[BeraniCerita #02] Perempuan Yang Sehat

13 Mar

Imelda menangis di samping jasad Mutiara, anak gadisnya. Dia tahu hari ini akan tiba. Sejak dulu, dokter telah mengatakan padanya kalau Mutiara paling lama bertahan hanya sampai usia 18 tahun. Tapi ketika hari ini tiba, tetap saja dia tak bisa berpura-pura tegar meski sejak beberapa tahun lalu dia mulai mempersiapkan hatinya untuk hari ini.

Dia mengutuki dirinya yang melewati masa muda dengan hidup semaunya. Menikmati apa yang dia mau. Hingga ketika dia mengetahui dia sedang hamil, dia buang semua koleksi rokoknya. Dia singkirkan minuman keras yang ada di lemari es. Dia mulai membaca buku tentang kehamilan. Mengkonsumsi susu dan makanan sehat yang baik untuk kehamilannya.

Ketika Mutiara lahir, saat itu dia tahu apa yang dia lakukan di sembilan bulan terakhir, semuanya telah terlambat. Mutiara yang cantik tetap tak seperti mutiara lain.

*

Sepulang dari melayat tetangga yang barusan meninggal, Ibu mendudukkanku di pangkuannya lalu dipeluk. Dagu Ibu menyandar di bahuku .

“Kamu tahu kan kalau Ibu sayang sekali sama semua anak-anak Ibu? Ibu tidak dapat membayangkan jika kalian sakit parah.”

Aku mengangguk.

“Ibu sering melarang kalian melakukan ini itu, Ibu menyuruh kalian belajar bertanggungjawab, semua untuk kebaikan anak-anak Ibu. Kalau kalian membantah apa yang Ibu katakan, Ibu sedih.”

Aku masih mendengarkan meski tidak mengerti ke arah mana maksud pembicaraan Ibu.

Terdengar lagi helaan napas.

“Mutiara. Gadis manis dan baik hati. Ibu  ingat sekali, terakhir bertemu waktu Ibu baru pulang dari pasar. Dia membantu membawakan belanjaan Ibu. Itu tiga hari yang lalu.”

Aku teringat senyum Mutiara yang memang manis. “Kak Muti memangnya kenapa pergi secepat itu, Bu?”

“Sakit Jantung Bawaan, Nak.”

Aku bergidik. Tidak tahu tentang penyakit itu, tapi kedengarannya begitu mengerikan.

“Nak, perempuan itu harus sehat. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk keturunannya nanti.”

“Maksud Ibu?” Aku tidak mengerti.

“Perempuan yang menerapkan pola hidup sehat sejak masih muda, anak-anaknya nanti juga akan sehat. Mengandung seorang bayi memang hanya 9 bulan. Tapi mempersiapkannya, bahkan sebelum menikah.”

Ibu menurunkanku dari pangkuan dan membalikkan badanku menghadapnya.

Sambil memegang pundakku, Ibu menatapku dalam-dalam lalu berkata, “Sedang tugas seorang lelaki, mempersiapkan biaya persalinan jauh sebelum menikah.”

Aku bengong, perasaanku mulai tidak enak. “Apa sih maksud Ibu? ”

“Ibu ingin, nanti kalau kamu cari istri, carilah perempuan yang sehat yah, Nak. Ibu ingin cucu-cucu ibu sehat semua.”

Hah?! Aku kan masih kecil, Bu!

***

Jumlah kata: 375

banner-BC#02-winner

 

Iklan

11 Tanggapan to “[BeraniCerita #02] Perempuan Yang Sehat”

  1. Mita Alakadarnya 14 Maret 2013 pada 9:04 am #

    masih kecil udah di ajarin ibunya cari istri,,, ibu yang keren… 🙂

    • nurusyainie 14 Maret 2013 pada 9:59 am #

      Hahaha… saya teringat mama saya.
      Waktu masih SD, kalau lagi di dapur, mama suka ngajarin pekerjaan dapur sambil bilang, “Nanti kalau kamu berumah tangga, kamu juga akan melakukan ini. Jadi belajar dari sekarang.”

      Langsung kabur saya xixixixi… ^^

      • Mita Alakadarnya 14 Maret 2013 pada 10:08 am #

        hahahha,,,, kadang2 saya juga di gituin ama ibuk saya… 😀

  2. miss rochma 14 Maret 2013 pada 9:26 am #

    hihihi, endingnya itu lho, cetar banget. masih kecil gitu lho.. 🙂

    • nurusyainie 14 Maret 2013 pada 10:06 am #

      Hehehe… Mumpung masih kecil, soalnya kalo udah besar, gak bisa dibilangin tentang itu. 😀

  3. carra 14 Maret 2013 pada 1:03 pm #

    😆 iya itu endingnya nge gemesin banget sih 😆 jadi pengen towel2 pipi si “aku” :mrgreen:

  4. Hendra Wirawan 17 Maret 2013 pada 8:32 pm #

    dulu gw seorang perokok sebelm nikah, tapi begitu nikah dan menyadari ada kehidupan lain yang musti gw jaga dan hindarkan dari bahaya rokok maka gw putuskan buat berhenti merokok..eh nyambung gak sih komentnya ma cerita di atas hihihi

    • nurusyainie 18 Maret 2013 pada 9:30 pm #

      Masih nyambung kok hehehe… syukur deh udah insyaf Om 😀

  5. rinibee 24 Maret 2013 pada 8:47 am #

    WKwkwkwk.. Si ibu semangat bener memberi arahan.. 😀

    Bagus ceritanya mba.. 🙂

    • nurusyainie 27 Maret 2013 pada 9:23 pm #

      Hehehe… padahal waktu bicara itu si Ibu sedang sedih loh 😀

      Makasih mbak Rinibee…. 🙂

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: