Aku dan Pilihan Profesiku

12 Nov

Saya selalu percaya bahwa untuk menjadi seorang guru, tak selalu harus memiliki basic sekolah keguruan. Keyakinan itulah yang membuat saya menerima tawaran menjadi guru di salah satu Madrasah. Berbekal basic ilmu saya di Ekonomi, saya akhirnya menjadi guru Ekonomi di Madrasah Aliyah Swasta di kota saya.

“Kamu mau jadi guru?”

Saya terdiam.

“Gajinya sekian…” Lelaki itu yang juga mitra di salah satu organisasi di mana saya menjadi Bendahara menyebutkan sejumlah angka.

Saya kembali terdiam. Sungguh, bukan angka yang barusan disebutkan itu yang membuat saya terdiam. Dan saat itu pun saya tidak dalam keadaan terdesak masalah keuangan. Alhamdulillah, saya masih diberi rezeki dari usaha yang lain.

Tapi saya sedang menimbang beberapa hal. Letak sekolah itu yang berada di ujung kota, terpencil,  dan harus berganti angkot dua kali juga masuk dalam pertimbangan saya. Sungguh, dalam hitung-hitungan matematika, angka yang disebutkan itu tidak menutupi biaya angkot yang harus saya keluarkan. Tapi… bukan itu yang ada dalam pikiran saya. Kegiatan dan beberapa amanah yang saya pegang di tempat lain yang letaknya saling berjauhan, apa saya masih memiliki waktu untuk mengajar yang letaknya di ujung kota sana?

Syukurlah… saya tak perlu harus tiap hari ke sekolah. Saya hanya datang saat jadwal pelajaran saya saja.

Pengalaman pertama mengajar sungguh lucu. Karena postur tubuh saya yang kecil, ketika saya hadir… murid-murid tiada yang menyadari kalau saya lah guru yang akan mengajar di kelas mereka. Mungkin dalam benak mereka, saya hanyalah seseorang yang sekedar lewat dan bertanya ini itu. Saat saya mengatakan kalau saya lah yang akan mengajar Ekonomi kepada mereka, beberapa murid langsung berlarian kembali ke tempat duduk mereka. Hahaha… sungguh hal yang lucu untuk dikenang.

 Saat saya menjadi guru… saya ingin murid-murid saya selalu merasa bahwa saya adalah tempat bertanya jika ada yang tidak mereka pahami.

Suatu hari, entah mengapa kelas menjadi gaduh dan saya yakin apa yang saya bahas tidak terlalu diperhatikan. Lalu saya mengeluarkan kata-kata (yang dikemudian hari selalu saya ulangi).

“Ibu tidak perduli kalian ribut. Kalian keluar masuk kelas. Ada yang tidur. Bahkan kalau ada yang mau guling-guling di lantai saat ibu mengajar… silahkan saja. Ibu tidak akan marah. Tapi, ketika ibu tiba-tiba bertanya, kalian harus tahu jawabannya.”

Ajaib. Saat waktu mengajar saya selanjutnya, kelas kembali bisa saya tangani. Karena saya pun membuat game pelajaran yang berantai sehingga melibatkan keaktifan semua murid. Kalau pun ada yang mau tidur atau melakukan hal lain… mereka tidak akan sempat.

Dan satu kebiasaan saya sebelum mengajar, saya selalu bertanya tentang pelajaran sebelumnya. Saya memanggil nama mereka secara acak, jadi mereka duduk diam di bangku mereka dengan deg-degan menunggu nama siapa yang akan saya panggil. Cara itu… terinspirasi dari Ibu Musniah. Guru IPS saya waktu SMP. Beliau akan menunjuk salah seorang teman, lalu beliau menanyakan tentang pelajaran minggu lalu. Jika bisa dijawab, maka teman tersebut akan menunjuk teman yang lain, begitu seterusnya hingga semua dapat giliran pertanyaan. Jika ada yang tidak bisa menjawab, diberi hukuman (berdiri di tempat). Dengan caranya yang unik itu, beliau selalu membuat saya dan teman-teman sekelas… mau tak mau harus belajar. Meski caranya itu membuat saya dan teman-teman merasa “horor” saat beliau mengajar, tapi nilai kami untuk mata pelajaran beliau selalu di atas rata-rata. Dan tentu saja… karena keunikannya pula, cara beliau mengajarlah yang paling saya ingat. Bedanya… saat saya memakai cara ini, saya memakai gaya saya sendiri dan menghindari yang namanya hukuman.

Tak terasa… sudah beberapa bulan saya menjadi guru. Saat ulangan semester sudah selesai… saya sempat mendengar ada raport salah satu murid saya yang masih ditahan oleh pihak sekolah karena belum membayar kewajibannya. Saya langsung terenyuh. Ya Allah….

Tapi saya tidak dapat berbuat banyak saat itu karena saya tidak lama menjadi guru di sana. Profesi guru tidaklah akan saya lakoni selamanya. Saya mengajar hingga guru yang sebenarnya datang.

Hingga suatu hari, saya bertemu dengan salah seorang teman di angkot.

“Kakak dicari sama bapak… ” teman tersebut menyebut nama Kepala Sekolah tempat saya mengajar sebelumnya. “Katanya kakak belum ambil gaji kakak.”

Saya terdiam. Bagaimana mungkin saya tega mengambil gaji saya, sedang ada salah satu murid saya yang raportnya masih ditahan karena belum membayar tunggakan sekolah?

* * *

Diikutsertakan pada lomba Gerakan Indonesia Berkibar Blog Competition 2012

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: