[#CerMin] Omar

29 Apr

Kamera SLR masih menggantung di leherku. Aku baru saja memotret dua bocah, Yassin dan Amal. Mereka begitu manis dan masih terlalu kecil untuk menyadari situasi mencekam yang ada di sekitar mereka. Sebagai wartawan yang dikirim ke Myanmar -tepatnya di utara Rakhine di mana banyak etnis Rohingya berdiam- aku banyak menemukan fakta yang hampir sama dengan yang aku dengar. Kenyataannya bahkan lebih parah!

Keadaan mereka sangat memprihatinkan. Kemiskinan seolah menjadi denyut nadi yang tiada habisnya. Sepanjang mata memandang banyak bangunan dan lahan pertanian yang rusak. Sebagian tinggal di puing runtuhan rumah, sebagian tinggal di tenda-tenda bantuan negara lain.

Dari hasil berbincang dengan Omar, salah seorang penduduk yang menjawab dengan bahasa Inggris seadanya, aku mengetahui bahwa mereka dianggap imigran gelap oleh pemerintah. Akses pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan layak tertutup bagi mereka. What? Bagaimana mungkin ada suatu etnis yang berdiam puluhan bahkan ratusan tahun di salah satu Negara Bagian di Myanmar, tidak diakui sebagai warga negara dan hak-haknya tak terpenuhi?

Setelah istirahat makan siang, aku hendak berkeliling memotret keadaan sekitar. Baru beberapa meter meninggalkan penginapan, aku mendengar desing peluru. Beberapa tubuh berjatuhan ketika berondongan peluru dari para lelaki berseragam, menembus kulit mereka. Darah berceceran, lalu menggenang membentuk kolam darah. Aku tak tahu peristiwa apa yang mendahului hingga lima lelaki itu harus tewas. Dari tempat persembunyianku, aku mengambil gambar seadanya.

Aku masih terpekur di tempatku ketika kulihat berbondong-bondong lelaki menghampiri jasad-jasad tersebut. Aku mendekat setelah memastikan name tag wartawan tergantung di leherku. Oh, yeah, katakan aku masih shock melihat kejadian barusan. Diantara korban itu ada Omar, lelaki yang baru beberapa jam lalu aku berbincang dengannya.

Seorang wanita tua mengenakan kerudung ungu lusuh terlihat menitikkan air mata. Ibu Omar. Di sampingnya Yassin dan Amal dengan wajah tanpa ekspresi. Lengkap sudah mereka menjadi yatim piatu.

Malamnya, aku menonton berita CNN bersama wartawan dari berbagai negara yang berkumpul di salah satu gedung. Peristiwa yang terjadi siang tadi menjadi salah satu berita. Tidak terlalu menonjol dibanding berita lain. Mungkin mereka pikir menyebut lima korban tewas sudah lebih dari cukup untuk diketahui dunia. Tanpa sadar, aku menangis. Hey, lima nyawa itu sebelumnya memiliki kehidupan yang sama seperti kalian!

Entah kekuatan dari mana, aku kembali ke penginapan dan menulis di sepanjang sisa malam itu tentang Omar. Aku ingin dunia tahu dari kisah Omar bahwa para korban pembantaian etnis Rohingya dan korban perang di negara mana pun, bukan hanya sekedar statistik. Mereka pernah hidup. Ada air mata yang mengiringi kepergiannya, sama seperti kesedihan seorang ibu di mana pun di dunia ini yang melihat kepergian anaknya. Ada anak yang menjadi yatim, ada saudara yang terpisah dari saudaranya yang lain. Mereka pernah mencintai. Lalu mengapa tak juga bisa dicintai?

***

Iklan

5 Tanggapan to “[#CerMin] Omar”

  1. istiadzah 2 Mei 2013 pada 2:40 am #

    ini sebagai -apa yah namanya- atas berita tewasnya tiga orang Amerika karena pengeboman. sungguh ironis ya dunia itu…

    • istiadzah 2 Mei 2013 pada 2:47 am #

      btw, panjangan si Omar bukan Omar Borkan kan? πŸ˜€

    • nurusyainie 2 Mei 2013 pada 3:27 am #

      Sebagai apa? *kepo tingkat dewa*

      Ya, sungguh ironis. Kadang jika kejadian itu bukan menimpa orang yang kita kenal, rasa empati kadang dengan cepat menguap.

      Hehehe… iya, judulnya diberi nama Omar gara2 liat foto si Omar Borkan Al Gala itu (-_-‘) *ketahuan*

  2. Hendra Wirawan 3 Mei 2013 pada 11:41 pm #

    gw nangis bca cerita ini..

  3. tuaffi 7 Mei 2013 pada 10:46 pm #

    miris yah mbak. 😦

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: