Sakit Rindu

16 Nov

Umur 4 tahun, saya pernah berpisah beberapa hari dengan Mama.

Ingatan saya pada hari itu sangat kabur, saya hanya mengingat beberapa hal… itu pun secara samar-samar. Entah bagaimana… saya bersama Ray, kakak ketiga saya yang laki-laki, ikut sepupu saya pulang kampung. Apakah saya yang bersikeras ikut atau kah ada hal lain, saya tidak ingat. Yang pasti, hari itu untuk pertama kalinya saya jauh dari Mama.

Ingatan saya melompat kebagian yang saya ingat saat itu.

Senja telah menyelimuti desa. Saya dan Ray masih bermain di luar rumah. Entah bagaimana saya tiba-tiba ngambek. Dan saat ditanya ada apa, saya yang semula tidak bersuara malah menangis kencang. Bude dan sepupu saya bingung. Dan saya masih ingat saya menunjuk kakak saya sebagai penyebab tangis saya. Saya menuduhnya melempari saya dengan tanah. Padahal saat itu pun saya sendiri bingung mengapa saya tiba-tiba menangis.

Saya dibujuk untuk diam dan dibawa masuk ke rumah karena hari mulai gelap. Tapi suasana hati saya masih suram. Saya benar-benar tidak berminat pada apa pun saat itu, meski saya ditawari berbagai macam hiburan untuk menghentikan tangis dan ngambek saya.

“Iya, besok kita pulang.” Begitu bujuk Bude.

Itulah hari pertama yang saya lalui di kampung halaman bapak saya.

Pagi harinya, kami (saya dan Ray) di ajak ke rumah Bulik yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Bude. Bertemu dengan sepupu yang usianya hanya beda 3-4 tahun, saya kembali riang. Siang harinya kami bermain di sungai dekat rumah. Lalu diajak jalan-jalan ke hutan di belakang rumah. Hari kedua itu, saya lebih menikmati liburan bersama sepupu saya. Kakak saya? Entahlah… saya tidak terlalu ingat dia bermain bersama siapa saat itu. Yang saya tahu, dia tidak ikut bersama kami bermain permainan anak perempuan.

Menjelang malam, suasana hati saya agak lain. Meski saya masih tertawa-tawa bersama sepupu dan berebut tempat tidur agar bisa tidur bersama Nenek. Tapi, tengah malam saya merasa hawa sangat panas, terutama kaki saya. Saya melepas sarung. Namun hal itu tidak membantu mengatasi rasa panas ini.

Gelisah. Saya lalu turun tidur di lantai. Rasa dingin lantai sedikit mengatasi rasa panas yang saya rasakan. Rasa nyaman sempat membuat saya tertidur.

Tapi Bulik yang terbangun… kaget melihat saya berada di lantai mencoba membangunkan saya. Saat itu saya merasa tidur saya terganggu. Saya berkeras tetap berada di lantai. Bulik juga berkeras mengangkat saya dan mengembalikan saya ke tempat tidur.

Saya tidak tahu apa yang terjadi, karena Bulik berbicara dalam bahasa daerah dengan Palik dan Nenek. Bulik kelihatan panik.

Saya berhasil dikembalikan ke tempat tidur. Namun itu tak lama. Saat rasa panas yang saya rasakan sudah tak tertahankan, saya kembali turun ke lantai. Dalam keadaan setengah sadar, antara kantuk dan rasa panas yang mendera, secara samar saya ingat saya menangis saat Bulik berusaha mengembalikan saya ke tempat tidur. Saya masuk ke kolong tempat tidur agar Bulik tidak dapat menggapai saya. Dalam setengah tak sadar pula saya merasa mengecap rasa manis yang mengaliri tenggorokan saya. Samar-samar pula saya ingat menyentuh suatu benda dan menumpahkan isinya. Lalu saya merasa sekitar saya menjadi lengket.

Saat terbangun pagi harinya, saya masih berada di kolong tempat tidur dan di samping saya ada Bulik. Rupanya Bulik ikut tidur di lantai menemani saya, namun Bulik menghamparkan tikar sebagai alas tidur kami.

Saya lihat sebuah gelas dekat kepala saya telah pecah dan isinya tumpah mengenai rambut saya hingga saya merasa lengket. Ternyata rasa manis yang saya rasa semalam adalah teh dan saya telah menumpahkannya.

Mengapa saya dibuatkan teh tengah malam? Saya masih bingung apa yang terjadi. Tapi hari itu saya benar-benar tidak ingin bangun bermain seperti kemarin. Saya masih betah berada di kolong tempat tidur.

Entah berapa lama saya tertidur… saya terbangun ketika mendengar suara-suara di ruang tamu.

“Mama kamu datang.”

Berita yang dibawa sepupu saya seakan memberi kekuatan pada diri ini untuk merayap keluar dari kolong tempat tidur dan berlari menuju ruang tamu. Saya melihat mama dan papa ada di ruang tamu. Saya berlari ke arah pelukan mama.

Mama menciumi saya dan memegang jidat saya.

“Tidak panas.” Ujarnya.

“Berarti sudah sembuh. Sakit rindu itu namanya.” Saya tidak ingat siapa yang mengatakan itu. Tapi suasana ruang tamu saat itu langsung meriah.

Sakit? Siapa yang sakit?

Meski masih bingung dengan apa yang terjadi dan apa yang diceritakan Bulik, yang pasti saya sangat senang bertemu kembali dengan Mama dan Papa.

Hari itu juga kami pulang ke kota. Tapi cerita tentang saya sakit di kampung dan sembuh saat bertemu Mama, selalu saya dengar kisahnya. Dan mereka selalu menyebutnya kalau saat itu saya sakit rindu.

Sejak itu, seingat saya, saat masih kanak-kanak… setiap Mama pergi ke mana pun saya selalu ikut serta.

* * *

# Tulisan ini untuk kembali mengenang saat2 mesra bersama Mama yang sekarang makin jarang saya rasakan. Perbedaan cara pandang terhadap suatu masalah sering membuat kami berdebat. Perasaan bersalah sering kali membuat saya menangis, terutama saat saya kembali mengenang masa kecil saya yang penuh dengan cinta kasih Mama.

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: