Tag Archives: BBC

Saat Cinta dan Sayangku Engkau Pertanyakan

23 Feb

Kecelakaan fatal itu merubah segalanya. Alan yang gagah, enerjik, tiba-tiba harus menerima kenyataan duduk dikursi roda untuk selamanya. Depresi adalah temannya kini. Terutama saat dia menerima kenyataan dipensiundinikan oleh perusahaan yang selama ini telah turut dia besarkan.

Perilakunya mulai berubah. Dia akan menutup pintu buat teman yang datang berkunjung. Dia tidak tahan melihat tatapan iba teman-temannya. Bahkan terhadap Sarah, istrinya, dia pun mulai berlaku kasar. Hal yang tidak dia lakukan saat masih sehat.

“Saya bisa melakukannya sendiri!” Dia menepis tangan Sarah saat mencoba membantunya berpindah dari tempat tidur ke kursi roda.

“Saya bukan bayi!” Dia membentak saat Sarah membantunya memakaikan kemeja.

Hal itu terjadi setiap hari sejak kepulangan Alan dari Rumah sakit. Namun Sarah tetap telaten merawat suaminya.

“Kamu tidak usah bertahan bersamaku. Kalau kamu mau pergi… pergilah!” kata Alan suatu hari, saat suasana hatinya lebih tenang.

Sarah terkejut. “Maksud abang?”

“Tidak ada masa depan bila tetap bersama saya.”

“Abang menjatuhkan talak?” Sarah menangis sesengukkan.

“Tidak… maksud saya…”

“Abang telah menyiratkan hal itu. Sarah tidak pernah berpikir untuk meninggalkan abang… dulu ataupun saat ini.”

“Kamu masih mencintai abang, Sarah?”

Sarah mengangguk. “Sarah cinta dan sayang sama abang. Tidak mungkin Sarah ninggalin abang. Bersama abang, memang tidak semudah dulu. Tapi pergi dari abang pun itu tidak mungkin. Asal masih bersama, Sarah bisa bertahan, bang.”

***

Cinta dan Sayang. Hmmm… dua kata ini bagai saudara kembar. Serupa tapi tak sama. Tak terpisahkan. Namun sayang, banyak yang salah persepsi dengan kedua kata tersebut. Pada situasi ini tentu sangat membingungkan. Mana arti dan makna sebenarnya dari kedua kata itu. Maka marilah kita kembalikan pada arti dan makna kedua kata itu pada bahasa aslinya. Bahasa tertua di dunia, yaitu bahasa Arab.

“Di antara tanda-tanda (kemahaan-Nya) adalah Dia telah menciptakan dari jenismu (manusia) pasangan-pasangan agar kamu memperoleh sakinah disisinya, dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kemahaan-Nya) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum:21)

Tentu, sudah sering kita mendengar kata sakinah, mawaddah, dan rahmah. Betapa sering ketiga kata ini diucapkan buat pasangan yang baru menikah. Meski hanya membahas cinta dan sayang, tapi kita tidak dapat mengabaikan keberadaan sakinah yang menjadi awal dari mawaddah dan rahma.

Sakinah mengandung makna ketenangan.

Sebagai makhluk sosial kita memang diharuskan untuk berinteraksi. Meski, sewaktu-waktu kita merasa senang dalam kesendirian, namun tidak selamanya. Suatu waktu kita butuh seseorang. Kita akan gelisah dalam kesendirian. Kita butuh pasangan yang melengkapi jiwa kita. Maka ketika telah menemukan soulmate, ketenangan itu tercipta.

Mawaddah mengandung arti rasa cinta.

Mawaddah ini muncul karena di dalam hubungan (pernikahan) ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan perasaan tersebut. Kebaikan hati, kejujuran, kerendah hatian, wajah yang rupawan, harta yang berlimpah, serta status sosial, bisa menjadi daya tarik hingga munculnya mawaddah atau cinta.

Namun, rasa cinta ini, sebagaimana sebab hadirnya, dia juga bisa hilang oleh kebalikan dari sebab itu. Saat menemukan sesuatu yang tidak disukai dari pasangan, bisa jadi cinta itu akan terkikis sedikit demi sedikit hingga hilang sama sekali, jika tidak dirawat dan dijaga.

Rahmah mengandung arti rasa sayang.

Rasa sayang kepada pasangan merupakan bentuk kesetiaan dan kebahagiaan yang dihasilkannya. Ya, inilah tingkatan tertinggi.

Saat banyak orang mengagung-agungkan cinta, memuja-muji cinta, sebenarnya dia bisa hilang karena sesuatu sebab. Tetapi sayang, dia akan selalu ada dalam keadaan bagaimana pun. Saat musim semi yang memekarkan warna-warni bunga, atau saat hujan badai sekali pun, sayang akan tetap ada. Sayang, tidak seperti cinta, dia tidak memerlukan syarat tertentu. Bagaimana pun rupa seseorang, bagaimana pun dia, sayang tak pernah beranjak meninggalkan.

Untuk lebih mudahnya dalam memahami, mungkin kita bisa ilustrasikan.

Bagi orang tua, memiliki anak yang sehat, bersih, cantik, gagah, pintar, patuh, tiada kekurangan fisik, tentu menjadi dambaan. Anak-anak seperti itu sangat mudah dicintai. Sangat mudah dibanggakan. Itulah mawaddah.

Tapi memiliki anak yang biasa saja. Yang tidak memiliki prestasi apa pun. Malah lebih sering menyusahkan orang tua. Suatu hari terlibat perkelahian, sehingga orang tua dipanggil ke kantor polisi. Dan si ibu datang menemuinya di penjara dan membebaskannya.

“Mengapa ibu mengeluarkan saya? Bukankah bagi ibu saya menghilang malah lebih baik? Tidak ada lagi yang merepotkan dan membuat malu keluarga.”

“Bagaimana pun kamu… bagaimana pun tidak membanggakannya kamu, kamu tetap anak ibu.”

Nah, inilah yang dinamakan Rahmah.

***

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba di sini

Gadis Kecilku Bertanya Tentang Cinta

22 Feb
Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli terhadapnya
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya dengan setia
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata , ” Aku turut berbahagia untukmu ”
Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu
Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi
Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya..

***

Siang itu tidak seperti biasanya Tiara pulang dengan wajah tanpa senyum. Setelah memberi salam dia langsung masuk kamar dan aku menunggunya keluar. Apa yang terjadi dengannya? Biasanya pulang sekolah, setelah memberi salam dan mencium tanganku, dia langsung masuk kamar mengganti pakaiannya dan berlari menyusulku ke dapur.

Usai menata makanan, aku mengetuk kamar Tiara.

“Sayang…”

Hening.

Perlahan kubuka pintu. Gadis kecilku berbaring memeluk bonekanya dan masih dengan seragamnya. Terdengar sisa isaknya yang coba disembunyikan dariku. Kusentuh pundaknya.

“Sayang… Apa yang terjadi?” Aku membayangkan dia mengalami hari buruk di sekolah. Apa dia dihukum guru karena tidak mengerjakan pr-nya? Tidak, gadis kecilku sangat perhatian soal pelajaran. Sangat sedikit kemungkinan dia tidak mengerjakan pr. Teringat artikel tentang bullying yang kemarin kubaca. Tapi aku ragu… apa Tiara begitu mudahnya di bully? Dia gadis yang kuat. Dia tidak akan mudah digertak.

“Sayang…” Kubalikkan tubuhnya. Kulihat dia menghapus air matanya. Kubawa dia dalam pelukanku. Dia pasti mengalami hari yang buruk yang tidak bisa kubayangkan. “Coba cerita ke Bunda.”

Gadis kecilku masih terdiam.

“Kalau sekarang kamu tidak ingin cerita ke Bunda, tidak apa-apa. Sebaiknya kita makan.” Kubantu dia melepas seragamnya dan mengganti dengan pakaian sehari-harinya.

Wajah Tiara masih lesu. Kutuangkan sesendok nasi di piringnya.

“Bunda tahu ada sesuatu yang terjadi. Tapi kamu harus makan. Untuk bersedih pun kamu butuh tenaga.” Tiara masih belum menyentuh sendoknya.

“Kamu tahu sayang… tadi Ayah menelpon. Besok Ayah akan pulang.” Kuberharap ada senyum di wajahnya mendengar berita itu. Aku kecewa saat tak menemukannya.

“Baiklah, Tiara. Bunda juga gak akan makan. Bunda akan menemanimu.” Kudorong piring ke tengah meja. Kuberharap dia merubah keputusannya dan segera berbicara.

Kami terdiam. Sesekali kudengar helaan nafas Tiara.

“Bunda…”

“Ya…?”

“Bagaimana rasanya cinta?”

Apa? Kalau tak ada meja tempat aku berpegang, mungkin aku telah terjungkal dari kursi. Pertanyaan macam apa itu? Tidak adakah pertanyaan lain yang bisa keluar dari mulut putriku?

Aku berdehem. “Cinta ya?” Kulihat kursi kosong di sebelah kananku. Darling, aku berharap saat ini kamu ada di sini membantuku menjawab pertanyaan putri kita.

“Apa menyakitkan, Bunda?”

Aku tergagap. Sungguh, aku tidak siap dengan pertanyaan ini. Sekali lagi aku berdehem.

“Sayang… cinta itu agak rumit.”

“Melihat Ayah dan Bunda… kupikir cinta itu membuat bahagia. Tapi mengapa bagi Tiara menyakitkan, Bunda?”

Oh, apakah Tiara sedang jatuh cinta? Usianya belum lagi genap 10 tahun!

“Sayang… dalam kerumitan cinta, terdapat berbagai macam rasa di dalamnya.” Kataku perlahan sambil berharap dia mampu mencerna.

Kutatap mata beningnya. Oh, aku masih tidak percaya hal ini. Tiara masih kecil! Bagaimana bisa aku menjelaskan tentang cinta pada anak seusia ini?

“Saat pertama kali kamu lahir… begitu mungil. Bunda langsung jatuh cinta. Saat itu Bunda bahagia memiliki anugerah terindah. Yaitu kamu Tiara.” Tiara tersenyum.

Apa aku juga harus cerita betapa dagdigdug-nya jantungku saat lelaki yang aku sukai lewat di depanku sambil say hello dan melempar senyum manisnya? Saat lelaki itu mengirim salam lewat teman sebangkuku, serasa aku ingin melompat tinggi hingga ke awan. Saat ada surat merah jambu di laci mejaku tertulis nama lelaki itu sebagai pengirimnya, aku merasa warna pipiku sama dengan warna sampul surat itu.

“Lalu?” Tiara membuyarkan lamunan sesaatku.

“Memiliki kamu, Bunda mengecap banyak rasa cinta. Melihatmu tumbuh dengan sehat, Bunda sangat bahagia. Kamu rajin belajar, pintar di sekolah, berlaku baik terhadap teman-temanmu… itu sungguh kebahagiaan bagi Bunda. Mendengar do’amu diakhir shalat, Bunda menangis bahagia karenanya.”

“Adakah pahitnya, Bunda?” Kutatap lagi mata bening itu. Cintaku masih menari-nari di telaga beningnya.

Teringat kisah Jeng Asih, tetangga sebelah. Dia baru bercerai setelah membangun rumah tangga 5 tahun. Bukan waktu yang singkat memang. Perselingkuhan, rasa dikhianati, hati yang terluka, tangis yang berderai sepanjang malam setelah perceraian itu, emosi yang tidak stabil saat melihat pasangan yang lebih beruntung, kebencian yang sangat terhadap laki-laki yang dulu pernah dia cintai, dan kepercayaan diri yang perlahan memudar dengan status baru.

Lalu kisah mbak Marwah. Wanita lugu yang aku kenal karena sama-sama aktif di Masjid dekat rumah, yang setia menunggu suaminya balik kepadanya setelah lari bersama wanita lain. Ketika aku bertanya mengapa dia tidak minta berpisah dan mencoba kehidupan baru saja, dia hanya berkata bahwa dia masih mencintai lelaki itu meski berdarah-darah. Aku takjub dengan hati wanita itu yang penuh maaf. Aku memahami pilihannya untuk mencintai hingga terluka, meski kadang aku melihatnya dengan iba. Sungguh, dia wanita yang sangat baik.

Ah, haruskan Tiara mengetahui pahitnya cinta yang seperti ini? Aku menggelengkan kepala. Belum saatnya.

“Saat kamu sakit, Bunda ikut merasa sakit.” Suaraku agak serak. Teringat malam-malam yang kulalui saat Tiara demam. “Kamu menangis, Bunda ikut menangis dalam hati. Saat kamu sedih seperti sekarang, Bunda juga ikutan sedih.”

“Bunda, apakah Bunda tahu kalau Tiara kadang kecewa kalau keinginan Tiara tidak dipenuhi?” Aku mengangguk. Terbayang wajah cemberutnya saat dia minta ice cream saat sedang batuk dan aku melarangnya. “Apa Bunda pernah kecewa sama Tiara?”

Aku menerawang. Mencari kecewa itu. Dan kutemukan di suatu sore yang indah, saat aku ingin berjalan-jalan di kompleks rumah ditemani Tiara. Tapi Tiara membiarkanku berjalan sendiri dan lebih memilih bermain sepeda dengan Anggi teman sebayanya. Dan Ayah? Memilih menonton rekaman pertandingan bola yang tidak sempat dia tonton.

“Mungkin pernah.” Akhirnya aku berkata.

“Mengapa mungkin, Bunda?”

“Kekecewaan Bunda tertutupi oleh pengertian. Jadi Bunda anggap kecewa itu hanya sesaat bahkan Bunda lupakan, seolah tak pernah ada. Kamu tahu sayang, cinta juga butuh pengertian. Termasuk ketika Bunda ada kerjaan, Bunda ingin kamu mengerti dengan kesibukan Bunda.”

“Bunda…,” Tiara terdengar ragu-ragu. “Pernahkah Bunda disakiti oleh Ayah?”

Aku sedikit gelagapan. Selama ini pertengkaran kecil dengan Ayah tak pernah kami tunjukkan langsung dihadapan Tiara.

“Mengapa Tiara tanyakan hal ini?”

“Tadi di sekolah….”

“Ya? Ada apa di sekolah?”

“Randy menang kuis dari bu Guru. Dia mendapatkan hadiah penghapus cantik berwarna pink. Dan saat keluar main, Tiara melihat Randy memberi penghapus itu kepada Anggi.” Kulihat air mata Tiara berderai.

Ya, Allah… karena inikah gadis kecilku bersedih hari ini?

Kugeser dudukku dan kubawa Tiara dalam pelukanku. Oh, Ayah… aku sangat membutuhkanmu saat ini. Aku menyadari kalau aku pun kini mengenal rasa cinta yang lain. Rasa ketergantungan terhadap orang yang dicintai.

“Kamu tahu anakku… ketika kamu menyukai seseorang kamu juga harus
siap bersedih karenanya. Ketika kamu mendapati dia tidak seperti keinginanmu, kamu akan bersedih. Tapi kesedihanmu tidak perlu berlarut-larut. Kalau dia juga menyukaimu, dia tidak akan membuatmu sedih berkepanjangan.” kataku sambil berdo’a dalam hati semoga ucapanku cocok untuk anak seusianya.

“Dengar sayang,” Kuangkat wajahnya menghadapku. Kuusap air mata yang masih tersisa. “Saat kamu bersedih karena Randy atau karena hal lain, kamu masih memiliki cinta Bunda dan Ayah. Cinta kakek dan nenek. Cinta om dan tante. Cinta para sepupu. Kami akan membantumu mengusap air matamu. Jadi kamu tidak perlu marah sama Randy dan Anggi. Karena kamu memiliki begitu banyak cinta.”

Kulihat Tiara tersenyum.

“Maukah Bunda beritahukan tentang cinta yang kamu tidak akan menemukan kesedihan dan kekecewaan?” Tiara mengangguk.

“Cinta kepada Allah, anakku. Dia zat yang lebih layak dicintai. Ketika kamu dekat selangkah… Allah akan seribu langkah lebih dekat padamu. Terkadang… banyak manusia yang tidak sabar menunggu jawaban atas do’a-do’anya. Padahal Allah sedang membuatnya indah pada waktunya. Kita sebagai hamba, hanya bisa bersabar menunggu saat itu tiba. Begitu juga dengan Tiara saat ini. Tiara belum saatnya mengenal cinta yang lain. Kelak saat kamu lebih besar, kamu akan mengerti.”

“Bagaimana rasanya cinta kepada Allah, Bunda?”

Aku terdiam sesaat.

“Berjuta rasanya.” Kataku mengutip sebuah lagu. “Berjuta keindahan yang tak terucap.”

“Terima kasih Bunda. Tiara mencintai Bunda.”

“Bunda juga mencintaimu, anakku.” Kukecup puncak kepalanya.

“Bunda….”

“Apa masih ada yang kamu risaukan?”

“Hehehe… Tiara lapar Bunda.”

“Hahaha… ayo kita makan.”

***

Kisah ini diikutsertakan pada lomba di sini

Love Will Find The Way

21 Feb

Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.

Kamu pintar, tampan, dan ayahmu memiliki jabatan di salah satu dinas yang memiliki jaringan di sekolah. Kelebihanmu itu membuat guru-guru menganakemaskan kamu. Ketua kelas, Ketua Osis, Ketua panitia. Mengapa kamu selalu mendapat tempat utama?

Tahukah kamu kalau dulu aku tidak begitu menyukaimu?

Hingga hari perpisahan sekolah tiba. Hari itu aku melihat kamu apa adanya, sangat sederhana dan nampak bersahaja. Dan aku mulai menyadari bahwa kebaikanmu dan rendah hatimu selama ini tertutupi oleh tembok kebencian yang kubangun sendiri. Dan sejak itu, aku tidak bisa menjelaskan perasaan halus yang tiba-tiba muncul.

Hari-hari selanjutnya adalah kejutan-kejutan perasaan saat aku menyadari aku kehilanganmu. Mengapa aku tidak menyadari saat-saat kamu ingin menyapaku saat kita bertemu di jalan? Aku juga ingat saat kamu mengajakku berbicara lalu aku tinggal pergi begitu saja. Oh, aku terlalu membencimu saat itu. Aku merasa kamu menebar pesona ke semua cewek di sekolah hingga aku tidak mau menjadi bagian dari cewek-cewek tolol yang menyukaimu. Yang menulis surat cinta atau menelpon ke rumahmu. Sungguh tak tahu malu!

Lalu mengapa rasa ini bisa berubah begitu cepat hanya karena genggaman erat di hari perpisahan itu?

Surat-suratmu menyeberang lautan, yang oleh pak Pos diantar menuju salah satu alamat seorang teman. Namun diantara surat-suratmu, tak satupun ada namaku. Aku sedih, kecewa saat membaca surat-suratmu yang mengabsen satu persatu teman-teman kita. Kamu melewatkan namaku. Apa kamu melupakan aku? Apa tak ada kisah yang bisa kamu bagi buat aku?

Suatu hari, aku menemukan kenyataan kalau kamu tak sendiri lagi. Oh, beginikah rasanya patah hati? Bagai teriris dan ngilu di dada saat mengingatmu?

Hingga suatu hari kamu datang tak terduga. Kamu katakan kalau sejak dulu kamu ingin sekali bisa ngobrol seperti ini denganku. Saat kamu punya keberanian menyapaku, justru aku yang menghindarimu.

Oh! Serasa ada jarum menghunjam jantungku.

“Aku tidak tahu mengapa kamu seperti menghindariku,” katamu. Saat itu matahari senja menerpa teras tempat kita ngobrol. Aku hanya tertunduk tak tahu harus berkata apa. Tiada yang bisa aku jelaskan padamu saat itu. Kisah tentang kebencianku padamu saat itu, kini terasa lucu dan tidak mungkin kuceritakan padamu.

“Aku telah bertemu dengan banyak wanita, namun tidak tahu mengapa aku selalu teringat padamu.”

“Jangan katakan hal itu,” aku hampir menangis saat mengatakannya. Di sisi lain hatiku senang mendengarnya, namun aku menyadari itu tidak mungkin kini.

“Mengapa?” kamu bertanya.

“Kamu tahu jawabannya.”

“Apa?”

Hening sesaat. Aku biarkan kamu berpikir.

“Oh, jangan katakan kalau kamu pun telah mendengar gosip itu.”

“Gosip?” tiba-tiba aku tidak mengerti.

“Sejak kepulanganku, aku telah beberapa kali ditanya soal berita itu.”

Lalu kamu bercerita tentang lelucon Bayu, salah satu teman asramamu yang langsung dipercayai oleh sebagian teman-temanmu. Hingga kabar yang semula hanya dijadikan candaan dan guyonan pelepas lelah setelah belajar itu tersebar.

“Hingga saat ini, tiada wanita lain.”

Oh, mengapa wajahku mendadak panas. Apakah wajahku bersemu?

“Pulanglah, sudah Maghrib.” Hanya itu yang dapat aku katakan. Aku dapat melihat gurat kecewa saat kamu berlalu.

***

Tiga tahun telah berlalu. Kita telah melewati ratusan senja di teras yang sama sambil tanganmu menggenggam tanganku. Entah mengapa, di suatu senja aku begitu ingin tahu isi hatimu. Saat itu kamu menggenggam tanganku sambil terpejam. Menikmati siraman matahari sore.

“Mengapa engkau memilihku?” Aku selalu merasa bahwa kamu pasti bertemu wanita hebat di luar sana. Wanita yang lebih cantik dan pintar dariku.

“Aku tidak pernah memilihmu.” katamu, masih terpejam.

Kulepaskan genggaman tanganmu. Senyumku tiba-tiba menghilang.

Kamu menoleh, “Tapi cintalah yang memilihku untuk mencintaimu.” Lalu sambil tersenyum kamu melanjutkan, “dan aku memutuskan untuk menuliskan takdirku hidup bersamamu.”

Aku hampir saja menangis terharu mendengarnya kalau saja kamu hanya berkata sampai di situ. Tapi kamu masih melanjutkan, “Jangan khawatir… hatiku tahu jalan ke dermaga hatimu untuk berlabuh.”

Lagi-lagi aku terharu. Lalu terdiam sesaat. Serasa pernah mengenal kalimat yang hampir mirip dengan yang baru kamu ucapkan.

“Iiiih, itukan kalimat yang ada di novel Perahu Kertas.” Kalimat itu memang aku pasang sebagai screensaver di notebook kita. Aku menggelitik kamu gemas. Kamu paling bisa membuat aku sedih, terharu, dan gemas pada waktu yang hampir bersamaan. Kamu tergelak dan berusaha menghindar.

“Sudah Maghrib.” Kamu mengingatkan.

Senja itu kita akhiri dengan tawa lebar.

* * *

Kisah ini diikutsertakan pada lomba di sini