Gadis Kecilku Bertanya Tentang Cinta

22 Feb
Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli terhadapnya
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya dengan setia
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata , ” Aku turut berbahagia untukmu ”
Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu
Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi
Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya..

***

Siang itu tidak seperti biasanya Tiara pulang dengan wajah tanpa senyum. Setelah memberi salam dia langsung masuk kamar dan aku menunggunya keluar. Apa yang terjadi dengannya? Biasanya pulang sekolah, setelah memberi salam dan mencium tanganku, dia langsung masuk kamar mengganti pakaiannya dan berlari menyusulku ke dapur.

Usai menata makanan, aku mengetuk kamar Tiara.

“Sayang…”

Hening.

Perlahan kubuka pintu. Gadis kecilku berbaring memeluk bonekanya dan masih dengan seragamnya. Terdengar sisa isaknya yang coba disembunyikan dariku. Kusentuh pundaknya.

“Sayang… Apa yang terjadi?” Aku membayangkan dia mengalami hari buruk di sekolah. Apa dia dihukum guru karena tidak mengerjakan pr-nya? Tidak, gadis kecilku sangat perhatian soal pelajaran. Sangat sedikit kemungkinan dia tidak mengerjakan pr. Teringat artikel tentang bullying yang kemarin kubaca. Tapi aku ragu… apa Tiara begitu mudahnya di bully? Dia gadis yang kuat. Dia tidak akan mudah digertak.

“Sayang…” Kubalikkan tubuhnya. Kulihat dia menghapus air matanya. Kubawa dia dalam pelukanku. Dia pasti mengalami hari yang buruk yang tidak bisa kubayangkan. “Coba cerita ke Bunda.”

Gadis kecilku masih terdiam.

“Kalau sekarang kamu tidak ingin cerita ke Bunda, tidak apa-apa. Sebaiknya kita makan.” Kubantu dia melepas seragamnya dan mengganti dengan pakaian sehari-harinya.

Wajah Tiara masih lesu. Kutuangkan sesendok nasi di piringnya.

“Bunda tahu ada sesuatu yang terjadi. Tapi kamu harus makan. Untuk bersedih pun kamu butuh tenaga.” Tiara masih belum menyentuh sendoknya.

“Kamu tahu sayang… tadi Ayah menelpon. Besok Ayah akan pulang.” Kuberharap ada senyum di wajahnya mendengar berita itu. Aku kecewa saat tak menemukannya.

“Baiklah, Tiara. Bunda juga gak akan makan. Bunda akan menemanimu.” Kudorong piring ke tengah meja. Kuberharap dia merubah keputusannya dan segera berbicara.

Kami terdiam. Sesekali kudengar helaan nafas Tiara.

“Bunda…”

“Ya…?”

“Bagaimana rasanya cinta?”

Apa? Kalau tak ada meja tempat aku berpegang, mungkin aku telah terjungkal dari kursi. Pertanyaan macam apa itu? Tidak adakah pertanyaan lain yang bisa keluar dari mulut putriku?

Aku berdehem. “Cinta ya?” Kulihat kursi kosong di sebelah kananku. Darling, aku berharap saat ini kamu ada di sini membantuku menjawab pertanyaan putri kita.

“Apa menyakitkan, Bunda?”

Aku tergagap. Sungguh, aku tidak siap dengan pertanyaan ini. Sekali lagi aku berdehem.

“Sayang… cinta itu agak rumit.”

“Melihat Ayah dan Bunda… kupikir cinta itu membuat bahagia. Tapi mengapa bagi Tiara menyakitkan, Bunda?”

Oh, apakah Tiara sedang jatuh cinta? Usianya belum lagi genap 10 tahun!

“Sayang… dalam kerumitan cinta, terdapat berbagai macam rasa di dalamnya.” Kataku perlahan sambil berharap dia mampu mencerna.

Kutatap mata beningnya. Oh, aku masih tidak percaya hal ini. Tiara masih kecil! Bagaimana bisa aku menjelaskan tentang cinta pada anak seusia ini?

“Saat pertama kali kamu lahir… begitu mungil. Bunda langsung jatuh cinta. Saat itu Bunda bahagia memiliki anugerah terindah. Yaitu kamu Tiara.” Tiara tersenyum.

Apa aku juga harus cerita betapa dagdigdug-nya jantungku saat lelaki yang aku sukai lewat di depanku sambil say hello dan melempar senyum manisnya? Saat lelaki itu mengirim salam lewat teman sebangkuku, serasa aku ingin melompat tinggi hingga ke awan. Saat ada surat merah jambu di laci mejaku tertulis nama lelaki itu sebagai pengirimnya, aku merasa warna pipiku sama dengan warna sampul surat itu.

“Lalu?” Tiara membuyarkan lamunan sesaatku.

“Memiliki kamu, Bunda mengecap banyak rasa cinta. Melihatmu tumbuh dengan sehat, Bunda sangat bahagia. Kamu rajin belajar, pintar di sekolah, berlaku baik terhadap teman-temanmu… itu sungguh kebahagiaan bagi Bunda. Mendengar do’amu diakhir shalat, Bunda menangis bahagia karenanya.”

“Adakah pahitnya, Bunda?” Kutatap lagi mata bening itu. Cintaku masih menari-nari di telaga beningnya.

Teringat kisah Jeng Asih, tetangga sebelah. Dia baru bercerai setelah membangun rumah tangga 5 tahun. Bukan waktu yang singkat memang. Perselingkuhan, rasa dikhianati, hati yang terluka, tangis yang berderai sepanjang malam setelah perceraian itu, emosi yang tidak stabil saat melihat pasangan yang lebih beruntung, kebencian yang sangat terhadap laki-laki yang dulu pernah dia cintai, dan kepercayaan diri yang perlahan memudar dengan status baru.

Lalu kisah mbak Marwah. Wanita lugu yang aku kenal karena sama-sama aktif di Masjid dekat rumah, yang setia menunggu suaminya balik kepadanya setelah lari bersama wanita lain. Ketika aku bertanya mengapa dia tidak minta berpisah dan mencoba kehidupan baru saja, dia hanya berkata bahwa dia masih mencintai lelaki itu meski berdarah-darah. Aku takjub dengan hati wanita itu yang penuh maaf. Aku memahami pilihannya untuk mencintai hingga terluka, meski kadang aku melihatnya dengan iba. Sungguh, dia wanita yang sangat baik.

Ah, haruskan Tiara mengetahui pahitnya cinta yang seperti ini? Aku menggelengkan kepala. Belum saatnya.

“Saat kamu sakit, Bunda ikut merasa sakit.” Suaraku agak serak. Teringat malam-malam yang kulalui saat Tiara demam. “Kamu menangis, Bunda ikut menangis dalam hati. Saat kamu sedih seperti sekarang, Bunda juga ikutan sedih.”

“Bunda, apakah Bunda tahu kalau Tiara kadang kecewa kalau keinginan Tiara tidak dipenuhi?” Aku mengangguk. Terbayang wajah cemberutnya saat dia minta ice cream saat sedang batuk dan aku melarangnya. “Apa Bunda pernah kecewa sama Tiara?”

Aku menerawang. Mencari kecewa itu. Dan kutemukan di suatu sore yang indah, saat aku ingin berjalan-jalan di kompleks rumah ditemani Tiara. Tapi Tiara membiarkanku berjalan sendiri dan lebih memilih bermain sepeda dengan Anggi teman sebayanya. Dan Ayah? Memilih menonton rekaman pertandingan bola yang tidak sempat dia tonton.

“Mungkin pernah.” Akhirnya aku berkata.

“Mengapa mungkin, Bunda?”

“Kekecewaan Bunda tertutupi oleh pengertian. Jadi Bunda anggap kecewa itu hanya sesaat bahkan Bunda lupakan, seolah tak pernah ada. Kamu tahu sayang, cinta juga butuh pengertian. Termasuk ketika Bunda ada kerjaan, Bunda ingin kamu mengerti dengan kesibukan Bunda.”

“Bunda…,” Tiara terdengar ragu-ragu. “Pernahkah Bunda disakiti oleh Ayah?”

Aku sedikit gelagapan. Selama ini pertengkaran kecil dengan Ayah tak pernah kami tunjukkan langsung dihadapan Tiara.

“Mengapa Tiara tanyakan hal ini?”

“Tadi di sekolah….”

“Ya? Ada apa di sekolah?”

“Randy menang kuis dari bu Guru. Dia mendapatkan hadiah penghapus cantik berwarna pink. Dan saat keluar main, Tiara melihat Randy memberi penghapus itu kepada Anggi.” Kulihat air mata Tiara berderai.

Ya, Allah… karena inikah gadis kecilku bersedih hari ini?

Kugeser dudukku dan kubawa Tiara dalam pelukanku. Oh, Ayah… aku sangat membutuhkanmu saat ini. Aku menyadari kalau aku pun kini mengenal rasa cinta yang lain. Rasa ketergantungan terhadap orang yang dicintai.

“Kamu tahu anakku… ketika kamu menyukai seseorang kamu juga harus
siap bersedih karenanya. Ketika kamu mendapati dia tidak seperti keinginanmu, kamu akan bersedih. Tapi kesedihanmu tidak perlu berlarut-larut. Kalau dia juga menyukaimu, dia tidak akan membuatmu sedih berkepanjangan.” kataku sambil berdo’a dalam hati semoga ucapanku cocok untuk anak seusianya.

“Dengar sayang,” Kuangkat wajahnya menghadapku. Kuusap air mata yang masih tersisa. “Saat kamu bersedih karena Randy atau karena hal lain, kamu masih memiliki cinta Bunda dan Ayah. Cinta kakek dan nenek. Cinta om dan tante. Cinta para sepupu. Kami akan membantumu mengusap air matamu. Jadi kamu tidak perlu marah sama Randy dan Anggi. Karena kamu memiliki begitu banyak cinta.”

Kulihat Tiara tersenyum.

“Maukah Bunda beritahukan tentang cinta yang kamu tidak akan menemukan kesedihan dan kekecewaan?” Tiara mengangguk.

“Cinta kepada Allah, anakku. Dia zat yang lebih layak dicintai. Ketika kamu dekat selangkah… Allah akan seribu langkah lebih dekat padamu. Terkadang… banyak manusia yang tidak sabar menunggu jawaban atas do’a-do’anya. Padahal Allah sedang membuatnya indah pada waktunya. Kita sebagai hamba, hanya bisa bersabar menunggu saat itu tiba. Begitu juga dengan Tiara saat ini. Tiara belum saatnya mengenal cinta yang lain. Kelak saat kamu lebih besar, kamu akan mengerti.”

“Bagaimana rasanya cinta kepada Allah, Bunda?”

Aku terdiam sesaat.

“Berjuta rasanya.” Kataku mengutip sebuah lagu. “Berjuta keindahan yang tak terucap.”

“Terima kasih Bunda. Tiara mencintai Bunda.”

“Bunda juga mencintaimu, anakku.” Kukecup puncak kepalanya.

“Bunda….”

“Apa masih ada yang kamu risaukan?”

“Hehehe… Tiara lapar Bunda.”

“Hahaha… ayo kita makan.”

***

Kisah ini diikutsertakan pada lomba di sini

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: