[Review] Satu Masa di Cielo

22 Apr

Judulnya romantis. Itu pikiran pertama yang terlintas saat membaca judul buku “Satu Masa di Cielo, The Chocolate Stories”. Awalnya, saya mengira Cielo itu nama suatu daerah di negeri Eropa. Hmmm, setting luar nih, gitu pikir saya sebelum membaca buku ini. Rupanya saya salah.

Satu Masa di CieloJudul Buku : Satu Masa di Cielo, The Chocolate Stories
Penulis : Nugraha Sugiarta
Penyunting: Sandria Komalasari
Penerbit : Denu Publishing

Tebal : vi + 119 halaman

Seperti yang bisa ditebak, buku ini memang semua tentang coklat. Cielo, nama sebuah café yang mempertemukan tokoh-tokoh dalam kisah ini. Di sinilah cerita itu bermula. Di Cielo!

Dibuka dengan cerita seorang gadis yang alergi coklat. Permanen. Hingga pertemuannya dengan seorang lelaki, yang mengajaknya ke Cielo yang kembali mengenalkan rasa itu lagi di lidahnya.

Saya tahu gimana rasanya saat sesuatu yang sangat kita gemari tiba-tiba tidak bisa kita nikmati lagi. Dulu saya biasa menghabiskan beberapa potong coklat batang bermerk yang saya biarkan mencair dalam mulut. Saya tak dapat menahan diri untuk tidak terus memasukkan tiap potong ke dalam mulut hingga coklat itu benar-benar habis.

Akibatnya bobot tubuh saya bertambah. Saya menjadi gemuk! Saya masih ingat ekspresi teman-teman yang kaget melihat saya. Dan betapa risihnya, setiap kali mereka mengomentari bobot saya. Oh, God! Tapi saya benar-benar tidak dapat berpaling dari kenikmatan coklat.  Saya kecanduan coklat! Hingga saya memutuskan untuk tidak mengikuti keinginan menggebu itu. Jadi, saya benar-benar mengerti rasanya tak lagi menikmati coklat.

Cerita dan tokoh berganti.

Bagaimana rasanya menikmati secangkir coklat saat matahari akan tenggelam di sebuah café yang beraroma serba coklat? Hmmm… saya hanya bisa membayangkan saja karena saya tidak pernah benar-benar mengalami hal itu. Apalagi di sebuah kursi lain di café yang sama ada sepasang mata yang memperhatikan. Wiiih, romantic hahaha…

Lalu ada kisah Mengejar Coklat, yang tercetus dari kepala seorang sopir yang melihat sekotak coklat berpita merah jambu yang menyembul dari sebuah tas penumpangnya. Miris!

Dan beberapa kisah lainnya yang saling terhubung satu dengan yang lain. Benang merahnya tentu saja coklat.

Menikmati setiap kisah dalam buku ini, sejujurnya bagi saya pribadi, membutuhkan ingatan dan imajinasi tingkat tinggi untuk memahami rangkaian ceritanya yang ditempatkan secara acak. Karena ternyata semua kisah di dalamnya saling berhubungan. Lelaki tanpa nama di Cielo, ternyata akan memiliki kisahnya tersendiri di judul yang lain. Dan kisahnya itu, berhubungan lagi dengan seorang wanita pemilik perkebunan coklat yang ternyata (lagi) pemilik Cielo.

Whew… saat membaca perputaran kisah yang ditempatkan secara acak itu, saya menemukan kejutan-kejutan. Kadang saya berujar: “Oh, jadi yang lelaki yang di café itu ternyata si Pardi toh.” Dan untuk kembali menyegarkan ingatan, saya kembali ke halaman sebelumnya.

Di akhir kisah, kali ini memakai sudut pandang si Coklat. Yah, dalam Kesaksian Coklat, penulisnya akhirnya menjelaskan hubungan tiap kisah di dalamnya yang selalu melibatkan dirinya (si Coklat itu). Dan, di sinilah saya akhirnya benar-benar mengerti jalinan kisah dalam buku ini.

Jika di audiovisualkan, maka buku ini penggambaran dari masing-masing pikiran tokoh yang berada di Cielo, serta tokoh yang berada di luar Cielo tapi masih berhubungan karena coklat.

Dalam buku ini, yang paling sering membingungkan saya karena ketiadaan beberapa nama. Kadang penggambarannya hanya disebutkan lelaki atau perempuan. Karena hanya dua dimensi, saya tak bisa seutuhnya membayangkan siapakah dia? Walaupun akhirnya terjawab di kisah selanjutnya.

Tak seperti membaca cerita atau novel lain dimana saya bisa larut mengikuti alur kisahnya tanpa perlu berpikir keras, bagi saya membaca buku Satu Masa di Cielo sangat menantang. Keacakan ceritanya menantang saya untuk merangkai jalinan ceritanya sendiri menjadi utuh di otak saya agar saya bisa mengerti keseluruhan ceritanya.

Dan  tentu saja yang paling menjadi perhatian saya itu adalah covernya. Untuk cerita yang begitu menantang ini, covernya terasa biasa saja. Latar coklat muda dengan kertas hijau, merah jambu, dan kuning serta sebuah pensil dan ada secangkir coklat di kanan atas. Saya membayangkan covernya itu sebuah cafe dengan beberapa pelanggan sedang duduk. Atau gambar seorang lelaki yang sedang menyatakan cinta dengan sekotak coklat di tangannya 😀

***

Iklan

11 Tanggapan to “[Review] Satu Masa di Cielo”

  1. Twist Hunter 23 April 2013 pada 7:24 am #

    Pinjemin bukunya, ah! Atau kirimin coklatnya! Atau gue bakal makan coklat lagi, biarin aja berat badan gue nambah! 😉

    • nurusyainie 24 April 2013 pada 12:18 am #

      Hahaha… pilih yang ketiga, biar ada teman gue menambah berat badan 😀

  2. anz1el 23 April 2013 pada 8:34 am #

    Hwe…mau donk cokelatnya…eh bukunya….
    terimakasih sudah direview.mbak.. target gajian bulan ini 😀

    • nurusyainie 24 April 2013 pada 12:20 am #

      Hehehe… baca bukunya serasa nyium aroma coklat 🙂

  3. ibuseno 23 April 2013 pada 9:37 am #

    ah jadi pengen baca bukunya.. mumpung di depan meja saya ada sebatang toblerone dikasih teman 🙂

    • nurusyainie 24 April 2013 pada 12:23 am #

      Hwaaaa… ada Toblerone

      *mupeng pake banget*

      • ibuseno 24 April 2013 pada 8:40 am #

        tinggal sepotek niii

  4. istiadzah 2 Mei 2013 pada 2:53 am #

    udah beli bukunyaaaa tapi ga tau kapan mau dibacaaaa, huhuhuhu..
    betewe, itu penulisnya, senior saya di kampus lho! *abaikan* 😀

    • nurusyainie 2 Mei 2013 pada 3:44 am #

      Hwa?! Senior mbak Isti??? *tak bisa mengabaikan*

      Penulisnya mengajak berimajinasi tentang tokoh2 di dalamnya. Jadi saya bebas membayangkan Nicholas Saputra menjadi pemeran prianya hampir disetiap halaman hahaha… 😀

      • Rini Uzegan 21 Mei 2013 pada 4:04 pm #

        benarkah mbak? akan terbayang nicholas saputra, deuh saya jadi pengen baca juga …

        • nurusyainie 22 Mei 2013 pada 8:29 pm #

          Auuuuh, jangan Nicholas Saputra, deh. Itu milikkuuuuuh hahahaha… bayangin yang lain aja 😀

          *semoga mbak Rini Uze yang menang Quiz*

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: