani menggeleng.

“Kamu kedinginan.”

“Kamu sendiri bagaimana?”

“Aku bisa menahannya. Lagi pula aku laki-laki.”

Rani menerima sweater hitam itu. Tak hirau bagaimanapun buluknya, tapi sweater itu menghangatkannya. Rani menatap punggung Awan yang kembali duduk di balok kayu. Dia tahu, sekecewa apapun Awan padanya, bukan berarti Awan tak peduli lagi padanya.

“Maaf.”

Awan hanya diam.

“Seharusnya aku tidak menghilangkan tiket itu.”

***

[#CerMin] Wangi yang Sama

14 Mei

Gelisah.

Hari ini adalah pertemuan yang akan menentukan kelanjutan hubunganku dengan Yoga, duda beranak satu. Yoga telah meluluhkan hati Ibu yang menentang hubungan kami karena statusnya itu. Kini, giliranku untuk mengambil hati anak semata wayangnya.

Di pintu masuk kulihat Yoga melambaikan tangan. Di sampingnya seorang anak berseragam TK. Aku gugup. Bagaimana kalau Tisya tidak menyukaiku? Bagaimana kalau dia takut memiliki ibu tiri?

Tisya menatapku lama. Setelah diingatkan ayahnya, Tisya mencium punggung tanganku.

Makan siang itu berlalu dengan canggung. Tisya sering mencuri pandang padaku.

“Ada yang mau Tisya katakan?” tanyaku ketika ia memandangku lagi.

“Tante harum banget.”

Aku bertatapan dengan Yoga. Lalu kembali menoleh ke Tisya.

“Tisya suka?”

“Iya. Wangi tante mengingatkan Tisya pada bunda.”

Lagi-lagi aku bertatapan dengan Yoga.  Apa maksudnya? Yoga menggeleng.

Aku menghela nafas. Mudah-mudahan ini reaksi positif Tisya akan hubunganku dengan ayahnya.

Sebelum berpisah…

“Boleh Tisya peluk tante?”

Yoga menatapku lalu mengangguk. Senyumnya terkembang.

“Boleh.” Kuusap rambut panjang Tisya. “Menurut Tisya, wangi tante kayak apa?”

“Dulu… Tisya mencium wangi yang sama setiap dekat dengan bunda. Tisya suka.”

“Tisya ingin mencium wangi yang sama lagi setiap hari?” Kali ini Yoga bertanya.

Tisya mengangguk. Wajahku menegang.

Di kamar…

Kupandangi parfum aroma green tea. Pantas saja Yoga menghadiahkanku parfum itu.

***

Jumlah kata: 200/200

Ditulis ulang dari FF saya dengan judul yang sama 😀

[#CerMin] Bidadari

8 Mei

Pukul dua. Arif tiba-tiba terbangun. Dia bermimpi tentang Mila, istrinya. Mila hanya menatapnya dari jauh. Tanpa kata. Tapi dari matanya seakan memintanya segera pulang. Arif mengusap wajahnya resah. Dia telepon istrinya. Berkali tanpa ada jawaban.

Apakah sudah waktunya lahir?

Paginya, mimpi semalam menguap begitu saja ketika Arif kembali berjibaku dengan adonan pasir, semen, dan air. Kemudian dia akrab dengan susunan bata merah yang makin tinggi. Terik matahari yang beranjak naik membuat tubuhnya mengilat oleh keringat.

Istirahat siang, masuk sebuah sms. Keresahannya semalam kembali menyeruak. Mila masuk rumah sakit! Pada mandor, dia minta izin pulang kampung. Dia hanya minta gajinya selama kerja.

Perjalanan dua jam serasa ditempuh empat jam. Depan lorong, dia dijemput adik iparnya dan langsung dibawa ke rumah sakit kabupaten. Dari jendela, dia hanya bisa menatap Mila yang berjuang melahirkan anak pertama mereka. Bertahan, sayang!

Senyum Arif atas kelahiran jagoannya tak lama. Pendarahan hebat membuat mata sayu Mila perlahan tertutup seiring dengan hembusan nafas terakhir. Begitu tipisnya perbedaan kebahagiaan dan kesedihan.

“Mila!”

Mila yang sedang menapaki tangga, menoleh. Pakaiannya indah bersinar. Memakai tiara tingkat tiga di kepalanya. Dia tersenyum, cantik. Bagai bidadari.

Arif lagi-lagi terbangun. Mengusap wajah. Resahnya hilang. Setidaknya dia yakin, Mila mendapat tempat terbaik di sana.

***

 

Prompt #12: Peti Kenangan

6 Mei

Terasa sepi saat satu persatu pelayat meninggalkan rumah. Kucari ibu. Tentu saat ini, ibulah yang paling merasa kehilangan. Kuketuk pintu lalu membuka gerendel.

Ibu membelakangiku. Di depannya ada sebuah peti besar. Peti yang dulu pernah coba kubuka tapi tak pernah berhasil. Dan peti itu kini terbuka lebar!

Ibu menoleh. Matanya berair. Kulihat dia sedang memeluk sesuatu.

“Di peti ini, semua kenangan ibu dan ayah berada.”

Mataku melihat sesuatu. Kuambil dari himpitan barang lain. Aku ingat kisah robot ini hingga harus masuk ke peti.

“Robot ini ayah ambil karena membuat kalian berkelahi karenanya. Ayah akan mengembalikan kalau kalian bisa akur.” Namun, robot itu tak pernah kembali meski aku dan Benny akur.

Tubuhku semakin menjorok ke dalam peti. Semakin ke dalam, makin banyak benda-benda masa lalu yang kembali kuingat.

kondeAku terkejut saat aku secara tak sengaja menyenggol sesuatu yang besar dan menyembul. 

Astaga! Konde? Tapi, siapa yang pakai konde di rumah ini?

“Ini milik Ibu?” Kutarik keluar konde itu. Aaah, pertanyaan yang kemudian kusesali. Satu-satunya perempuan di rumah ini dulunya hanya Ibu. Sebelum istriku dan istri Beny masuk ke dalam keluarga kami.

Ibu mengerutkan kening. Meletakkan foto yang tadi dipeluknya kemudian mengambil konde di tanganku. Ibu menggeleng.

Kami terdiam. Suasana terasa canggung. Kini, pasti menjadi pemikiran ibu dengan kehadiran sebuah konde tak dikenal di peti kenangan keluarga kami.

“Diana. Ini pasti milik Diana.”

Baca lebih lanjut

Prompt #11: Kemarin

5 Mei

“Muti, tunggu!” Aku bergegas saat melihat dia hendak memasuki mobil. “Ada yang ingin aku katakan.”

“Hmmm, aku mau ke Gambir. Ikut aja, yuk! Di perjalanan kamu bisa cerita.”

Begitu duduk di samping Muti, aku gelisah. Bingung harus mulai dari mana.

“Kok diam? Ada apa, sih?” Muti kembali menatap jalanan di depannya.

“Enggg… ini soal Revan.”

“Ohya? Kebetulan. Aku mau bertemu dia.”

“Bertemu… Revan?” Aku menelan ludah.

“Iya. Kemarin sebelum berpisah dia bilang akan menunggu di tempat yang sama. Hari ini dia balik lagi ke Solo.” Mulut Muti manyun. “Padahal masih kangen sudah harus pergi lagi.”

“Kemarin? Aneh.”

“Iya, sih. Kemarin Revan agak aneh. Nggak semesra biasanya. Lebih banyak diam. Biasanya dia akan cerita soal kerjaannya di Solo. Nomornya semalam juga nggak bisa dihubungi.”

Setengah perjalanan, aku lebih banyak diam. Mendengarkan celoteh Muti.

Baca lebih lanjut

[BeraniCerita #09] Pencari Suaka

1 Mei

Aku kaget saat suatu siang mendapati di ruang tamu rumahku, seorang perempuan berkerudung hijau dengan garis wajah India, duduk dengan kelima anak perempuannya.

Tetanggaku, seorang lelaki besar dengan perut buncit, menghampiriku lalu membisikkan sesuatu.

“Hanya sementara. Mereka sedang dikejar pihak Imigrasi.”

Aku mengangguk. Paham apa maksudnya. Sebelum ini, aku sudah sering melihat pria-pria berwajah Timur Tengah berada di rumahnya.

Kuhampiri perempuan itu dan mengajaknya ke ruang tengah.

“India?”

“Bukan, Myanmar.”

Eh?!

“Bisa bahasa Indonesia?”

Sikit. Lama tinggal di Malaysia.”

“Berapa lama?”

“Dua puluh dua tahun.”

Oooo…

“Itu… anak yang paling kecil berapa tahun?”

“Baru dua bulan.”

Heh?! Sekecil itu sudah dibawa mencari suaka? Kupandangi wajah anak-anaknya yang memiliki kecantikan wajah khas India.

Baca lebih lanjut