[BeraniCerita #1] Durhaka

12 Feb

Kaki mungil Bim tergopoh-gopoh mengikuti langkah ibunya.

“Cepat, kita bisa terlambat.” Perempuan muda itu menarik tangan anaknya dengan kasar. “Kalau tempat kita diambil orang lain, uang kita bisa sedikit hari ini.”

Begitu tiba di Mall XIX, perempuan itu melihat anak tangga ketiga dekat pintu II Mall besar itu, tempat biasa anak lelakinya duduk, masih kosong. Kelegaan terpancar dari wajahnya.

“Ingat Bim, pasang wajah sedih biar orang-orang kasihan.” Lalu ditinggalkan anak lelaki itu duduk sambil menengadahkan kaleng bekas ke setiap orang yang lewat, di anak tangga ketiga.

Di kejauhan, perempuan muda itu tersenyum saat ada seorang ibu yang mengelus kepala Bim sambil memberikan beberapa uang koin. Dia tahu bahwa pintu II itu memang paling strategis.  Dia sudah memperhatikan sejak lama, banyak orang memilih keluar dari pintu itu karena lebih dekat dengan parkiran dan jalan raya.

“Bu, tadi ada yang bertanya mengapa Bim tidak sekolah.” Katanya saat mereka pulang.

Perempuan itu mendelik, “Lalu, kamu jawab apa?”

“Bim tidak punya uang.”

***

Batuk yang menderanya, membuat perempuan itu semakin ringkih. Ia menutup mulutnya dengan selendang lusuh yang selalu dibawanya, agar dahaknya tidak menyembur.

Ia menganggukkan kepala tanda terima kasih setiap ada receh yang jatuh ke kaleng di hadapannya.

Di kejauhan, nampak anak lelaki satu-satunya yang beranjak dewasa sedang berkumpul dengan teman-temannya di parkiran.

Pagi tadi, Bim mengantarnya ke Mall XIX dan mendudukkannya di anak tangga ketiga.

***

“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”

Iklan

18 Tanggapan to “[BeraniCerita #1] Durhaka”

  1. ibuseno 16 Februari 2013 pada 9:35 am #

    menarik ceritanya.. aku koq ga pandai bikin fiksi 🙂

    • nurusyainie 16 Februari 2013 pada 10:01 am #

      Makasih teh Icho 🙂

      Saya pun masih banyak belajar, makanya ikutan grup2 fiksi biar makin ngerti caranya bikin fiksi.
      Cerita ini pun lama ngendapnya di draft. Saya sampe baca buku tentang durhaka segala saking seriusnya hehehehe

  2. Miss Rochma 21 Februari 2013 pada 8:39 am #

    ya ampunnn,,, sedih baca cerita ini 😦

    • nurusyainie 21 Februari 2013 pada 8:47 pm #

      Iya Miss… meski ini hanya fiksi tapi di luar sana sebenarnya ada kisah yang hampir mirip dengan ini.

      Memilukan 😦

  3. Dadang A Santoso 21 Februari 2013 pada 8:12 pm #

    Mbak, saya baru paham setelah baca berulang2. Kirain tadi ada kelanjutannya atau apa, ternyata itu emang udah full ceritanya. Soalnya ga ditunjukkan “beberapa tahun kemudian”, jadi ga tahu kalo dia udah tua & anaknya beranjak dewasa. Menurutku sebenarnya bukan durhaka, itu karena ibunya yang mendidiknya jadi pengemis. Seorang ibu yang mendidik anaknya jadi pekerja keras, walaupun tukang rosok sekalipun. Suatu saat anaknya juga akan jadi pekerja keras dan sukses walaupun jadi bos pengumpul barang bekas. (Tapi perlu diketahui, pengumpul barang bekas gajinya lebih tinggi dari PNS)

    • nurusyainie 21 Februari 2013 pada 9:11 pm #

      Hehehe… ini memang hanya flash fiction, Ae. Fiksi kilat.
      Pembaca hanya diberi informasi yang sangat sedikit. Jadi pembaca bisa menyimpulkan sendiri… oh, ternyata ceritanya begini toh.

      Terkait tulisan ini, saya khusus meluangkan waktu untuk membaca buku “Fenomena Orang Tua Durhaka”nya Idrus Hasan. Banyak sebab hingga disebut durhaka. (lebih jelasnya bisa di googling bukunya, atau dicari dan dibaca sendiri yah)

      Supaya berimbang saya pakai sebab akibat. Bahwa dibalik anak yang durhaka, sebenarnya orangtua lebih dulu berbuat itu terhadap anak.

      Semoga kita tidak termasuk orang2 yang durhaka terhadap orang tua dan anak2

      CMIIW

  4. Susanti Dewi 1 Maret 2013 pada 2:14 pm #

    Saya bacanya berulang2, baru ngeh… kalo apa yg dilakukan ibunya dulu kepada anaknya, menjadi berbalik. BTW selamat ya… sudah menjadi salah satu pemenang nya:)

    • nurusyainie 1 Maret 2013 pada 10:46 pm #

      Hehehe… FF memang kilat tapi bacanya kudu hati2, pelan2 saja. Ada kata yang dianggap biasa, bisa jadi diakhir cerita justru kata itu menentukan alur cerita.

      Makasih mbak Susanti 🙂 Terima kasih sudah mampir

  5. Istiadzah 1 Maret 2013 pada 4:05 pm #

    oh, miris sekali bacanya.. T_T
    pantas mba menang 🙂 selamat ya, mba!

  6. laili umdatul 2 Maret 2013 pada 2:20 pm #

    singkat memang.. tapi .. mengharukan

    • nurusyainie 4 Maret 2013 pada 9:02 pm #

      Alhamdulillah kalo memang mengharukan.
      Makasih mbak Laili… 🙂

  7. helda 3 Maret 2013 pada 12:46 am #

    Layak jadi pemenang nih Mbak, bagus ceritanya, selamat ya 🙂

    • nurusyainie 4 Maret 2013 pada 9:46 pm #

      Makasih telah diapresiasi Mak Helda… 🙂

  8. Evi Shoka (@VeeAshardi) 4 Maret 2013 pada 12:24 pm #

    mbak keren mba.. udah fall in love sejak pertama kali baca ( jauh sebelum pengumuman ) :D… boleh copas kah? 😀

    • nurusyainie 4 Maret 2013 pada 9:49 pm #

      Ohya? Wah, makasih 🙂
      Hehehe… boleh, asal tetap dicantumkan sumber aslinya yah 🙂

Trackbacks/Pingbacks

  1. #Repost Durhaka | StickyNote - 7 Maret 2013

    […] Fiction ini saya ambil dari blognya mba Nurusyainie ,  So monggo berkunjung kesana kalau ingin lihat karya – karya keren […]

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: