[BeraniCerita #01] Sheila

6 Mar

Decit mobil mengganggu tidur Sheila. Dibuangnya bantal yang menutupi wajahnya. Disibak selimut. Dia melangkah ke jendela. Di luar, di bawah sana dia melihat dua buah mobil baru saja berhenti. Dia teringat percakapan semalam yang membuatnya marah besar terhadap lelaki yang baru tiga bulan dinikahinya. 

Itu pasti mereka, pikirnya. Sheila segera memakai jubah untuk menutupi gaun tidurnya yang seksi. Kakinya belum mencapai anak tangga terakhir, ketika pintu rumahnya telah terbuka.

“Hei!” serunya kaget.

Empat lelaki masuk. Dia mendekati lelaki berkemeja putih.

rumah tua

“Sam, semalam saya sudah bilang rumah ini tidak dijual. Mengapa kamu masih mengajak mereka ke mari?”

Lelaki berkemeja putih itu menatap kosong padanya, menghembuskan nafas kemudian menggeleng. Lalu berjalan melewatinya mengikuti ketiga lelaki lainnya yang sedang melihat-lihat rumahnya.

Sheila mengikuti mereka. “Kamu tidak berhak menjualnya, Sam. Ini peninggalan orang tua saya. Kamu laki-laki bejat yang hanya mengincar harta saya. Kamu .…” Sheila terus memaki. Menyumpahi Sam. Mengikuti ke mana Sam mengajak ketiga lelaki lainnya yang tidak memperdulikan protesnya.

Nafas Sheila ngos-ngosan. Rupanya mereka telah tiba di anak tangga teratas. Sheila melihat Sam sedang menjelaskan ruangan apa saja di lantai itu. Salah satu lelaki menyatakan keinginannya melihat kamar paling besar.

“Awas saja, Sam kalau kamu izinkan mereka memasuki kamar saya.”

Sam berpaling. Menatapnya sejenak. Tingkahnya jadi aneh.

“Enggg, kamar itu terkunci. Saya lupa di mana menaruh kuncinya. Kita lihat kamar yang lain saja. Bagaimana?”

Heh?! Sheila kaget mendengarnya. Tadi dia baru saja keluar dari kamar itu.

Sheila melihat salah satu lelaki yang berkumis lebat, seakan mengerti jalan pikirannya. Lelaki itu memutar gerendel pintu. Klik. Macet.

Terkunci? Bagaimana bisa? Sheila menatap Sam, minta penjelasan. Sam malah terlihat lega saat pintu itu benar-benar terkunci.

*

Kunjungan mereka telah selesai. Sheila duduk ditangga menatap pintu depan.

“Kami tertarik dengan rumah ini, pak Sam. Saat pertama kali masuk, kesan kunonya sangat kentara. Kalau surat-suratnya sudah lengkap, hubungi kami. Selanjutnya kita bisa bicarakan soal harga. ”

Sam mengantar ketiga tamunya keluar.

“Oh yeah, setidaknya kamu tidak bisa menjualnya tanpa surat-surat yang saya sembunyikan, Sam.” Sheila kembali mengikuti Sam.

Di depan kamar, Sheila melihat Sam merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci.

“Bagaimana kamar ini bisa terkunci?”

Rasa heran Sheila belum hilang saat dia melihat Sam menyingkirkan sebuah bantal besar. Sebuah wajah pucat ada di bawahnya. Tiba-tiba sebuah lengkingan menyayat keluar dari mulutnya saat menyadari itu wajahnya.

***

Jumlah kata: 379

Iklan

15 Tanggapan to “[BeraniCerita #01] Sheila”

  1. nisamama 6 Maret 2013 pada 6:59 pm #

    Hah? jadi baru aja meninggal?? huaaaa…. *merinding*

  2. Carra 6 Maret 2013 pada 8:52 pm #

    ini salah ini bacanya malem gini >__<

  3. hana sugiharti 6 Maret 2013 pada 9:03 pm #

    kerenn ihh saya belom bisa nulis yang serem

  4. Mita Alakadarnya 7 Maret 2013 pada 8:47 am #

    serem mbak ceritanya…

    • nurusyainie 7 Maret 2013 pada 8:41 pm #

      Ohya?
      Padahal nulisnya malam2 deket jendela terbuka, ditiup angin malam yang dingin.
      Mungkin suasana itu terbawa dalam cerita yah 🙂

  5. noichil 7 Maret 2013 pada 1:07 pm #

    Hwooo… Sheilanya jadi hantu? O.o

    • nurusyainie 7 Maret 2013 pada 8:43 pm #

      Hmmm… saya lebih suka mengatakan itu roh Sheila yang belum nyadar terpisah dari jasadnya

      *fantasi yang kebablasan hehehe

  6. Miss Rochma 8 Maret 2013 pada 8:51 pm #

    wah, ini kok aku bacanya malam gini? *tutup lepi*

    • nurusyainie 8 Maret 2013 pada 9:20 pm #

      Wah… berarti harus ada peringatan dulu yah 😀

      “Cerita ini jangan dibaca malam hari, apalagi sendirian”

  7. Yhuda Cahya Pratama 8 Maret 2013 pada 9:37 pm #

    hmmmm…… inspirasi dari film nie keknya 😀

    bagus, tapi setting yg di buat kurang mencekam. dan endingnya yg bisa di bilang twist kurang ya…..

    • nurusyainie 8 Maret 2013 pada 10:06 pm #

      Hehehe… emang dibuat tidak mencekam. Karena diambil dari sudut pandang Sheila. Lha wong dia sendiri yang buat takut orang kok 🙂

      Kecuali kalo sudut pandang Sam, yang tiba2 merasakan angin yang berembus di dekatnya, atau mendengar suara2 aneh, nah itu baru mencekam hihihi…

      Tadinya emang mau buat 2 PoV, termasuk sudut pandang Sam, seperti cerita mini saya di Saudaraku dan Ayahku.

      Apa yang sebenarnya Sam rasa dan lihat saat dia berpaling (yang dikira Sheila sedang melihat dirinya). Tapi, ketika saya coba lanjutkan ceritanya dari sudut pandang Sam, twist wajah pucat dan teriakan menyayat itu jadi gak ada artinya. Jadi dengan terpaksa sodara-sodara, ceritanya memang hanya sampai di situ saja.

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: