#Postcardfiction: Long Distance Relationship

31 Des

long-distance relationshipSaya tidak berharap banyak, tapi maukah kamu menungguku?
Ya.
Meski kamu tahu kalau pekerjaan saya tak memungkinkan untuk selalu menyapamu setiap hari?
Saya mengerti.

Olive membaca kembali history percakapan mereka di skype sebulan lalu.

Menunggu. Dia tahu bahwa dia bisa menunggu, meski dia tahu pula kalau dia akan menahan rasa rindu begitu besar saat Prima tak menyapanya selama beberapa hari.

Hari ini, beberapa kali dia membuka skype dan berharap Prima online di sana. Tapi lagi-lagi dia menghela nafas. Dia paham sekali. Toh, ini bukan pertama kalinya dan Prima selalu minta maaf saat akhirnya dia bisa online.

“Sorry, baru dapat signal.”

Olive selalu bergurau dengan mengatakan, “Makanya, kalau beli hp, jangan lupa beli dengan signalnya.”

“Kalau perlu, saya beli dengan towernya sekalian.”

Lalu mereka akan tertawa bersama. Tawa riang mereka mencairkan kebekuan yang selalu hadir di awal percakapan.

Tapi kali ini berbeda. Besok ulang tahunnya dan Olive ingin Prima ada untuknya.

Menunggu. Dia tahu bahwa dia bisa menunggu, tapi tidak orang tuanya. Diulang tahunnya nanti, Olive harus memperkenalkan seseorang. Kalau tidak, orang tuanya akan memperkenalkannya dengan lelaki lain.

Olive mengganti-ganti channel tv sambil sesekali melihat jam. Gelisah. Biasanya, pukul empat sore selepas piket, Prima akan online. Tapi, ini sudah lewat. Olive pasrah jika kali ini Prima ternyata berada di wilayah yang minim signal.

Hingga Olive berhenti pada satu headline news yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Tiba-tiba dia berteriak histeris. Lalu semua gelap.

Olive terbangun dipagi buta, setelah memanjatkan doa panjang, dia membuka laptopnya, login ke skype lalu mengklik nama Prima dan mulai mengetik:

Saya akan menjawab pertanyaan kamu tentang kado apa yang paling saya inginkan diulang tahun saya. Hari ini saya baru tahu kalau kado yang paling saya inginkan hanya satu, yaitu kamu pulang dengan selamat.

Olive menekan enter. Menutup laptop sambil berharap berpuluh-puluh kilometer di sana, Prima membaca pesannya.

* * *

Diikutsertakan pada #postcardfiction yang diadakan oleh
Kampung Fiksi dan Smartfren

Iklan

2 Tanggapan to “#Postcardfiction: Long Distance Relationship”

  1. tangan2satria 31 Desember 2012 pada 2:31 pm #

    tak ada salahnya jika olive harus selalu setia menunggu akan kehadiran prima yang berjuang untuk dirinya.akan tetapi seorang olive juga butuh kepastian…..
    tidak dengan menunggu dan sampai kapan harus selalu menunggu dan menunggu….!!!

    • nurusyainie 31 Desember 2012 pada 3:48 pm #

      Ya, Olive memang butuh kepastian hehehe…

      Kisahnya masih berlanjut kok

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: