Bukan Hanya Sekedar Imajinasi

20 Apr

Awalnya, gw pikir komen gw di sini gak bakal mempunyai episode lanjutan karena gw sudah sering komen serupa di beberapa tulisan. Sesudah komen yah udah. Terima dan tidak kan tergantung orangnya toh.

Sempat terlupa. Hingga gw kembali komen pada tulisan lain di blog yang sama. Tapi kali ini komen gw memuji tulisan si pemilik. Karena gw tidak terbiasa bermanis-manis, jadi ketika komen gw tuh memuji berarti ada nilai plusnya di mata gw.

Nah, saat mau close blog tersebut, mata gw sempat melihat judul di sidebar kanan judul tentang Logika Fiksi. Nah, sebagai orang yang memang tertarik pada kelogisan fiksi, gw klik. Dan taraaaa… itu ternyata tulisan yang khusus dibuat karena komenan gw. Sumpah, gw langsung ngakak! Gak mengira kalau komenan gw membuat galau si empunya blog. *Ngaku loe*

Baiklah, mungkin ada yang ingin penjelasan lebih soal komenan gw atau tentang masalah ini secara lebih utuh. Tapi, sebelum loe-loe pada penasaran soal gw, gw hanya bisa bilang kalo gw gak ahli2 banget. Gw hanya seseorang yang sedang belajar menulis. Setidaknya gw pernah belajar soal tulis menulis baik secara otodidak, lewat langganan newsletter di sekolah-sekolah menulis, maupun belajar kepada beberapa penulis terkenal yang gw ketemu langsung. Gw juga pernah beberapa kali mengikuti pelatihan jurnalistik dan melakoni peran wartawan, meski gak lama. Jadi soal fiksi dan nonfiksi, gw sudah pernah mengalami kedua hal tersebut. (Selanjutnya, gw akan bercerita seolah-olah gw sedang berhadapan langsung dan menggunakan gw-elo)

Jadi ketika dibilang,

“Jenis cerita itu ada dua yaitu fiksi dan non-fiksi. Dan gue nganggep dua hal itu udah final buat ngereduksi arti kata ‘gak logis’ dan ‘logis’, gak masuk akal dan masuk akal.”

Gw langsung gak setuju. Sepengetahuan gw, fiksi dan nonfiksi itu pembedanya sangat jelas. Terpampang nyata. Fiksi cerita rekaan sedang nonfiksi bersifat faktual, bukan rekaan, nyata. Jadi, bukan pada masuk akal atau tidak.

Lalu…

Ketika cerita non-fiksi dan fiksi netepin logika sebagai salah satu unsur bercerita dalam setiap alurnya, next dimanakah letak imajinasi sang penulis?

Letak imajinasinya direkaan itu. Jelas?

Namun, tentu saja sebuah fiksi tak cukup hanya mengandalkan sebuah imajinasi. Ada hal-hal yang harus terpenuhi di dalamnya, yaituΒ karakter, setting, konflik, dan resolusi. (penjelasan soal ini silahkan cari sendiri)

Nah, dari keempat hal tersebut dibangun berdasarkan kelogisan cerita.

Mengapa gw selalu menegaskan soal kelogisan ini? Kelogisan ini erat kaitannya dengan percaya. Agar pembaca dapat percaya dengan cerita yang kita tulis. Mengapa ada sebuah cerpen yang bisa begitu menginspirasi pembacanya? Mengapa nonton film Ayat-Ayat Cinta pada nangis? Karena percaya! Percaya itulah yang membuat penontonnya terbawa pada alurnya hingga hanyut di dalamnya. Padahal itu hanyalah fiksi! Rekaan semata penulisnya. Mengapa bisa? Karena penulisnya mampu merangkai sebuah fiksi menjadi logis dipikiran pembacanya.

Lalu bagaimana dengan film Habibie Ainun? Itu kan kisah nyata yang difilmkan? Oh, tentu saja, dibalik banyaknya pujian akan film itu, kritikan pun tetap saja ada. Reza Rahadian pemeran Habibie dinilai terlalu jangkung. Namun hal itu tertutupi oleh kemampuan akting Reza yang katanya β€œHabibie banget” itu. Lalu kehadiran produk makanan kecil dibeberapa scene yang notabene tidak ada di masa hidup tokoh yang diceritakan. Itu sedikit menodai film itu.

Jadi, logika dalam fiksi mutlak ada!

Bagaimana dengan Harry Potter atau Alice in Wonderland? Kedua cerita itu dibangun berdasarkan logikanya sendiri tanpa berseberangan dengan logika umum. Misal, kalau malam yah gelap. Di musim salju, tetap saja mereka memakai pakaian tebal. Kedua film itu dibangun di atas logika sihir dan dunia Wonderland, di mana hal yang tak biasa di dunia manusia pada umumnya, di dunia mereka bisa saja terjadi.

Mau contoh lain? Di film Harry Potter pun, meski dia penyihir tetap gak bisa bernapas lama di dalam air (logika umum). Penulisnya, JK. Rowling mencari logikanya bagaimana agar Harry Potter bisa bernapas? Maka dibuatlah logika tersendiri untuk hal itu (logika sihir). Harry harus memakan semacam tumbuhan tertentu agar bisa tumbuh insang dan bisa bernapas di air. Mengapa insang? Lagi-lagi Rowling mengambil logika ikan. *kalau bagian ini tetap menimbulkan tanya, tanya pada diri sendiri mengapa bisa menyukai kisah Harpot itu dan carilah logikanya*

Pernah terjadi, sebuah cerita bagus banget dengan setting Korea. Tapi, cerita yang begitu bagus itu ternoda oleh kehadiran celana pendek? Apa sebab? Di awal diceritakan sedang musim dingin. Eh, di tengah cerita tokoh dalam cerita tersebut pergi shopping hanya memakai celana pendek. Nah, ngerti kan letak anehnya? Kalau pun penulisnya tetap menginginkan tokohnya pakai celana pendek di musim dingin, ceritakan alasan mengapa dia memakai itu. Mungkin sudah gila? Atau taruhan soal berani-beranian nahan dingin? Atau hal-hal lain. *Sumpah! Bunuh dirinya namanya kalau musim dingin gak pakai pakaian tebal keluar rumah.*

Tapi bagaimana jika sebuah sinetron dengan setting Indonesia lalu ada adegan seorang anak naik burung Rajawali atau Naga? What?! *ada yang betah nonton sinetron itu gak?*

Atau ada seorang cewek yang menyamar hanya memakai topeng wajah dan tidak dikenali? *yang bener aja?* Gw sih langsung ninggalin sinetron macam begitu. Secara logika, masa hanya tertutup topeng kecil aja tidak dikenali? Emang anggota tubuhnya yang lain gak bisa jadi penanda kalau dia si A, si B, atau si C? Gw aja bisa mengenali orang dari gaya berjalannya meski gw lepas kacamata. *Bagusnya film2 Hollywood itu, penyamarannya total. Make up art-nya oke banget.*

But, it’s OK lah! Kalo elo minta logika dalam fiksi gue tentang Rino yang ketemu ama Presiden. Presiden yang gak semua orang tau tempat ngumpetnya, tanpa jurnalis, tanpa paspamres dsb. Now, kita bakalan bermain logika!
Ahmadinejad, presiden Iran. Beliau penganut hidup bersahaja. Gak ada kursi dan meja di rumah beliau. Gak ada kamera, gak ada penjagaan. Rumah beliau selalu open buat siapa aja yang pengen nyampe’in aspirasinya.
Kedua, Saddam Hussein, alm. Presiden Irak. Yang ngumpat-ngumpet di akhir masa hidupnya. Jangankan media masa, sebagian keluarganya aja gak tau Beliau berada. πŸ˜‰
Rasulullah SAW dan para khalifah sesudah Beliau. Kalo elo ngira istana, pakaian dan kekayaan sebagai indikasi seorang kepala negara, elo gak bakal nemuin itu pada mereka. πŸ˜‰

Oke, kita bermain logika ala gw yah.

  1. Cerita soal Rino itu settingnya di Indonesia. Benar? Gw bisa lihat dari adanya rumah Jawa itu.
  2. Presiden. Hmmm… loe mengambil tokoh yang sangat berat pada cerita loe yang ini. Kalo di Indonesia, berarti presidennya salah satu dari yang enam itu, kan? Oke, kita ambil saja itu adalah SBY. *karena dicerita adalah presiden, bukan mantan presiden*
  3. Mengambil tokoh terkenal dan memasukkannya dalam cerita tentu kita tak bisa seenaknya merubah-rubah karakternya. Seperti Arjuna dalam pewayangan, kita tentu sudah tahu kalau dia cakep tanpa perlu dijelaskan lagi. Atau kalau disebut Gatotkaca, kita tak perlu lagi kasih penjelasan panjang lebar soal siapa dia. Atau kalau kita mau cerita soal Titanic, tak perlu kita jelaskan panjang lebar soal tenggelamnya kapal itu. Cukup tulis Titanic, maka pembacanya akan tahu. *kalau gak tahu juga, tanya Mbah Google, jangan ke Eyang Subur*
  4. Nah, ketika ada kalimat Β β€œPresiden yang gak semua orang tau tempat ngumpetnya, tanpa jurnalis, tanpa paspamres dsb.” Helloooow… gak ngurus negara, Pak? Kok ngumpet? Tanpa jurnalis? Paspampres? Hmmm… *kunyah sirih dulu*, setahu gw presiden dan wakil presiden (serta keluarga) harus dikawal oleh paspampres. Itu peraturan! Pernah baca kisah wapres JK yang berhasil jalan dengan cucunya di taman tanpa kawalan paspampres? Saat itu langsung heboh dan para paspampres langsung ke lokasi kejadian. Ini bukan hanya soal keamanan orang nomor satu dan dua itu, tapi juga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Teman gw, masuk sebagai Tim Kesehatan Kepresidenan, suatu hari gw pernah bertanya mengapa dia gak free di akhir pekan. Jawabnya singkat tapi kena banget. Sudah peraturan!
  5. Contoh yang diberikan tentang tokoh-tokoh dunia yang begitu menginspirasi, gw sepakat. Itu memang ada dan kisah hidupnya memang sederhana. Namun, bisakah membuat cerita tentang tokoh A berdasarkan sejarah tokoh B? Apalagi keduanya bukan tokoh fiktif. Kecuali kalau itu adalah presiden Negeri Antah Berantah yang kisahnya dibuat terinspirasi tokoh bersejarah itu.
  6. Gw mau kasih tambahan yang tidak ada di atas tapi ada di cerita aslinya. Yang buka pintu siapa? Presiden? Hmmm… *kunyah sirih lagi*, jadi ke mana gadis yang diikuti Rino? Mengapa bukan dia saja yang buka pintu?
  7. Mungkin masih ada beberapa, tapi gw rasa keenam hal di atas bisa menjawab mengapa gw sukar mempercayai cerita itu dari segi logika.

Itulah mengapa gw bilang, jika tokoh itu adalah artis, kemungkinannya masih logis. πŸ˜€

Lalu soal main gundu bersama Obama dan mandi di sungai bareng Luna Maya. Sah-sah saja sih ide ceritanya. Tapi tuliskan berdasarkan logika. Bila terlalu tidak logis, tidak akan menarik.

Misal: Loe main gundu dengan Obama kecil yang tinggal di Menteng. Ceritanya loe teman masa kecilnya. Bisa juga loe main gundu dengan Obama, loe menang. Tapi rupanya itu hanya dalam mimpi. Banyak kemungkinan ide itu menjadi cerita yang logis.

Lalu loe mandi di sungai bareng Luna Maya. Bisa saja Luna Maya sedang bikin film ada adegan mandi di sungai dan loe jadi figuran yang juga mandi di sungai yang sama. Kemungkinan itu bisa saja. Atau lagi-lagi itu hanya mimpi loe hahahaha…

Sah-sah saja loe mau nulis logis atau tidak. Tapi sah juga dong gw komen tentang kelogisan itu. Kalau gak mau dikomenin, ngapain dipublish? Iya, gak? Yang komen suka dan muji udah banyak, tapi gw hanya komen sejujurnya saja kok. Kalau kejujuran gw pun loe tanggapin lain, yah, gw bakal tetap komen di blog loe hehehe… masa hanya loe gak terima komen gw lantas gw jadi males tanggapin tulisan loe yang lain yang bisa jadi lebih logis?

Iklan

10 Tanggapan to “Bukan Hanya Sekedar Imajinasi”

  1. rinibee 20 April 2013 pada 1:58 pm #

    Sukaa tulisan ini. Sangat mencerahkan.. πŸ™‚

  2. eksak 20 April 2013 pada 8:35 pm #

    Kena telak gue!
    Sial! Kenapa gak dari dulu gue dapet tulisan kayak gini! Gue sering gugling tapi itu gak lebih canggih daripada tulisan yang diproteksi… πŸ˜‰

    Akhirnya gue suka dikritisi ama org kayak elo, Nur! Apalagi dalam hati kecil gue, gue tahu elo terkenal di bidang fiksi. Dan gue yakin elo emang jujur! Gue sering liat fiksi-fiksi yg dikomen ama elo. Elo bilang bagus karna emang bagus dan gak bagus kalo emang gak banget. Dari situ gue ngeh kalo secara gak langsung mereka ngakuin elo sebagai penilai yang kompeten.

    Next! Akhirnya gue juga musti ngakuin itu. It’s logic! So many thanks 4 u, Nur! Gue jadi banyak belajar dari elo dan ngompres kebrutalan gue yg kadang gak mau nerima kata orang.

    Once Again! Thanks a lot… ^_^

    • eksak 20 April 2013 pada 8:37 pm #

      O.. Ya hampir lupa! Gue ngaku, deh! Gue emang galau! Bhahaha

      • nurusyainie 20 April 2013 pada 9:01 pm #

        Gw proteksi, awalnya agar tiada kesan gw “menyerang” loe
        Gw hanya beri password sama orang2 yang minta aja

        Well… udah bisa gw buka proteksinya kan?
        Loe gak masalah dibaca semua teman2 gw kan?

  3. jiah al jafara 20 April 2013 pada 11:13 pm #

    loe gue end…hahay
    suka bgt mak dg tlsan ini. lg debat sma eksak toh?

  4. ranny 21 April 2013 pada 5:39 am #

    Oalah ma eksak to *sok kenal* πŸ˜€ aq juga coment pas tulisan itu. Klo gag salah inget ada nanya soal gadis itu kemana πŸ˜€ tujuan nyari gadis koq ud melebar kemana2 hehehehe

    Sip lah klo ud bisa terima kritikan..

    Laik dis mbak.. Soal harry potter yg bernafas dgn tanaman glyndiwell (smoga gag salah tulis) di air, ada di harpot 4 *gag penting* *abaikan* hahahahaha

  5. Renee 21 April 2013 pada 6:06 am #

    eh, waktu itu gw komen apa yah disana, lupa. Klo gak salah sih cuma muji2 aja, ato ketawa2 aja kali ya *hihihi* gak bisa komen soalnya :D, ntar klo gw komenin ntar malah bikin tulisannya jadi ancur, kan kasian wkwkwk…

  6. Ika Koentjoro 22 April 2013 pada 5:21 am #

    Aku lagi belajar nulis fiksi. Jadi ngerti bener bedanya disini πŸ™‚

  7. tuaffi 23 April 2013 pada 7:40 am #

    wahh.. paham maksudnya. hehe.. πŸ˜€ Seringnya asal nulis ajaa,,, gag mikir dulu ini logis apa gag. hihi

  8. Novia Wahyudi 13 Juni 2013 pada 4:21 pm #

    jadi tau jalan kebenaran menuju fiksi *halah*

    Makasih, Mbak

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: