Arsip | Romance RSS feed for this section

Prompt #7: Hanya Ingin Melihatmu

1 Apr

#James

Lelaki itu lagi! Di kota kecil ini sangat mudah mengenali wajah baru. Lelaki itu melangkah canggung. Dia memegang selembar kartu pos. Kami sempat bertatapan beberapa saat, sebelum lelaki itu menyerahkan kiriman kartu posnya ke Miss Park, rekan sekerjaku.

Sebelum keluar, aku bisa melihat lelaki itu masih mencoba melihatku sebelum menghilang di balik pintu yang perlahan tertutup.

*

image

source: tumblr

#Mike

Aku mengelus rambutnya. Aku berjanji membangunkannya sore nanti.

Love is the sweetest thing. But being bitter when the universe didn’t support our togetherness.

Aku menemukan tulisan itu di diary Sonia yang tak terkunci, setahun setelah pernikahan. Sesuatu yang menjawab tanya mengapa dia kelihatan tak bahagia.

Who is the Man?”

Saat pembicaraan dari hati ke hati, kulihat binar di matanya. Binar untuk lelaki lain. Aku terluka. Harga diriku sebagai lelaki terkoyak! Aku ingin marah. Namun guncangan tubuh Sonia makin keras. Batuknya kali ini mengeluarkan darah. Kulihat tubuhnya begitu lelah, lalu luruh ke pelukanku. Sekaligus meluruhkan amarah ini.

Saat dia tersadar, kugenggam tangannya. Aku tak ingin melepasnya.

If there is a little bit of love for me. Give me, I’ll keep it.

Baca lebih lanjut

Tulang Rusuk Abah

5 Jan

Saat harus mereview tulisan mbak Erry, saya bingung harus mulai dari mana saking banyaknya postingan mbak Erry. Saya lalu menyusuri category yang ada. Saya langsung tertarik pada Moments to Remember karena saya termasuk orang yang suka mengingat hal-hal penting dalam hidup saya.

Saya berhenti pada salah satu judul yang buat saya mengingat sesuatu. Gak langsung membacanya, tapi saya malah membuka folder musik dan mencari-cari lagu Rio Febrian yang berjudul sama, Bertahan.

Reff...
Aku bertahan karna ku yakin cintaku kepadamu
Sesering kau coba tuk mematikan hatiku
Takkan terjadi yang aku tahu kau hanya untukku
Aku bertahan ku akan tetap pada pendirianku
Sekeras kau coba tuk membunuh cintaku
Yang aku tahu kau hanya untukku

 

Mendengar lagu ini kembali, membuat hati bagai diremas-remas, diobrak-abrik kembali, dan membuka luka lama. *Oh, no jangan nangis plisssss…

Lagu ini memang gak se-populer lagu lain yang menduduki tangga lagu sampe berbulan-bulan, tapi lagu ini telah merajai hati saya saat SMA. Bertahan, yah saat itu saya bertahan untuk memberikan hati saya pada seseorang. Namun tak berakhir Happy Ending. Oh, so sad!

Saya telah move on, dan tak mau berlama-lama menangisi mengapa saat itu saya bertahan cukup lama. But, saya gak akan bercerita soal kisah sedih itu. *Ayolah, semua ingin tahu. Oh, forget it! Saya gak akan cerita tentang itu *huuuuu…. #pembaca kecewa Baca lebih lanjut

#Postcardfiction: Dream Come True

31 Des

Kamu baik-baik saja?

Besoknya, Olive akan kembali mengirim pesan yang sama ke semua media sosial yang sering mereka gunakan untuk berkomunikasi. Keesokan harinya lagi, Olive akan melakukan hal yang sama. Begitu seterusnya hingga hari berganti minggu, minggu berganti bulan.

“Semua telah menunggumu.” Ibu menyentuh halus pundak Olive.

Olive menatap nanar pada layar di depannya. Berharap ada keajaiban. Tapi, hingga Ibu menggandeng tangannya, tak ada balasan yang diharapkannya.

Keluarga Jason menyambutnya ramah. Olive memaksakan sebuah senyum manis di acara makan malam itu.

“Saya tidak tahu apa kamu setuju dengan perjodohan ini, “kata Olive saat mereka diberi kesempatan ngobrol berdua. “Tapi saya telah berjanji pada seseorang untuk menunggunya.”

“Ibumu cerita semuanya. Tapi dia sudah….”

“Tidak!” Olive cepat memotong perkataan Jason. “Prima masih hidup. Saya yakin itu!”

“Bukankah kapalnya….”

“Dia masih hidup!”

“Jika tidak?” Baca lebih lanjut

#Postcardfiction: Long Distance Relationship

31 Des

long-distance relationshipSaya tidak berharap banyak, tapi maukah kamu menungguku?
Ya.
Meski kamu tahu kalau pekerjaan saya tak memungkinkan untuk selalu menyapamu setiap hari?
Saya mengerti.

Olive membaca kembali history percakapan mereka di skype sebulan lalu.

Menunggu. Dia tahu bahwa dia bisa menunggu, meski dia tahu pula kalau dia akan menahan rasa rindu begitu besar saat Prima tak menyapanya selama beberapa hari.

Hari ini, beberapa kali dia membuka skype dan berharap Prima online di sana. Tapi lagi-lagi dia menghela nafas. Dia paham sekali. Toh, ini bukan pertama kalinya dan Prima selalu minta maaf saat akhirnya dia bisa online.

“Sorry, baru dapat signal.”

Olive selalu bergurau dengan mengatakan, “Makanya, kalau beli hp, jangan lupa beli dengan signalnya.”

“Kalau perlu, saya beli dengan towernya sekalian.”

Lalu mereka akan tertawa bersama. Tawa riang mereka mencairkan kebekuan yang selalu hadir di awal percakapan. Baca lebih lanjut

#Postcardfiction: Move On

22 Des

titanic

Keramaian itu membuatnya sesak. Membawa kakinya terus melangkah. Olive berhenti di samping kapal besar yang tengah sandar di dermaga. Dia memandang dengan takjub. Sejak nonton Titanic, dia terobsesi pada salah satu adegan favoritnya saat Rose dan Jack berada di ujung kapal. Mereka bagai terbang. Bebas. Dan Olive ingin sekali merasakan hal itu.

“Kamu ingin masuk?” Darrel tiba-tiba muncul di hadapannya.

Belum sempat menjawab, Olive merasakan tangannya ditarik Darrel memasuki kapal besar itu. Mereka berlari… tertawa riang saat berhasil mengecoh salah satu ABK. Olive terjatuh di salah satu anak tangga. Darrel cepat meraih pinggangnya sebelum dia jatuh menyentuh lantai. Olive melepas sepatunya. Sekali lagi mereka berlari… tertawa riang.

Beberapa kali mereka salah masuk. Salah satu ABK meneriaki mereka yang melihatnya berganti pakaian. Beberapa ABK yang sedang main kartu, bengong saat Olive dan Darrel melintas di hadapan mereka. Beberapa kali pula mereka menemukan jalan buntu. Lalu, sekali lagi mereka berlari… tertawa riang.

Olive menahan nafas saat mereka tiba di haluan kapal. Takjub melihat pemandangan laut yang begitu luas di lihat dari atas. Perlahan dia mulai menaiki satu dua terali. Dia memejamkan mata dan merentangkan tangannya. Hawa sejuk segera memenuhi paru-parunya. Darrel melambai padanya. Baca lebih lanjut

Lelaki Pertama

1 Des

Dia adalah lelaki pertama dalam hidup saya. Dia juga lelaki pertama yang mendapatkan cinta saya. Lelaki sederhana yang memandang hidup ini secara sederhana pula, hingga tiada kerumitan padanya.

Lelaki pertamaku itu memiliki kesabaran luar biasa hingga saya sering bertanya, seluas apakah hati lelaki itu hingga dapat menampung semua hal termasuk kekecewaan yang sering saya timbulkan padanya.
Tak pernah sekalipun saya mendengar teriakan amarahnya. Dia begitu diam. Saya kadang mengira, dia pun menyimpan amarahnya dalam diam. Baca lebih lanjut

Phopay si Pelaut

15 Nov

Saya akui… pola pikir saya tentang nikah agak sedikit kolot. Di jaman ini, saya masih memegang prinsip kalau istri ikut ke mana suami ditugaskan. Bahkan saya mengkondisikan diri saya agar bisa seperti itu.

Saat teman2 berlomba2 melamar kerja di Bank, atau menjadi PNS di salah satu dinas… saya justru tidak berambisi kepada karir. Meski saya beberapa kali dibujuk untuk masuk ke suatu dinas tertentu karena ada om atau sepupu yang memiliki koneksi di sana, saya masih tidak bergeming.

Bagi saya… rumah adalah pusat saya beraktivitas, termasuk dalam hal rezeki. Rumah bukan hanya sebagai tempat persinggahan untuk sekedar melepas lelah lalu pergi lagi. Kemudian pulang kembali dengan membawa sisa tenaga. Dan sisa tenaga itu lah yang akan dibagi lagi untuk keluarga. Benar2 melelahkan hidup seperti itu. Lalu kapan waktu untuk menikmati nyamannya rumah jika fungsinya hanya seperti “hotel”?

Karena saya telah mengkondisikan diri saya… saya pun telah beberapa kali mengukur kemampuan saya tentang situasi terburuk yang akan saya hadapi.

Terbiasa menggunakan peralatan elektronik yang memudahkan pekerjaan, terbiasa berada di lingkungan yang mudah dan serba dekat dengan akses pendidikan, hiburan, dan belanja, terbiasa dengan adanya koneksi internet… maka kemungkinan terburuk yang pernah saya pikirkan adalah ketika saya mendapat pasangan hidup yang tiba2 ditugaskan di daerah terpencil, minim sarana dan prasarana, gak ada listrik, harus masak dengan peralatan seadanya dan manual pula karena gak ada listrik, dan yang memperburuk semua itu adalah tidak adanya signal. Lengkap sudah penderitaan.

Maka… saya mengukur kemampuan saya… mampukah saya bertahan dengan kondisi itu?  Saya mungkin akan menangis berhari-hari dan mengeluhkan apa pun yang tidak ada. Namun… mengejutkan, saya rasa saya bisa melaluinya. Karena saya tahu… saya tidak akan sendiri. Akan ada bahu yang bisa saya sandari. Kami akan melaluinya. Kami akan saling menguatkan. Baca lebih lanjut

Kerinduan Seorang Kakak

5 Mar

Hora ashimoto wo mitegoran. Kore ga anata no ayumu michi. Hora mae wo mitegoran. Are ga anata no mirai….


Tidurku terhentak seketika. Lagu Mirai terdengar pertanda ada pesan masuk. Siapa tengah malam ini sms? Tanganku meraba-raba dimana letak HP itu. Dari Asni. Ada apa, ya? Beberapa hari ini ia memang sedang sakit. Segera kubuka sms itu.

kadang-kadang ku sms kakak, kadang-kadang tidak … kadang-kadang ku telepon kakak, kadang ku lupa … tapi jangan risau, berapa banyak pun kadang-kadangnya, Kakak Nur tetap kakak-ku, bukan untuk kadang-kadang tapi untuk selamanya … ^_^  (16-Okt-08 dikirim 23:25 wita)

Napasku sesak oleh keharuan yang tiba-tiba menyelusup ke hati. Asni bukanlah adik kandungku. Dia adik tingkat di kampus. Dia hanya salah satu adik dari beberapa adik-adik manis yang kutemukan dalam perjalanan kehidupan ini. baca selengkapnya

Cinta dan Sayang

4 Mar

Cinta dan Sayang. Hmmm… dua kata ini bagai saudara kembar. Serupa tapi tak sama. Tak terpisahkan. Namun sayang, banyak yang salah persepsi dengan kedua kata tersebut. Pada situasi ini tentu sangat membingungkan. Mana arti dan makna sebenarnya dari kedua kata itu. Maka marilah kita kembalikan pada arti dan makna kedua kata itu pada bahasa aslinya. Bahasa tertua di dunia, yaitu bahasa Arab.

“Di antara tanda-tanda (kemahaan-Nya) adalah Dia telah menciptakan dari jenismu (manusia) pasangan-pasangan agar kamu memperoleh sakinah disisinya, dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kemahaan-Nya) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum:21)

Tentu, sudah sering kita mendengar kata sakinah, mawaddah, dan rahmah. Betapa sering ketiga kata ini diucapkan buat pasangan yang baru menikah. Meski hanya membahas cinta dan sayang, tapi kita tidak dapat mengabaikan keberadaan sakinah yang menjadi awal dari mawaddah dan rahma. baca selengkapnya

Saat Cinta dan Sayangku Engkau Pertanyakan

23 Feb

Kecelakaan fatal itu merubah segalanya. Alan yang gagah, enerjik, tiba-tiba harus menerima kenyataan duduk dikursi roda untuk selamanya. Depresi adalah temannya kini. Terutama saat dia menerima kenyataan dipensiundinikan oleh perusahaan yang selama ini telah turut dia besarkan.

Perilakunya mulai berubah. Dia akan menutup pintu buat teman yang datang berkunjung. Dia tidak tahan melihat tatapan iba teman-temannya. Bahkan terhadap Sarah, istrinya, dia pun mulai berlaku kasar. Hal yang tidak dia lakukan saat masih sehat.

“Saya bisa melakukannya sendiri!” Dia menepis tangan Sarah saat mencoba membantunya berpindah dari tempat tidur ke kursi roda.

“Saya bukan bayi!” Dia membentak saat Sarah membantunya memakaikan kemeja.

Hal itu terjadi setiap hari sejak kepulangan Alan dari Rumah sakit. Namun Sarah tetap telaten merawat suaminya.

“Kamu tidak usah bertahan bersamaku. Kalau kamu mau pergi… pergilah!” kata Alan suatu hari, saat suasana hatinya lebih tenang.

Sarah terkejut. “Maksud abang?”

“Tidak ada masa depan bila tetap bersama saya.”

“Abang menjatuhkan talak?” Sarah menangis sesengukkan.

“Tidak… maksud saya…”

“Abang telah menyiratkan hal itu. Sarah tidak pernah berpikir untuk meninggalkan abang… dulu ataupun saat ini.”

“Kamu masih mencintai abang, Sarah?”

Sarah mengangguk. “Sarah cinta dan sayang sama abang. Tidak mungkin Sarah ninggalin abang. Bersama abang, memang tidak semudah dulu. Tapi pergi dari abang pun itu tidak mungkin. Asal masih bersama, Sarah bisa bertahan, bang.”

***

Cinta dan Sayang. Hmmm… dua kata ini bagai saudara kembar. Serupa tapi tak sama. Tak terpisahkan. Namun sayang, banyak yang salah persepsi dengan kedua kata tersebut. Pada situasi ini tentu sangat membingungkan. Mana arti dan makna sebenarnya dari kedua kata itu. Maka marilah kita kembalikan pada arti dan makna kedua kata itu pada bahasa aslinya. Bahasa tertua di dunia, yaitu bahasa Arab.

“Di antara tanda-tanda (kemahaan-Nya) adalah Dia telah menciptakan dari jenismu (manusia) pasangan-pasangan agar kamu memperoleh sakinah disisinya, dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kemahaan-Nya) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum:21)

Tentu, sudah sering kita mendengar kata sakinah, mawaddah, dan rahmah. Betapa sering ketiga kata ini diucapkan buat pasangan yang baru menikah. Meski hanya membahas cinta dan sayang, tapi kita tidak dapat mengabaikan keberadaan sakinah yang menjadi awal dari mawaddah dan rahma.

Sakinah mengandung makna ketenangan.

Sebagai makhluk sosial kita memang diharuskan untuk berinteraksi. Meski, sewaktu-waktu kita merasa senang dalam kesendirian, namun tidak selamanya. Suatu waktu kita butuh seseorang. Kita akan gelisah dalam kesendirian. Kita butuh pasangan yang melengkapi jiwa kita. Maka ketika telah menemukan soulmate, ketenangan itu tercipta.

Mawaddah mengandung arti rasa cinta.

Mawaddah ini muncul karena di dalam hubungan (pernikahan) ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan perasaan tersebut. Kebaikan hati, kejujuran, kerendah hatian, wajah yang rupawan, harta yang berlimpah, serta status sosial, bisa menjadi daya tarik hingga munculnya mawaddah atau cinta.

Namun, rasa cinta ini, sebagaimana sebab hadirnya, dia juga bisa hilang oleh kebalikan dari sebab itu. Saat menemukan sesuatu yang tidak disukai dari pasangan, bisa jadi cinta itu akan terkikis sedikit demi sedikit hingga hilang sama sekali, jika tidak dirawat dan dijaga.

Rahmah mengandung arti rasa sayang.

Rasa sayang kepada pasangan merupakan bentuk kesetiaan dan kebahagiaan yang dihasilkannya. Ya, inilah tingkatan tertinggi.

Saat banyak orang mengagung-agungkan cinta, memuja-muji cinta, sebenarnya dia bisa hilang karena sesuatu sebab. Tetapi sayang, dia akan selalu ada dalam keadaan bagaimana pun. Saat musim semi yang memekarkan warna-warni bunga, atau saat hujan badai sekali pun, sayang akan tetap ada. Sayang, tidak seperti cinta, dia tidak memerlukan syarat tertentu. Bagaimana pun rupa seseorang, bagaimana pun dia, sayang tak pernah beranjak meninggalkan.

Untuk lebih mudahnya dalam memahami, mungkin kita bisa ilustrasikan.

Bagi orang tua, memiliki anak yang sehat, bersih, cantik, gagah, pintar, patuh, tiada kekurangan fisik, tentu menjadi dambaan. Anak-anak seperti itu sangat mudah dicintai. Sangat mudah dibanggakan. Itulah mawaddah.

Tapi memiliki anak yang biasa saja. Yang tidak memiliki prestasi apa pun. Malah lebih sering menyusahkan orang tua. Suatu hari terlibat perkelahian, sehingga orang tua dipanggil ke kantor polisi. Dan si ibu datang menemuinya di penjara dan membebaskannya.

“Mengapa ibu mengeluarkan saya? Bukankah bagi ibu saya menghilang malah lebih baik? Tidak ada lagi yang merepotkan dan membuat malu keluarga.”

“Bagaimana pun kamu… bagaimana pun tidak membanggakannya kamu, kamu tetap anak ibu.”

Nah, inilah yang dinamakan Rahmah.

***

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba di sini