Menjadi Ibu Tiri?

11 Mar

Saya menunduk. Di depan saya, duduk keluarga yang menunggu keputusan saya. Kutarik napas berat. Ini sungguh-sungguh hal yang teramat berat. Tidak pernah terbayangkan dipikiran saya kalau suatu hari saya akan dihadapkan pada dilema ini.

“Bagaimana?”

“Haruskah?” tanya saya balik. Sungguh… saya tidak bisa berpikir jernih saat ini. Ini begitu tiba-tiba.

“Apa kamu tidak kasihan pada bayi mungil itu? Bukankah kamu sangat mencintai anak-anak?”

“Ya… saya sangat menyukai anak-anak. Tapi kalau harus menikah… saya butuh waktu.”

“Apalagi yang harus kamu pikirkan? Usia kamu hampir kepala tiga.”

Deg! Alasan itu lagi. Mengapa saya harus menikah karena alasan umur yang semakin beranjak? Saya pun memiliki kekhawatiran, namun kalau alasannya karena usia lalu saya asal menerima, saya bukan wanita seperti itu.

“Dia lelaki yang baik. Istrinya baru saja meninggal saat melahirkan… dan bayi itu sangat membutuhkan seorang ibu.”

Ruangan di sekitar saya seakan berputar. Sungguh, saya tak pernah membayangkan kalau saya akan menjadi seorang ibu tiri.

***


Kuusap wajah. Saya masih belum beranjak dari tempat tidur… saya masih mengingat-ingat detil mimpi itu lagi. Mimpi itu terasa nyata. Namun, bagaimana pun saya berusaha mengingat siapa lelaki yang akan dijodohkan denganku… sia-sia saja. Saya tidak memiliki bayangan seraut wajah.

Siang hari, mimpi itu masih mengganggu konsentrasi saya. Hingga…

Kriiiiiiing.

Kubaca nama yang muncul. Kakak saya.

“Ya? Ada apa?”

“Ada berita untukmu.” Suaranya terdengar riang. Bahkan sambil tertawa.

“Apa itu?”

“Mau adopsi anak?” Dia masih tertawa.

Hah! What?!

“Maksudnya?”

“Si Manis, kucingnya Ipul melahirkan di rumah. Tiga anaknya, tinggal satu yang hidup. Kamu mau adopsi?” Sekarang dia tertawa lepas.

Kini saya pun ikut tertawa. “Warna apa?”

“Putih.” Saya langsung antusias.

“Iya. Saya mau.” Tawa saya pun terdengar lepas. Bahagia. Saya lalu menceritakan mimpi saya semalam. “Mungkin ini jawaban mimpi saya yah.”

***
Mimpi itu terjadi sekitar tahun 2009. Bayi kucing itu… lalu saya beri nama Chiripa. Kini dia sudah besar dan melahirkan anak yang lucu-lucu pula.

Maaf… Chiripa malu di foto, jadi kalian tidak dapat melihat betapa cantiknya dia

Iklan

4 Tanggapan to “Menjadi Ibu Tiri?”

  1. cii' yuniaty 11 Maret 2012 pada 10:21 pm #

    meoooooooooooooooong…..
    mmmm…meong….hihihi ^_^

    ku tinggalkan jejak meong

  2. yhuda cahya pratama 11 Maret 2012 pada 10:33 pm #

    miaaaayaaaauuuu

  3. ke2nai 12 Maret 2012 pada 9:18 am #

    waaaaa… di colek dulu ah kucingnya.. Wkwkkw…

  4. De 13 Maret 2012 pada 5:31 pm #

    anak2 de udah mohon2 diijinkan pelihara kucing. Tapi gimana dong, de geli ama kucing. Hiks

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: