Aku, Flash Fiction, dan Kritikanku

23 Apr

“Jatuh cinta itu seperti saat saya berkenalan dengan FF untuk pertama kalinya.”

Berawal dari ikut sebuah audisi menulis dengan syarat harus berbentuk Flash True Story (FTS). Peserta diberi link untuk mempelajari Flash Fiction (FF) untuk bisa memahami FTS. Perbedaannya kan hanya difiction dan true story itu.  Maka saya klik-lah link tersebut. Saya terdampar di forum FF yang saya tak bisa lepas dari pesonanya sejak saat itu.

Sayangnya, saat itu saya tak bisa tembus untuk bergabung ke forumnya. Jadi kalau mau dihitung saya mengenal FF itu *ngitung jari* sejak satu tahun dua bulan yang lalu. Whew, masih baru banget ternyata!

Sejak saat itu saya meminum ilmu apa pun tentang FF untuk mengatasi kehausan saya. Saya pernah terdampar di suatu blog yang khusus membahas FF 100. Banyak artikel menarik. Bahkan ada tahap per tahapnya. Wah, saya makin haus. Lewat TL twitter juga saya kembali diarahkan ke blog seorang editor yang banyak mengupas soal naskah cerpen dan novel.  Saya belajar tentang kelogisan fiksi. Di situlah saya menyadari bahwa kemerdekaan kita menulis fiksi bukan berarti mengabaikan satu hal itu. Jika kita hanya sekedar iseng menulis mungkin tidak akan berarti apa-apa. Tapi jika berpikir untuk menerbitkan tulisan tersebut maka kita akan berhadapan dengan seorang editor yang tak tanggung-tanggung akan mengupas segala hal.

mffKehebohan G-String Merah di grup KEB sebenarnya sudah menarik perhatian saya. Tapi saat itu saya sedang fokus pada beberapa tulisan yang harus saya selesaikan hingga tidak ikut terlibat di dalamnya. *waktu itu belum ada grup MFF kan?*

Nanti terbentuk grup FB Monday Flash Fiction (MFF) dan mendapati bannernya di beberapa blog, barulah saya bergabung. Sementara belum ikut prompt-nya. Lagi-lagi alasannya karena saya masih fokus ikutan FF di tempat lain. *maafkan daku, hiks*

Saya pertama kali menyetor FF itu pada prompt #4 dengan judul Mengapa Aku tak Punya Ayah. Katanya sih halus hahaha… ^^

Keseriusan saya komen dibeberapa tulisan teman MFF itu bermula dari prompt #6 Black. Prompt itu penggalan dari cerita mini saya, Saudaraku dan Ayahku. Awalnya saya pikir saya tak perlu ikutan memberi kritikan. Itu bukan bagian saya. Namun, saya pikir minimal saya harus komen karena itu prompt dari saya. Maka mulailah saya komen sana sini. Karena serius membaca, saya kadang menemukan beberapa hal yang aneh dan menunjukkan keanehan itu. Tapi, saya tak sempat jalan ke semuanya. Hari berganti dan prompt baru juga telah ada.

Prompt selanjutnya sebenarnya tidak ada keinginan untuk memberi kritikan lagi. Merasa tak pantas saja. Terutama saat menyadari FF saya pun masih jauh dari kata sempurna. Tapi godaan untuk memberi kritikan begitu kuat. Bukankah komentator bola kelihatan begitu menguasai strategi bola ketimbang pemain bola? Seperti itulah yang terjadi pada diri saya!

“Menulis itu seperti mendekatkan otak dengan tangan”

Rupanya, saya makin ketagihan komen. Bahkan di FF bukan anggota MFF pun tak luput dari komen saya yang katanya nggak tanggung-tanggung itu. Wah, suer saya kebablasan! Saat itu saya tidak menyadari kalau ilmu yang pernah saya serap dulu rupanya keluar dengan sendirinya saat saya memberi komen itu.

Terkadang saat memberi kritikan panjang pada sebuah tulisan, saya akan kembali ke sana untuk mengetahui tanggapan penulisnya. Tanggapannya macam-macam. Ada yang senang, ada yang setengah hati menerimanya, dan ada yang menolak mentah-mentah. Saya sih, tidak memasukkan dalam hati tanggapan itu. Syukur toh, saya membaca tulisan mereka dengan sepenuh hati? Kalau nggak sepenuh hati, nggak mungkin saya bisa melihat hingga sedetil-detilnya hehehe…

Beberapa tanggapan mungkin menilai saya ingin mematikan hasrat menulis mereka yang saya kritik. Suer, tak pernah terpikirkan hal seperti itu. Saya hanya menunjukkan hal-hal yang luput dari pikiran mereka karena saya sangat mengerti kemampuan otak manusia tidak dapat menjangkau semua hal. Saya pun kadang masih membutuhkan second opinion pada beberapa hal.

Bukan pula untuk menjadikan itu karya bersama karena memasukkan hal-hal yang saya ingini. Tapi saya mengajak berpikir bersama. Kalau diterima, silahkan. Kalau tidak juga nggak apa-apa. Toh, bagi saya pribadi tidak ada kepentingan selain ingin belajar bersama dan membagi apa yang saya ketahui.

Dalam memberi komen pun saya berusaha seimbang. Ketika FF itu mampu memukau saya, saya tidak sekedar memuji. Saya coba tunjukkan kelebihannya di mana. Minimal saya akan bilang kalau FF itu mengingatkan saya pada sebuah film, buku, atau kisah yang pernah saya ketahui. Kalau ada yang sempat saya komenin tentang film atau buku, tentu tahu kalau saya selalu menyertakan judul film atau buku tersebut agar bisa dicari tentang kebenaran komen saya itu.

Jadi kalau ditanya perkembangan saya sejak gabung di MFF mungkin lebih cerewet aja kali yah hahaha. Kalau kesan, hmmm… digrup ini saya menemukan tempat belajar bersama yang sesungguhnya. Saya yakin saat kita mempublish FF, kita pasti ingin mengetahui pendapat orang lain tentang buah pikiran kita. Tentu saja, sebagai manusia kita paling berharap yang masuk adalah komen bagus, memuji hasil karya kita. Tapi di sinilah kelebihan MFF, semua anggota memiliki kesempatan untuk menilai dan memberikan masukan buat tulisan kita dengan sejujur-jujurnya, meski saya tahu masih ada yang tidak tega. Tiada lain semua dimaksudkan untuk semakin memperbaiki tulisan kita dari hari ke hari. Ada beberapa anggota yang tulisannya makin bagus, semata bukan karena kritikan. Tapi dari kelapangan hati menerima masukan dari berbagai sudut pandang dan mau terus belajar.

Disetiap prompt selalu saja ada kejutan di sana. Bisa jadi si A bagus di prompt lalu, tapi di prompt berikutnya bisa jadi si B yang bagus. Perputaran roda itulah yang makin menyakini bahwa di sinilah tempat belajar yang sesungguhnya. Termasuk belajar menguatkan mental saat roda kita sedang berada di bawah!

***

NB: Komen = komentar

Iklan

11 Tanggapan to “Aku, Flash Fiction, dan Kritikanku”

  1. sulunglahitani 23 April 2013 pada 7:22 pm #

    Sukaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    Saya juga banyak belajar dari Mbak Nurus 🙂

    • mel 23 April 2013 pada 7:32 pm #

      ditto, Sulung

  2. jun 23 April 2013 pada 7:29 pm #

    Terimakasih mbaknya. with my pleasure nrima kritikan. justru saya pengen setiap tulisan saya dpt kritikan. kritikan semacam motivasi kedepan unt semakin baik lagi. salam kenal. saya nubie 😉

  3. rinibee 23 April 2013 pada 7:37 pm #

    Setuju banget sama kakak pertama.. 😀

    Saya sukaaaaaaa bangeeet tulisan ini. Dari mba Nurusyainie saya banyak belajar menulis FF yang lebih baik.. 🙂

  4. Rini Uze 23 April 2013 pada 8:13 pm #

    Saya malah pengen di kritik mbak nurus.. 😀

  5. fatwaningrum 23 April 2013 pada 8:33 pm #

    hohohohoho menunggu mbak nurus ke rumah saya *siap2kopi 😀

  6. Run_D 23 April 2013 pada 8:33 pm #

    Tulisan ini berhasil membakar hati saya.. semangat *mataberapi

  7. zaliavaro 30 April 2013 pada 8:27 am #

    Wah ternyata dunia tulis menulis d blog luaaaaasssss banget ya, baru tahu 🙂 baru gabung soale..Salam kenal ^_^

  8. eksak 30 April 2013 pada 1:03 pm #

    Wow! Perjalanan dan jam terbang yg panjang! Itu yg bikin gue yakin elo kompeten bgt dlm hal FF… *akhirnya…

    Gue musti banyak minta minum dari elo, nih! Jgn pelit ea… 🙂

  9. mechtadeera 30 April 2013 pada 5:44 pm #

    aku malah baru satu dua bulan ini nulis FF…. bau kencur banget yaa..hehe..
    trims sudah mampir & mau komen ya…. banyak kawqan belajar muda2an makin cepat pintar.. 🙂

  10. ronal 30 April 2013 pada 8:43 pm #

    saya baru bergabung di MFF…ditunggu kripik pedasnya ya mba 😀

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: