Love Will Find The Way

21 Feb

Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.

Kamu pintar, tampan, dan ayahmu memiliki jabatan di salah satu dinas yang memiliki jaringan di sekolah. Kelebihanmu itu membuat guru-guru menganakemaskan kamu. Ketua kelas, Ketua Osis, Ketua panitia. Mengapa kamu selalu mendapat tempat utama?

Tahukah kamu kalau dulu aku tidak begitu menyukaimu?

Hingga hari perpisahan sekolah tiba. Hari itu aku melihat kamu apa adanya, sangat sederhana dan nampak bersahaja. Dan aku mulai menyadari bahwa kebaikanmu dan rendah hatimu selama ini tertutupi oleh tembok kebencian yang kubangun sendiri. Dan sejak itu, aku tidak bisa menjelaskan perasaan halus yang tiba-tiba muncul.

Hari-hari selanjutnya adalah kejutan-kejutan perasaan saat aku menyadari aku kehilanganmu. Mengapa aku tidak menyadari saat-saat kamu ingin menyapaku saat kita bertemu di jalan? Aku juga ingat saat kamu mengajakku berbicara lalu aku tinggal pergi begitu saja. Oh, aku terlalu membencimu saat itu. Aku merasa kamu menebar pesona ke semua cewek di sekolah hingga aku tidak mau menjadi bagian dari cewek-cewek tolol yang menyukaimu. Yang menulis surat cinta atau menelpon ke rumahmu. Sungguh tak tahu malu!

Lalu mengapa rasa ini bisa berubah begitu cepat hanya karena genggaman erat di hari perpisahan itu?

Surat-suratmu menyeberang lautan, yang oleh pak Pos diantar menuju salah satu alamat seorang teman. Namun diantara surat-suratmu, tak satupun ada namaku. Aku sedih, kecewa saat membaca surat-suratmu yang mengabsen satu persatu teman-teman kita. Kamu melewatkan namaku. Apa kamu melupakan aku? Apa tak ada kisah yang bisa kamu bagi buat aku?

Suatu hari, aku menemukan kenyataan kalau kamu tak sendiri lagi. Oh, beginikah rasanya patah hati? Bagai teriris dan ngilu di dada saat mengingatmu?

Hingga suatu hari kamu datang tak terduga. Kamu katakan kalau sejak dulu kamu ingin sekali bisa ngobrol seperti ini denganku. Saat kamu punya keberanian menyapaku, justru aku yang menghindarimu.

Oh! Serasa ada jarum menghunjam jantungku.

“Aku tidak tahu mengapa kamu seperti menghindariku,” katamu. Saat itu matahari senja menerpa teras tempat kita ngobrol. Aku hanya tertunduk tak tahu harus berkata apa. Tiada yang bisa aku jelaskan padamu saat itu. Kisah tentang kebencianku padamu saat itu, kini terasa lucu dan tidak mungkin kuceritakan padamu.

“Aku telah bertemu dengan banyak wanita, namun tidak tahu mengapa aku selalu teringat padamu.”

“Jangan katakan hal itu,” aku hampir menangis saat mengatakannya. Di sisi lain hatiku senang mendengarnya, namun aku menyadari itu tidak mungkin kini.

“Mengapa?” kamu bertanya.

“Kamu tahu jawabannya.”

“Apa?”

Hening sesaat. Aku biarkan kamu berpikir.

“Oh, jangan katakan kalau kamu pun telah mendengar gosip itu.”

“Gosip?” tiba-tiba aku tidak mengerti.

“Sejak kepulanganku, aku telah beberapa kali ditanya soal berita itu.”

Lalu kamu bercerita tentang lelucon Bayu, salah satu teman asramamu yang langsung dipercayai oleh sebagian teman-temanmu. Hingga kabar yang semula hanya dijadikan candaan dan guyonan pelepas lelah setelah belajar itu tersebar.

“Hingga saat ini, tiada wanita lain.”

Oh, mengapa wajahku mendadak panas. Apakah wajahku bersemu?

“Pulanglah, sudah Maghrib.” Hanya itu yang dapat aku katakan. Aku dapat melihat gurat kecewa saat kamu berlalu.

***

Tiga tahun telah berlalu. Kita telah melewati ratusan senja di teras yang sama sambil tanganmu menggenggam tanganku. Entah mengapa, di suatu senja aku begitu ingin tahu isi hatimu. Saat itu kamu menggenggam tanganku sambil terpejam. Menikmati siraman matahari sore.

“Mengapa engkau memilihku?” Aku selalu merasa bahwa kamu pasti bertemu wanita hebat di luar sana. Wanita yang lebih cantik dan pintar dariku.

“Aku tidak pernah memilihmu.” katamu, masih terpejam.

Kulepaskan genggaman tanganmu. Senyumku tiba-tiba menghilang.

Kamu menoleh, “Tapi cintalah yang memilihku untuk mencintaimu.” Lalu sambil tersenyum kamu melanjutkan, “dan aku memutuskan untuk menuliskan takdirku hidup bersamamu.”

Aku hampir saja menangis terharu mendengarnya kalau saja kamu hanya berkata sampai di situ. Tapi kamu masih melanjutkan, “Jangan khawatir… hatiku tahu jalan ke dermaga hatimu untuk berlabuh.”

Lagi-lagi aku terharu. Lalu terdiam sesaat. Serasa pernah mengenal kalimat yang hampir mirip dengan yang baru kamu ucapkan.

“Iiiih, itukan kalimat yang ada di novel Perahu Kertas.” Kalimat itu memang aku pasang sebagai screensaver di notebook kita. Aku menggelitik kamu gemas. Kamu paling bisa membuat aku sedih, terharu, dan gemas pada waktu yang hampir bersamaan. Kamu tergelak dan berusaha menghindar.

“Sudah Maghrib.” Kamu mengingatkan.

Senja itu kita akhiri dengan tawa lebar.

* * *

Kisah ini diikutsertakan pada lomba di sini

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: