Kerinduan Seorang Kakak

5 Mar

Hora ashimoto wo mitegoran. Kore ga anata no ayumu michi. Hora mae wo mitegoran. Are ga anata no mirai….


Tidurku terhentak seketika. Lagu Mirai terdengar pertanda ada pesan masuk. Siapa tengah malam ini sms? Tanganku meraba-raba dimana letak HP itu. Dari Asni. Ada apa, ya? Beberapa hari ini ia memang sedang sakit. Segera kubuka sms itu.

kadang-kadang ku sms kakak, kadang-kadang tidak … kadang-kadang ku telepon kakak, kadang ku lupa … tapi jangan risau, berapa banyak pun kadang-kadangnya, Kakak Nur tetap kakak-ku, bukan untuk kadang-kadang tapi untuk selamanya … ^_^  (16-Okt-08 dikirim 23:25 wita)

Napasku sesak oleh keharuan yang tiba-tiba menyelusup ke hati. Asni bukanlah adik kandungku. Dia adik tingkat di kampus. Dia hanya salah satu adik dari beberapa adik-adik manis yang kutemukan dalam perjalanan kehidupan ini.

Sms ini pun bukan satu-satunya. Entah, sudah berapa banyak sms-sms seperti ini yang mampir dinomorku. Mereka (adik-adikku itu) mendoakanku, menyayangiku. Yang pastinya, semua isi sms itu mengharukanku.

“Ya Allah, mereka mencintaiku karena-Mu.”

Tapi, ada satu adik yang selama ini tak pernah mengetikkan jemarinya merangkai kata-kata penuh kasih untukku. Adik yang sedang kuliah di luar kota itu, tidak pernah mengirimi saya ucapan-ucapan yang mengharukan. Awalnya… saya juga tidak terlalu peduli. Tapi, mendapat sms-sms bernada sayang dari adik-adik lain, serasa kok ada yang kurang.

Ning, namanya. Dia adik kandung saya satu-satunya. Adik saya itu terlalu kaku… tidak romantis. Meski bersyukur… ada adik-adik lain, yang menunjukkan kasih sayangnya dengan lebih terbuka, tetap saja ada kerinduan itu… kalau suatu hari dia bisa lebih ekspresif menunjukkan kasih sayangnya.

Ning, kita saling tahu kalau kita saling menyayangi. Kita memang tak pernah mengungkapkannya. Kita tak pernah menunjukkan ‘keromantisan’ itu. Kita tahu, sama-sama tahu, kalau tindakan kita adalah wujud perhatian dan kasih antara kita, meskipun itu dilakukan dengan cara menggerutu sekali pun. Tapi… direlung hati paling dalam, saya pun ingin mendengar ungkapan kasihmu. Maka, pahamilah kerinduan kakakmu ini….

***

Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY :  Aku Sayang Saudaraku [kategori 2] yang diselenggarakan oleh Susindra

Iklan

4 Tanggapan to “Kerinduan Seorang Kakak”

  1. ke2nai 8 Maret 2012 pada 8:43 am #

    semoga kerinduan itu bisa segera terlepaskan ya 🙂

  2. susindra 8 Maret 2012 pada 10:53 pm #

    Meski bukan saudari kandung, tetapi tetap saling memberi kabar setelah berpisah dan masing-masing menjalani kehidupan berjauhan. Indahnya kasih sayang karena Allah.
    Mbak sangat beruntung. Semoga silaturrahmi tetap terjaga meski ada yang belum mengirim kabar ya mbak.
    Terima kasih untuk ceritanya.

    Salam hangat dari Jepara
    Susindra

    • nurusyainie 8 Maret 2012 pada 11:47 pm #

      @ke2nai: Semoga… bunda.

      @susindra: Terima kasih juga bunda. Salam hangat. *peluk* 🙂

      Yang jarang mengirim kabar itu…justru Ning, adik kandung saya satu2nya, hiks… 😥

  3. top1hit4m 2 Oktober 2012 pada 1:44 am #

    mb nur blog saya http://smr.web.id

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: