Angkot

13 Feb

Hari masih begitu pagi. Sebuah acara penting telah membuat saya keluar lebih awal agar tidak terlambat mengingat jauhnya tempat acara tersebut.

angkot

Angkot 1B, jurusan kota berhenti di hadapanku. Penumpang hanya kami bertiga. Bapak tua yang duduk tepat di belakang sopir, anak usia SMP duduk dekat pintu masuk, dan saya sendiri yang memilih duduk di sudut, sejajar dengan anak itu.

Depan gedung SPG, angkot berhenti lagi dan menaikkan penumpang seorang lelaki yang langsung duduk sejajar dengan bapak tua dan hampir berhadapan dengan saya. Sekilas, pandangan saya menyapu sosok lelaki itu.

Rambut awut-awutan. Mata sembab baru bangun tidur. Baju dan celana Jeans yang robek di lutut. Dan beraroma alkohol. “Sepertinya dia mabuk.” Pikir saya yang tiba-tiba tidak senang dengan kenyataan itu.

Duduk menjadi tidak nyaman. Pandangan saya alihkan keluar jendela. Saya merasa dia terus memperhatikan saya, satu-satunya perempuan di angkot. Lelaki itu bergerak. Ujung mata saya melihat dia mengeluarkan sesuatu dari celananya. Berkilau tertimpa matahari pagi. Deg!

Otak saya langsung membunyikan alarm. Tujuan saya masih jauh, namun tetap berada di angkot dengan lelaki yang terus memegang barang itu sambil mengoceh tidak jelas dan terus memperhatikan saya, jauh lebih berbahaya.

“Minggir.”Angkot berhenti.

Saya turun meninggalkan lelaki dengan sebilah pisau di tangannya.

***

Awalnya, tulisan ini saya buat bulan Februari 2012 saat mengikuti Audisi menulis, dimana harus berbentuk flash true story. Jadi, tepat setahun lalu. Mengapa akhirnya saya publish? Selain karena tidak lolos audisi, tulisan ini saya yakini mewakili kisah-kisah para perempuan yang turut menggunakan angkot sebagai salah satu transportasi dan mengalami kejadian tak mengenakkan. Salah satu kasus Mahasiswi UI loncat dari Angkot, masih hangat diperbincangkan.

Iklan

5 Tanggapan to “Angkot”

  1. Mita Alakadarnya 13 Februari 2013 pada 12:58 pm #

    sekarang saya agak was-was kalau naik angkot, takut terjadi hal-hal yg gk diinginkan
    padahal dulu pas masih sekolah sekitar 3 tahun yg lalu, udah biasa naik angkot, dan gk pernah merasa was-was.

    • nurusyainie 13 Februari 2013 pada 2:50 pm #

      Saya juga dulu anteng aja kalo mo pergi sendiri naik angkot. Sekarang mikir seribu kali kalo pergi sendiri, apalagi kalo malam hari
      Akhirnya lebih sering nebeng mobil sodara hehehehe ^^

      • Mita Alakadarnya 13 Februari 2013 pada 2:54 pm #

        saya lebih suka pake motor mbk,, apalagi klu malam,,

        • nurusyainie 13 Februari 2013 pada 3:55 pm #

          Wah, malah lebih bagus. Lebih aman pakai kendaraan sendiri 🙂

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: