Terasing di Tengah Keramaian

14 Apr

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Apa yang dapat kuceritakan tentang sekitar rumahku? Hanya ada bangunan tinggi di samping dan depan rumah yang menghalangi saya sekeluarga memandang langsung ke jalan raya. Juga hanya ada celah yang bisa dilalui sepeda motor sebagai jalan keluar masuk.

Rumah di lihat dari depan lorong

Rumah di lihat dari depan lorong

Rumah kecil berwarna putih itu terletak di belakang toko. Dan di lorong itu hanya ada rumah keluarga kami satu-satunya! Belakang rumah kami tertutup oleh pagar tinggi. Itulah yang membatasi kami dari bersentuhan langsung dengan tetangga belakang rumah.

Dulu, lorong rumah kami pernah dijadikan tempat lewat beberapa tetangga belakang. Sebenarnya tidak pernah ada jalan umum di situ. Beberapa tetangga belakang membuat jalan pintas karena lebih dekat dengan jalan raya. Tapi yang terjadi kemudian banyak sepatu, sandal, ayam piaraan, dan jemuran yang hilang. Bahkan bunga krisan ungu-ku pun pernah hilang diangkut dengan potnya. Saat itu saya sangat kesal karena bunga itu baru saja dibeli. Saya sampai mengerahkan anak-anak tetangga belakang untuk mencarinya. Saya pun turun sendiri kelapangan mencarinya. Mungkin karena hebohnya kasus bunga yang hilang itu, keesokan paginya bunga itu muncul kembali di teras rumah.

Kejadian-kejadian kehilangan yang terus berulang itu membuat jalan sempit yang dibuat tetangga belakang itu ditutup.

Meski letaknya terasing dari rumah-rumah lain pada umumnya, rumah keluarga kami itu sangat strategis. Karena strategisnya itu, dulu sempat dijadikan sebagai tempat janjian oleh teman-teman saya maupun teman-teman adik saya.

β€œIya, kita ketemu di rumahnya Nur saja.”

Begitulah sodara-sodara. Rumah itu sangat mudah didapat. Sungguh terlalu kalau sampai tersesat mencarinya karena begitu gampangnya ditemukan.

Suasana sore depan rumah

Suasana sore depan rumah

Tinggal di kawasan pertokoan dan menjadi pusat perputaran angkot sebenarnya asyik. Butuh apa saja, tersedia di beberapa toko dekat rumah. Ada toko sembako, mainan anak, toko kaset game dan film, komputer, cellular, toko buku dan fotocopy, elektronik, sepatu, busana, barang pecah belah, meubel, keramik, fried chicken, rumah makan, bakso, tiga bank swasta, hotel, tempat karaoke keluarga, apotik + praktek dokter, warnet, travel, dan tentu saja ada pangkalan ojek. Ada dua sekolah dasar yang berada dalam satu lingkungan, nyempil diantara perputaran bisnis itu. Eh, sebenarnya sekolah itu yang lebih dulu ada daripada toko-toko itu πŸ˜€

Untuk mencapai semua itu tidak perlu sewa angkot! Asyik, khan?

Nah, karena tinggal di kawasan bisnis, bisa dibayangkan dong tetangga-tetangga keluarga kami siapa saja. Satu profesi dari berbagai macam suku. Ada Bugis, Toraja, Buton, Jawa, Manado, tapi mayoritasnya sih Chinese. Nah, karena jadwal buka dan tutup toko rata-rata sama (Jam 7-21), bisa dipastikan dong gak ada namanya kalau sore, ibu-ibunya bisa menggosip, saling membawakan makanan atau kue bikinan sendiri. Bahkan kalau boleh jujur, kami hanya mengenal beberapa saja dari mereka.

Dimalam hari, pedagang-pedagang kecil bermunculan memasang tenda-tenda mereka di trotoar. Gorengan (tahu isi, bakwan, pisang goreng, tempe mendoan), terang bulan, martabak, kue pukis, bakso, pangsit, nasi goreng, bihun goreng, mie kuah, mie goreng. Aaaaa, pokoknya lengkap. Saya rasa hanya laut dan pantai saja kekurangannya hahaha… πŸ™‚

Itu para tetangga saya di samping dan depan. Bagaimana dengan tetangga yang berada di belakang rumah yang sempat saya singgung di atas?

Nah, yang di belakang itu tinggal para tetangga lama yang β€œtergusur” saat pembuatan ruko di depan jalan. Ada juga tetangga baru, pendatang yang tinggal di beberapa petak rumah yang disewakan. Karena kawasan ini memang strategis, para tetangga belakang melihat peluang untuk membuat rumah kost.

Kami jarang main ke tetangga belakang karena letaknya yang agak tinggi (naik tangga dulu dan lewat lorong lain). Paling sering, kami saling sapa saat bertemu di toko saat sama-sama belanja.

Alhamdulillah, sampai saat ini kehidupan bertetangga kami, meski tidak akrab-akrab banget dan sangat beragam baik suku maupun agama, tapi masih damai-damai saja. Kalau ada hajatan seperti pernikahan atau aqiqahan, kami saling mengundang. Begitupun jika ada kematian, para tetangga yang jarang bersua akan bertemu di rumah duka. Bila lebaran tiba, anak-anak tetangga belakang paling suka masiara ke rumah kami.

Seperti itulah suasana di sekitar rumahku. Gambaran masyarakat perkotaan, terutama yang tinggal di wilayah bisnis.

***

β€œPostingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri”

____________________
*masiara = bertandang (silaturahim) saat lebaran

Iklan

10 Tanggapan to “Terasing di Tengah Keramaian”

  1. pia00 14 April 2013 pada 10:20 pm #

    Mungkin lorongta tempatku menjelajah dulu, wkt sd B-)

    • nurusyainie 14 April 2013 pada 10:44 pm #

      Bukan, Pia :p
      Lorong itu baru ada sekitar tahun 97-98 saat daerah itu mulai dibangun ruko (kita SMA mi kayaknya) πŸ˜€

      Rumahku dulunya tepat di samping SD. Toko kaset games yang di dekat SD, itu dulu lokasi rumah pertamaku. Mungkin yang ko maksud, lorong di samping toko Dipa Jaya hehehe *iyo toh?*

  2. Ika Koentjoro 15 April 2013 pada 9:55 am #

    Sebelum ditutup pagar apa ndak dibicarakan dulu dengan warga masalah keamanannya mbak. Artinya jalan tidak perlu ditutup tapi warga juga mau menjaga keamanan lingkungan tempat mbak Nur

    • nurusyainie 16 April 2013 pada 9:50 pm #

      Awalnya memang itu bukan jalan umum, mbak Ika. Dan lorong untuk tetangga belakang sebenarnya sudah ada di sebelah lorong rumah kami.

      Rumah kami satu-satunya di lorong itu. Jadi bisa dipahami bagaimana tidak nyamannya ketika samping rumah kami sering dilewati oleh orang yang tidak kami kenal.
      Lingkungan saya bukan seperti kompleks perumahan yang keamanannya bisa saling dibicarakan agar sama-sama saling menjaga.
      Selain tetangga lama yang kami sudah saling kenal, juga ada pendatang baru yang masa tinggalnya berdasarkan kontrak. Sebagian mungkin bisa tidak mengganggu keamanan dan kenyamanan, tapi yang lain?

      *mungkin mbak Ika tidak mengerti jika tidak merasakan langsung* -_-‘

  3. Wong Cilik 16 April 2013 pada 1:05 am #

    lingkungannya ramai terus ya mbak …

    • nurusyainie 16 April 2013 pada 9:56 pm #

      Iya, ramai di bagian depan. Tapi begitu masuk lorong, akan mendapati suasana yang berbeda. Seakan tidak menyatu dengan keramaian di dekatnya.

  4. cputriarty 17 April 2013 pada 10:10 am #

    Wuiih, perumahan yang jarang sepi kayaknya mbak πŸ™‚ Btw cara taunya tema/minggunya ngecek dimana ya, apa saya yg kurang paham. Salam sukses selalu πŸ™‚

    • nurusyainie 18 April 2013 pada 12:25 pm #

      Iya, jarang sepi tuh hehehe…

      Untuk tema kedua sudah ada, setiap hari senin diposting di blog angingmammiri.com. Untuk liatnya bisa dibuka dari beranda/home-nya. Liat post terbaru πŸ™‚

  5. eksak 18 April 2013 pada 11:26 pm #

    Edede… issengi Nur, napakamma ta.. nabilangi maki okkots kodong e heranku ja, gammara mentong tawwa..

    Rupanna ali mangkasara Nur nah =P

    nantipi nakke maki ri mangkasara, nyamanna tawwa ^^

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: