[Narsisku Bahagiamu] Mbak Sayur, Sahabat Keluarga Kami

11 Feb

“Sayur… sayur, Bu!” suara lantang mbak Sayur terdengar hampir tiap pagi.

Apa yang dapat kuceritakan tentang mbak Sayur?

Saya mengenal perempuan yang bernama asli mbak Narti itu dari mama. Mama adalah salah satu pelanggan setianya, bahkan sebelum saya lahir. Jadi, seharusnya banyak yang bisa saya ceritakan tentang dia mengingat saya mengenalnya seumur hidup saya. Namun ternyata tidak mudah menuliskan kisah mbak Narti dalam tulisan saya kali ini.

Saya mengenalnya lebih dari sosok penjual sayur, hingga semua kenangan ingin saya tulis. Namun saya pikir itu tidak mungkin. Jadi saya perlu waktu untuk itu. Saya berjalan-jalan lebih dahulu, tiduran, main games, atau cek notifikasi di FB.

Meski sejak pagi saya telah melakukan sesi pemotretan dan wawancara dengan mbak Narti, namun hingga malam menjelang, hanya kalimat pembuka itu yang paling saya ingat tentang mbak Narti [selanjutnya akan saya sebut sebagai mbak Sayur sebagaimana kami memanggilnya selama ini ]


Akhirnya, mengingat deadline tinggal 26 jam lagi, memaksa otak saya agar segera encer hehehe…

* * *

“Sayur… sayur, Bu!” suara lantang mbak Sayur terdengar hampir tiap pagi.

Pemandangan mama belanja sayur gendong sama mbak Sayur memang bukan hal baru bagi saya. Sejak kecil, mata dan telinga saya sudah mengakrabi sosok dan suara mbak Sayur dengan logat Jawanya itu.

[panah merah] tembok sekolah dasar

“Ada palola?”

“Ada, Bu.” Lalu dia menurunkan bakulnya dari gendongan dan mencari palola diantara tumpukan sayur yang diatur sedemikian rupa agar muat di bakulnya.

Dia lalu menyerahkan kantong plastik berisi palola atau terong bulat kecil yang merupakan makanan kesukaan Papa. Mbak Sayur memang hapal sayur apa saja yang selalu dibeli mama. Karena pelanggan setia, biasanya rumah pertama yang didatangi mbak Sayur adalah rumah kediaman kami di bilangan MT. Haryono, Wua-Wua yang merupakan salah satu wilayah terpadat di kota Kendari.

Setelah satu persatu anak-anak mama menikah dan tinggal tak jauh dari kediaman keluarga besar, para anak dan menantu perempuan mama pun menjadi pelanggan mbak Sayur. Bukan… bukan karena pasar jauh. Pasar Baru hanya sekitar 10-15 menit naik angkot. Namun kami [saya dan saudara perempuan lainnya], memang tidak terlalu suka berdesak-desakan jika ke pasar tradisional. Jadinya keberadaan mbak Sayur sangat kami harapkan.

Bernarsis ria bersama mbak Sayur

Beberapa tahun belakangan, ada yang berubah dari kebiasaan mbak Sayur menjajakan dagangan sayurnya. Mbak Sayur tidak lagi berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, dari satu pelanggan ke pelanggan lainnya. Dia tinggal menggelar dagangannya di emperan toko yang belum buka atau di trotoar dekat SD. Para pelanggan akan menghampirinya. Dan rata-rata pelanggannya selama ini tahu kemana harus mencari mbak Sayur setiap pagi. Ohya, karena dekat SD… pelanggan mbak Sayur juga dari kalangan guru-guru.

Pagi ini pun, saya bersama kakak perempuan saya belanja sayuran. Dari kejauhan, kami telah melihat mbak Sayur telah berada di trotoar. Saat kakak saya memilih sayuran, saya meminta kesediaan mbak Sayur untuk menjadi tokoh dalam kisah saya kali ini.

Saat wawancara

“Saya menjual kurang lebih sudah 35 tahun.” kata mbak Sayur mengawali kisahnya.

Perjalanan hidup mbak Sayur tidaklah mudah. Sejak masih remaja, saat gadis seusia dia bersekolah atau bersenang-senang menikmati masa muda mereka, dia justru melakoni pekerjaan sebagai penjual sayur gendong.

“Masih gelap sudah harus ke pasar Baruga cari sayur yang akan dijual kembali. Kalau tidak cepat, kita gak akan dapat sayur yang bagus.” lanjut mbak Sayur sambil menambahkan bahwa dia berangkat pukul 2 dini hari dari rumahnya di Konda menuju pasar Baruga.

Saat ini, pasar Baruga memang tempat berburu sayuran segar dan hasil bumi lainnya yang didatangkan dari berbagai pelosok desa dan perkebunan. Bahkan ada juga yang didatangkan dari Makassar.

“Saya pertama kali menjual memang di daerah Wua-Wua sampai sekarang.” Ya, di area tempat tinggal saya inilah mbak Sayur bertemu mama dan kemudian hari menjadi pelanggan setianya hingga hari ini.

“Setelah menikah, saya masih tetap menjual sayur seperti ini. Sedang bapaknya anak-anak bisnis kayu.” lanjut mbak yang memiliki 4 anak dari pernikahannya itu.

“Saat bapak kena stoke, otomatis penghasilan hanya dari menjual sayur. Untung anak-anak sudah gede. Sudah bisa membantu sedikit-sedikit.”

“Ini aja mas, lebih masak” — “Kayaknya ini lebih gede, mbak.”

Hasil kerja kerasnya, mbak Sayur bisa menyekolahkan keempat anak-anaknya. Dua telah sarjana, satu cewek lulusan D3 Kebidanan, sedang yang bungsu kelas 2 SMP. Meski kini bisa menikmati hasil kerja kerasnya dan melihat anak-anaknya berhasil, mbak tetap melakoni pekerjaanya sebagai penjual sayur.

“Yah, mau gimana lagi. Bapak sekarang sudah enggak ada. Di rumah juga bengong… mending menjual.” kata mbak yang wajahnya masih terlihat awet muda meski usianya sudah diakhir 40-an.

Sekarang jualan mbak Sayur bukan hanya sayuran mentah. Tapi juga sayuran yang telah dimasak. Dan rata-rata para guru memang lebih memilih membeli ‘sayuran jadi’ daripada harus mengolah lagi.

[panah merah] sayuran masak yang dijual mbak Sayur

Dalam berdagang… tidak selamanya manis. Mbak Sayur pun pernah mengalami kekecewaan saat sayur masaknya yang telah dipesan sehari sebelumnya, ternyata dibatalkan keesokan harinya oleh salah satu ibu guru. Marahkah dia?

“Hempas hati saya.” curhat mbak Sayur ke salah satu kakak perempuan saya. Namun mbak Sayur tidak dendam. Sayur masak yang tidak jadi diambil pemesannya itu lalu ditawarkan ke pelanggan lain. Mbak Sayur berjalan dari satu toko ke toko lain agar sayur masak itu tidak mubazir. Dan hari itu, mbak Sayur terlambat pulang ke rumah karenanya.


Mbak Sayur memang akrab dengan keluarga kami laiknya keluarga sendiri. Tiada sekat antara penjual dan pembeli. Bahkan kalau bertemu di jalan pun seperti menyapa kenalan lama. Bukan hanya itu… hubungan baik mbak Sayur dengan keluarga kami sering membuat mbak Sayur memberikan kami bonus-bonus yang tidak dia beri ke pelanggan lainnya. Dan saat keluarga besar kami mengadakan hajatan besar pun, nama mbak Narti ada dalam daftar tamu undangan.

Ada satu kisah ketika Nurmina, kakak perempuan saya beserta suaminya pergi ke Konda dan tak sengaja bertemu dengan mbak Sayur di sana. Mereka lalu diajak main ke rumahnya. Pulang dari sana, kakak saya di kasih dua pasang angsa. Dan itu gratis! [Nah, kalau ada yang penasaran mau lihat angsa pemberian mbak Sayur bisa juga di lihat di sini.]

Saya sendiri punya pengalaman yang tak terlupakan. Dulu, saya pernah beli pare karena dibujuk oleh si mbak. Mbak Sayur, yang saya tahu jago masak, memang sering membagi resep kepada saya.

“Enak nih kalau ditumis. Diiris kecil-kecil, tipis-tipis biar gak terlalu pahit. Nih, ada bawang merah, bawang putih.” Kata mbak sambil menaruh barang-barang yang disebutkannya ke tangan saya. “Lombok merah ada gak? Kalau gak ada, nih, ta tambahi. Bonus. Terakhir, masuki
n santan. Ini juga ada kelapa, udah diparut. Mau gak?”

Kalau mengingat itu, saya tertawa sendiri. Bayangkan… semula mbak hanya menawarkan pare. Tapi saat saya membawa masuk semua belanjaan saya pagi itu… ternyata bukan hanya pare tapi beserta bumbu-bumbunya hahaha… [kalau ada yang mau lihat hasil masakan saya bisa lihat di sini. Sorry, namanya juga lagi narsis hehehe…]

Dikemudian hari saat saya mengikuti Seminar Pemasaran ternyata trik yang dilakukan mbak Sayur disebut Up Selling Technique, yang menawarkan kepada pelanggan barang-barang lain yang tersedia [ready stock]. Cara tersebut sama seperti yang dilakukan franchise makanan cepat saji.

“Pesan apa, mbak?”

“Paket A.”

“Dengan kentang?”

“Tidak.”

“Es krim.”

“Tidak.”

“Mau coba menu special kami hari ini, mbak? Ada sphagetti”

Aaaarrrrrrgggghhhhh…..

“Tidaaaaaaaaaaaaak!!!”

[heuheuheu… ada yang mempunyai pengalaman yang sama?]


Kalau dipikir-pikir, di mana mbak Sayur belajar hal itu?

Oops, saya lupa pada angka 35 tahun… tentu saja pengalaman lebih berharga dibanding seminar 3 hari yang ilmunya belum tentu dipraktekkan semua hahaha… Dan saya banyak belajar tehnik pemasaran dan peluang usaha pada mbak Sayur.

Bagi saya, mbak Sayur adalah buku Ekonomi Pemasaran yang terbuka yang dapat saya baca kapanpun saya butuh.


Tulisan ini dalam rangka mengikuti lomba di sini

didedikasikan buat mbak Narti => mbak Sayur, Sahabat Keluarga Kami


Pemeran:

Tokoh Utama: Mbak Narti [lebih akrab kami panggil dengan sebutan mbak Sayur. Seingat saya wajah mbak Narti sejak dulu tiada yang berubah, seperti waktu terhenti di situ. Bedanya sekarang mbak Narti menutupi rambutnya dengan jilbab.]

Pendukung 1: Nurmina [kakak perempuan saya yang berperan sebagai pembeli]

Pendukung 2: Arif [mas tukang ojek yang berperan sebagai pembeli pepaya]

Kameramen: Dirga [ponakan/anak ibu Nurmina]

Penulis: Nurusyainie [yang bingung apakah harus menggunakan mbak Narti atau mbak Sayur pada judul. Mengingat tidak lazimnya menyebut nama secara langsung di kota kami, jadi lebih memilih kata mbak Sayur untuk dijadikan judul]

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: