Pandangan Pertama: “Iiiih, Lucunya.”

18 Jan
Kucing.
Makhluk lucu itu sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Saat SD, saya sudah menyadari kehadiran kucing 3 warna yang sering hilir mudik di rumah. Menjelang pukul 15 setiap hari, kucing betina itu akan duduk di halaman menghadap jalan raya, setia menunggu Papa pulang dari kantor. Setahu saya, memang hanya Papa yang menyayangi kucing itu. Makanya, dia gak berani masuk rumah kalau Papa belum datang   *kucing pinter hihihihi… ^,^
Saya pun sering melihat kucing2 lain berkeliaran di sekitar saya. Tapi, tak satu pun dari mereka mampu meluluhkan hati saya hehehe…
400889_2428160391351_92809383_n
Tapi, bagaimana hingga akhirnya saya jatuh cinta pada mereka? Bahkan kini saya bisa jatuh cinta berulang kali melihat mereka? Baiklah, sebelum saya mulai… saya ingin mengarahkan pembaca bahwa ini adalah kisah masa kecil saya, di mana untuk pertama kalinya saya merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi tolong bayangkan saat saya masih kelas 1 SMP yang penampilannya masih unyu2 dan imut2 xixixixi… ^.^
Cekidot…

Saya ingat sekali, saat itu menjelang maghrib saya baru pulang sekolah (kalau ini saya lupa habis ngelayap ke mana baru pulang jelang sore hehehe…). Takut2 masuk rumah. Bakal diomelin ato disindir2, gak ya?

Begitu Papa melihat saya datang (dari lagaknya, sepertinya papa sedari tadi memang mencari saya), langsung dibawa ke rak buku. Bingung. Emang ada apa?

“Coba kamu lihat di bawah!”

Kujongkok. Masih bingung. Itukan kucing Papa. Ada apa dia di rak buku saya?

Menyadari kebingungan saya, Papa menjulurkan tangannya melewati kucing tiga warna itu. Saat itu suasana agak temaram dan rak buku itu menjorok ke dalam, jadi saya benar2 tidak tahu ada apa di balik kucing yang sedang bergelung itu.

3 bayi kucing

Begitu Papa mengeluarkan makhluk mungil itu…

“Iiiiiiih, lucunya, Pa.”

Saya bersorak. Untuk pertama kali dalam hidup, saya melihat bayi. Bayi kucing yang begitu kecil, lembut, hangat, dan rapuh. Saya sampai hati2 mengangkatnya.

Ya Allah, saya benar2 tidak bisa melupakan luapan kegembiraan saat itu.

Tidak! Ini tidak sama ketika saya melihat kucing2 lain di luaran sana.  Kegembiraan ini juga tidak sama ketika saya dibelikan kotak pensil hijau di Toko Cipta Baru. Atau dibelikan boneka lucu yang kalau dipencet menimbulkan bunyi.

Kali ini beda. Saya seperti mendapat mainan baru yang bisa bergerak tanpa perlu baterai atau remote untuk menggerakkannya, yang bisa saya curahkan kasih sayang, yang bisa saya rawat, dan segala hal yang saya sendiri gak bisa ungkapkan.

Mulailah hari2 saya disibukkan dengan mengurusi tiga bayi kucing itu (padahal induknya masih ada hihihi…). Saya tidak lagi ngelayap kemana-mana. Pulang sekolah langsung ke rumah dan tempat pertama yang saya tengok adalah rak buku paling bawah tanpa sempat mengganti seragam. Bahkan tas saya masih menggelayut di pundak.

“Jangan dipegang-pegang!” tegur mama berulang kali.

Kakak2 saya pun sering mengingatkan.

“Nanti matanya kotor.”

“Bulunya nempel di badan kamu.”

“Nanti cepat mati.”

Hah?!

Dalam pikiran kanak2 saya, saya tahu tentang kematian. Tapi saya tidak mempersiapkan diri saya menghadapinya.

Ketika satu persatu bayi kucing itu mati, kesedihan yang luar biasa menimpa diri saya.

Kuelus tubuh mungil yang mengeras itu. Ya Allah, mereka masih sangat kecil. Bahkan saya belum memberi nama buat mereka. Hiks…

***

give-away-langkah-catatanku

Pandangan Pertama Special Untuk Langkah Catatanku

nb: sangat sulit bagi saya untuk mencari kisah tentang pandangan pertama karena saya termasuk susah untuk tiba2 suka pada sesuatu pada pandangan pertama. Satu2nya kisah yang saya ingat adalah ketika saya jatuh cinta untuk pertama kalinya pada bayi kucing dan sejak itu saya mulai memelihara kucing. Untuk pemberitahuan agar tidak ada salah paham nantinya, ini kisah lama yang saya tulis ulang dengan melakukan beberapa perubahan dan penambahan. Blogger gitu loh, hal seperti ini kalau baru ditulis tahun 2013 agak terlalu getooo hihihi… jadi, turut meramaikan GA-nya Idah Ceris aja 🙂

Iklan

11 Tanggapan to “Pandangan Pertama: “Iiiih, Lucunya.””

  1. Bayu Iman Nurcahyo (@bayu_nomad) 18 Januari 2013 pada 7:02 pm #

    Kucingnya lucu, semoga bayi kucingnya jadi sayang juga sama kamu, haha

    • nurusyainie 18 Januari 2013 pada 8:33 pm #

      Hehehe… kucingnya emang lucu. Bayi kucing dalam cerita saya emang telah “pergi” tapi saya mendapatkan banyak bayi2 kucing lainnya 🙂 Dan saya banyak belajar dari kematian beberapa dari mereka.

      Dan yah, saya merasa kucing2 saya menyayangi saya hahaha… ^.^

  2. Titik Asa 18 Januari 2013 pada 9:49 pm #

    Suka kucing ya mba?
    Sama nih sama dua anak perempuan saya yg suka banget sama kucing…
    Salam,

    • nurusyainie 19 Januari 2013 pada 9:27 pm #

      Hehehe… iya sukaaaa 🙂
      salam buat dua anak pak Dhe, salam dari sesama penyuka kucing 🙂

  3. titi esti 20 Januari 2013 pada 6:47 am #

    salam kenaaal… jatuh cintanya sama kucing ya Mak..

    • nurusyainie 21 Januari 2013 pada 6:47 pm #

      Salam kenal jugaaaa… 🙂

      hihihi… iyaaah, jatuh cinta setengah mati

  4. pink 21 Januari 2013 pada 12:39 pm #

    hehehe ….kucing memang lucu tapi aku takut mba

    • nurusyainie 21 Januari 2013 pada 7:05 pm #

      Hehehe… iyah lucuuuu

      Kenapa takut mba? Ada trauma kah?
      Beberapa teman saya juga geli kalo deket kucing.

  5. Idah Ceris 26 Januari 2013 pada 1:25 pm #

    Kalau saya geli sama kucing tuh, Mba. . hihihi
    Mungkin karena belum terbiasa dan belum bersahabat dengan mereka kali ya. 😉

    BTW, ketiga kucing tersebut mati karena apa ya, Mba. Kasian bangettt ya.

    Terimakasih sudah ikut meramaikan syukruan di Langkah Catatanku, Mba.
    Salam Senyuum. . . ^_*

    • nurusyainie 2 Februari 2013 pada 9:53 am #

      Wah, mati karena apa yah? Saya juga kurang tahu. Kan saya masih SMP saat itu 🙂

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: