Saudaraku dan Ayahku

2 Mar

Setelah menempuh perjalanan panjang, Noura akhirnya berdiri di sebuah kantor besar. Dibagian depan terpampang papan nama, Simon Black & partners.
“Tuan Black telah menunggu Anda.”

orang2an

Simon mempersilahkan seorang gadis masuk ke ruang kerjanya.  Dari penampilannya yang lusuh, sepertinya gadis ini telah berjalan cukup jauh untuk tiba di kantornya. Dia sepertinya butuh bantuan hukum, pikirnya sesaat sebelum mempersilahkan gadis itu duduk.

Noura menatap lelaki di depannya yang masih membaca surat mendiang ibunya yang barusan dia berikan. Lelaki itu membaca sejenak lalu mengangkat kepalanya.
“Anda salah minta bantuan ke sini, nona Noura. Seharusnya Anda ke kantor polisi untuk melaporkan orang hilang.”
Noura masih menatap lekat lelaki itu. Mata coklat itu… rambut bergelombang itu…
“Saya rasa, Anda saudara saya Tuan Black!” kata Noura mengagetkan lelaki itu.

Ucapan gadis itu menyengatnya. Bagaimana mungkin? Sejak kecil dia telah diadopsi oleh keluarga Black. Badai yang memporak-porandakan kotanya berpuluh tahun lalu membuat dia harus kehilangan seluruh keluarganya. Seingat dia, dia tidak punya saudara perempuan. Kalau pun punya, tentu saudaranya itu berumur 30-an. Dan gadis muda ini?
“Baiklah nona Noura. Saya rasa Anda mengada-ngada.”
Simon mengembalikan surat itu dan memanggil security untuk menuntun gadis itu keluar.
“Dengarkan dulu penjelasan saya, Tuan. ”

Noura menggeliat berusaha lepas dari security. Sebelum pintu benar-benar tertutup, dia masih sempat berbalik dan berteriak, “Saya sudah mencari Anda bertahun-tahun, Tuan Black. Tiga hari lalu saya melihat facebook Anda dan menemukan kisah yang sama seperti yang selalu diceritakan Ibu saya.”

Simon terpaku di depan laptop. Sudah lama dia tidak membuka facebook. Pesan Noura dibacanya satu persatu. Ternyata Noura berusaha menghubunginya sejak tiga hari lalu. Pagi tadi dia diberitahu sekretarisnya, Noura membuat janji bertemu dengannya hari ini.

Salam Tn. Simon Black
Seperti yang Anda tahu, saya sedang mencari ayah dan saudara saya. Hanya mereka satu-satunya keluarga saya yang tersisa. Saya harus menemukan mereka. Membaca catatan-catatan tentang masa kecil Anda, saya rasa Andalah saudara  yang selama ini saya cari. Saya berusaha bertemu Anda. Hari ini saya makin yakin saat melihat mata dan rambut Anda. Sayangnya, Anda tidak memberi saya kesempatan untuk menjelaskannya. Saya ingin sekali mengatakan bahwa test DNA adalah jalan untuk menyakinkan Anda, tapi saya tidak mempunyai biaya untuk itu. Tapi tanpa test itu, saya yakin bahwa Anda adalah saudara saya.

Noura menekan enter.

Terbuai dengan masa kecil yang samar-samar diingatannya, Simon terkejut dengan bunyi bip tanda satu pesan masuk. Ingin dia mengabaikan saja pesan itu, namun tangannya justru membalasnya.

Salam Nona Noura
Kejadian masa kecil saya yang mengalami badai dahsyat juga dialami oleh berpuluh bahkan beratus anak-anak saat itu. Anda salah nona, saya tidak punya saudara perempuan.

Belum lama, masuk pesan baru

Saya sudah bertemu beberapa dari mereka, Tuan. Tapi mereka tidak mempunyai kemiripan sebagaimana halnya keluarga. Hingga saya bertemu dengan Anda. Kita memang bukan saudara seayah. Tapi kita memiliki Ibu yang sama.

Noura senang saat Simon Black berkenan menemuinya lagi. Dari penelusuran Tn. Black sendiri soal masa lalunya, sepertinya mereka memang mempunyai Ibu yang sama. Begitu Noura masuk, Tn. Black segera memeluknya erat. Dia membisikkan kata-kata yang terdengar seperti hasil test. Tapi Noura tidak terlalu jelas mendengarnya. “Lalu, bagaimana dengan ayahmu?”
Noura melepaskan pelukannya. Wajahnya tiba-tiba muram.

Simon Black meletakkan hasil test DNA saat Noura masuk ke ruangannya. Dia langsung memeluk adik perempuan yang baru diketahuinya itu.
Saat dia menanyakan soal ayah Noura, gadis itu tiba-tiba diam.
“Saya akan membantu mencarinya.”
“Saya tidak yakin dapat menemukannya. Bahkan ibu tidak mengetahui siapa ayah saya sebenarnya. Beberapa hari sebelum Ibu meninggal, Ibu cerita tentang malam naas itu. Saat itu pulang kerja ….”
Badan Simon menjadi kaku. Nafasnya menderu. Entah mengapa cerita Noura mengingatkannya pada suatu malam sepulang dari Prom Night bersama teman-temannya dalam keadaan mabuk.  Di jalan mereka menghadang seorang wanita dan menggilirnya. Esoknya, dia terbangun di atas tubuh seorang wanita yang tak sadarkan diri.

Simon menatap Noura shock.

Iklan

12 Tanggapan to “Saudaraku dan Ayahku”

  1. helda 3 Maret 2013 pada 12:36 am #

    Jadi..Oo..benarkah mba??

  2. fatwaningrum 3 Maret 2013 pada 8:56 am #

    tragissss T_T

  3. Mayya 3 Maret 2013 pada 11:24 am #

    Eh ya ampun! Keren mbak!

    • nurusyainie 4 Maret 2013 pada 9:59 pm #

      Eh ya ampun! Makasih mbak!

      *kaget 🙂

  4. Istiadzah 3 Maret 2013 pada 11:22 pm #

    oh ternyata simon bapak dan kakaknya… tiidaaaakkkk….

    • nurusyainie 4 Maret 2013 pada 10:23 pm #

      Hehehe… ketebak juga yah 🙂

      Tadinya mau saya kasih judul -Saudaraku adalah Ayahku-, tapi kok langsung ketebak dari judulnya. Lalu saya ganti lagi jadi -Saudaraku, Ayahku-, tapi kayaknya masih ketebak juga. Jadi saya tambahkan kata “dan” saja, tapi saya masih kurang sreg juga dengan judulnya. terlalu biasa. Tapi karena saya belum punya ide lain soal judul yang cetar membahana, jadinya judul yang ini tetap dipake 😀

  5. Aisyah S. A. 21 Maret 2013 pada 11:48 am #

    oh My…

    orang mabuk itu bener2 temennya syaiton yah.. ckckck

    Fiuuuuh..! untunglah saya udah bkin prompt # 6 duluan, baru baca sumber tema nya. jadi bikinnya rada nyantai, klo gak pusinglah saya tujuh keliling.. hihihi..

    cerita yg ini gak tertandingi, keren 😀

    • nurusyainie 22 Maret 2013 pada 7:49 am #

      Hehehe… iya, mabuk memang bener2 gak baik.
      Makanya saya buat ceritanya dengan setting luar. Soalnya di masyarakat kita, itu bukan hal yang baik.

      Makasih mbak 😀

  6. RedCarra 21 Maret 2013 pada 12:54 pm #

    oooooo… ini cerita aslinya :mrgreen:

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: