Prompt #4: Mengapa Aku Tak Punya Ayah

10 Mar

Deru motor berhenti. Tak berapa lama terdengar langkah kaki kecil berlari menghampiri.

“Ibu! Lihat! Aku bawa boneka untuk Risa!”

Ibu tersenyum kemudian berkata, “Lucu sekali. Mudah-mudahan Risa suka. Ibu antar ke kamarnya sekarang?”

Bayu mengangguk senang. Lalu mengikuti Ibu menemui adik barunya.

boneka untuk risa

Ibu meletakkan boneka bayi itu di samping Risa yang terlelap.

Bayu melihat ukuran mereka hampir sama. Tiba-tiba Bayu nyeletuk, “Risa sebenarnya muncul dari mana, Bu?”

Ibu kaget, tidak siap dengan pertanyaan tak biasa itu. Ibu masih memikirkan jawaban yang tepat, ketika Bayu melemparkan tanya yang lain.

“Trus, kapan aku punya Ayah? Teman-temanku selalu dijemput Ayah mereka. Mengapa aku tidak punya Ayah, Bu?”

“Tapi, ada Bunda yang jemput, kan?”

“Iya sih. Tapi tetap saja lain, Bu.”

*

Ibu bangkit menghampiri Bunda yang baru masuk. Wajahnya terlihat cemas.

“Bayi yang kita temukan, beritanya sudah tersebar. Pak RT bilang, Polisi dan Dinas Sosial akan datang kemari. Bunda khawatir, wartawan juga ada.”

“Lalu?”

“Kemungkinan Risa akan mereka ambil.”

“Kenapa bisa? Kan ada di depan rumah kita.”

“Tidak berarti langsung jadi milik kita.”

“Adopsi?”

Bunda menggeleng. “Tidak mungkin. Terlalu banyak syarat, dan kita tidak mungkin bisa mengadopsi.”

“Bayu dulu bisa.”

Psssttt…,” Bunda mengecilkan suaranya. “Kasusnya beda dan tidak ada orang lain yang tahu.”

Ibu menoleh ke kamar di mana Bayu sedang mengamati Risa. “Kasihan Bayu. Dia baru saja senang punya adik.”

Bunda menatap ke arah yang sama. Lalu mereka bertatapan. Lama.

“Terlalu banyak resiko yang kita pertaruhkan,” Bunda menghela nafas berat. “Hubungan kita, status Bayu.”

Hening sesaat.

“Sepertinya, kita harus mulai terbiasa tanpa Risa.”

Keputusan Bunda memecah tangis Ibu.

*

Dikejauhan, Bayu menatap bingung saat dua wanita dalam hidupnya itu saling berangkulan. Tetap saja, Bayu tidak mengerti mengapa dia memiliki Ibu dan Bunda tapi tak mempunyai Ayah.

***

Jumlah kata: 283

Iklan

30 Tanggapan to “Prompt #4: Mengapa Aku Tak Punya Ayah”

  1. Carra 10 Maret 2013 pada 1:53 pm #

    twist nya haluuuuuuuusss banget…

    SUKAK!!!! ^___^

    • nurusyainie 10 Maret 2013 pada 2:51 pm #

      Makasih… 😀

      Berarti tadi saya bener nyetrikanya hingga haluuuuus *eh

  2. Diah Kusumastuti 10 Maret 2013 pada 2:28 pm #

    eehhhh…. lesbian yah….? aduh kasian Bayu :((((

    • nurusyainie 10 Maret 2013 pada 3:00 pm #

      Ho’oh mak Diah
      Terinspirasi dari berita terbaru, pasangan lesbian yang menikah di Disney Tokyo.

      Setelah saya googling, saya nemu blog lesbian yang menceritakan bahwa mereka sebenarnya berkeinginan mempunyai anak, tapi hukum di negara kita tidak mengakui hubungan itu, sehingga mereka tidak bisa mengadopsi anak. Jadi mereka memilih miara hewan saja.

      Tapi, ada juga yang kasusnya seperti Bayu, adopsi ilegal.

      • Hendra Wirawan 10 Maret 2013 pada 3:35 pm #

        sempat bingung dengan dua nama IBU dan BUNDA ternyata oh ternyata…

        • nurusyainie 10 Maret 2013 pada 3:52 pm #

          Hehehe… tadinya mau pakai Ibu dan Mama, tapi jangan ah. Saya manggil mama ke orang tua perempuan saya ^.^

          • hana sugiharti 11 Maret 2013 pada 11:10 am #

            iya jangan mamah deh saya juga di panggil mama soalnya hihi apa hubungannya yah 😛

            kerenn pisan , mulusss 😀 jado setrika ihh

            • nurusyainie 11 Maret 2013 pada 7:17 pm #

              Makasih Mbak Hana 🙂

              Untung gak kepikiran pakai kata Ummi yah hehehe… bakal dijewer sama Mbak Nunung… 😀

  3. fatwaningrum 10 Maret 2013 pada 3:08 pm #

    keren! 🙂

  4. Iwan Yuliyanto 10 Maret 2013 pada 3:25 pm #

    Sudah menangkap maksudnya, pengolahannya halus.

    • nurusyainie 10 Maret 2013 pada 4:04 pm #

      Makasih pak Iwan 🙂

      Udah 2 nih yang nyebut halus. Meski gak ngerti2 amat halusnya di mana hehehe…

  5. Istiadzah 10 Maret 2013 pada 4:33 pm #

    keren, mak, ide dan cara penyampaian ceritany ngalir pelan. seperti kata mak carra: haluussss.. (y) saya suka, saya suka!

    • nurusyainie 10 Maret 2013 pada 4:48 pm #

      Makasih Mak Isti… 🙂

      Wah, mengapa saya tiba2 menjadi suka sama kata HALUS 😀

  6. MamaWilda 10 Maret 2013 pada 6:14 pm #

    wah, berarti harus belajar nyetrika nih sama Mak Nur biar halus.. hehe.. 🙂

    suka juga Mak.. kerenn..

    • nurusyainie 10 Maret 2013 pada 6:58 pm #

      Hehehe… makasih Mak Wilda 🙂
      Kalo nyetrika kan yang penting setrikanya panas xixixixi…

      #Eh, belum ada kripik pedasnya nih. Sapa tahu saya terlewat sesuatu

  7. sulunglahitani 10 Maret 2013 pada 9:08 pm #

    kereen, mbak 🙂

  8. latree 11 Maret 2013 pada 8:18 am #

    keren.

  9. nisamama 11 Maret 2013 pada 10:04 am #

    whoaaa. hebat ide inih! keren ceritanya, penyampaiannya juga. 😉

  10. ibuseno 11 Maret 2013 pada 2:41 pm #

    kereen.. suka critanya.
    masih bingung aku bikin fiksi mini

    • nurusyainie 11 Maret 2013 pada 7:06 pm #

      Hehehe… makasih teh Icho
      Gabung yuk ke Monday Flash Fiction, kita belajar bareng2 🙂

      • ibuseno 11 Maret 2013 pada 7:48 pm #

        Oh ada yaaa… by thema gitu ?

  11. diah indri 11 Maret 2013 pada 5:35 pm #

    cerita yg kontroversi tapi bener deh jadi halus

    • nurusyainie 11 Maret 2013 pada 7:11 pm #

      Hahaha… iya kontroversi 🙂
      Makin suka sama kata HALUS nih xixixixi…

      Makasih mbak Diah Indri 😀

      • diah indri 11 Maret 2013 pada 7:44 pm #

        besok bikin yang halus2 lagi ya mak 😉

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: