Upik Abu yang Kini Menjadi Cinderella

14 Des

Kalau saja perempuan berjilbab itu tidak menegur saya lebih dulu, mungkin saya tidak akan mengenalinya.

“Nur, kan?” katanya sambil menjabat tangan saya.

“Iya… “ jawab saya masih bingung.

“Masa lupa?”

Kuperhatikan perempuan itu. Ohya Allah… dia Br, teman SD saya.


Waktu SD, meski memiliki fisik yang mungil dan kepintaran masih rata-rata, saya bergaul dengan teman-teman yang bisa dibilang kalangan “borju”. Sedang Br berada di luar lingkungan itu. Jadi, sebenarnya kami tidaklah terlalu akrab.

Sepanjang ingatan saya, Br sering dijadikan bahan lelucon oleh kawan-kawan lelaki. Fisiknya tiada yang aneh. Rambutnya lurus, panjang menjuntai. Badannya proporsional, gak gemuk juga gak kurus. Kulitnya pun putih. Lalu apa yang aneh?

Semula, saya pun tidak memperhatikan. Tapi teman-teman lelakilah yang sering mengganggunya sehingga hal itu terlihat. Br memiliki gigi yang agak maju. Hal itulah yang selalu jadi bahan olokan.

Marahkah dia? Tentu saja. Sebagai anak-anak dia kadang menangis, kadang juga hanya cemberut. Tapi seiring kenaikan jenjang kelas, Br seperti telah terbiasa mendengar olok-olokan yang sama hampir setiap hari sepanjang tahun. Huft… tega banget ya 😦

Selepas SD, kami tidak pernah bertemu lagi. Kami memilih SMP yang berbeda. Begitu pun SMA. Tapi saat itu saya pernah satu kali naik angkot yang sama dengan Br. Kami tak bertegur sapa. Entah… Saya sendiri tidak mengerti mengapa saat itu saya tidak menyapa duluan. Apa karena saya risih dengan pakaiannya? Entahlah…

Bertahun setelah itu, kami memang tidak pernah lagi bertemu. Kabarnya pun saya tidak tahu. Hingga hari itu… saat ia menyapa duluan dengan penampilan yang baru pula! MasyaAllah… Br benar2 telah berubah. Dia telah menjadi seorang muslimah seutuhnya. Pakaiannya tidak lagi minim dan ketat seperti terakhir kali saya melihatnya di angkot.

Sejak itu kami menjadi sering ketemu. Tapi faktanya, Br lah yang sebenarnya lebih sering menyambangi saya. Baik itu ke rumah mau pun di kampus. Saya tiba-tiba saja menjadi tempat curhatnya. Karena seringnya bercerita ke saya… saya pun tahu kalau sebenarnya perubahannya itu tidak mudah. Ketika dia memutuskan menghijabi dirinya, pertentangan muncul dari ibunya. Lalu ketika dia memakai gamis, tetangga kiri kanan pun membicarakan dia seolah-olah dia hamil.

Anehnya lagi… teman-teman yang lain justru curhat ke saya juga tentang ketidaksenangan mereka kepada Br. Kata mereka Br terlalu “ramah” pada non muhrim. Meski saya pun kadang bicara blak-blakan kepada Br tentang sikapnya itu, saya tidak bisa menghindari kenyataan kalau Br memang adalah seorang yang ramah. Pada siapa pun! Keluarga saya saja semua diakrabinya.

Rupanya Allah memberi 2 cobaan sekaligus kepada Br. Saat ibunya sakit, ada seorang lelaki yang dengan segala kebaikannya, keramahannya, kelemah lembutannya menolong keluarga Br. Mau bersusah payah di RS dan membantu meminjamkan dana untuk biaya pengobatan. Hati wanita mana yang tidak luluh?

Dan… tanpa diduga tersebarlah fitnah itu!

Mulut memang tidak berbicara, tapi pandangan mata yang memicing kala dia lewat. Juga bisikan-bisikan… membuat segalanya tidak nyaman baginya.

Sakit! Itulah yang dirasa Br saat sore menjelang maghrib dia tiba-tiba datang ke rumah sambil menangis. Lelaki itu hanya menganggapnya adik. Hah, ingin kudamprat lelaki itu!

Tersakiti membuat Br menjauh. Bukan karena apa-apa Bukankah dia memang sering merasa seperti itu? Disakiti, diganggu, diolok-olok, direndahkan. Hal itu sudah biasa baginya. Dalam pikirannya saat itu, dia hanya ingin merawat ibunya.

Seiring waktu… kami pun kembali terpisah. Hingga suatu sore Br datang ke rumah (lagi-lagi… Br lah yang lebih dulu menyambung tali silaturrahmi kami). Di mata saya, Br tetaplah perempuan yang saya kenal sejak dulu. Tiada yang berubah! Namun siapa yang menyangka kalau selama kami berpisah beberapa tahun… dia telah berubah menjadi seorang Cinderella? Dan mata saya masih saja buta melihatnya!

Kalau saja saya tidak sengaja mendengar pembicaraan keponakan dengan kakak perempuan saya, saya tidak akan mengetahuinya.


“Ibu Br cantik sekali.”

“Ah, biasa saja,” sahut kakak saya. Dia memang telah mengenal Br lebih lama. Mungkin dia juga belum menyadari perubahan itu.

“Putih sekali. Apa yang dia pakai ya?”

“Kata Amma Nurus… dia pakai S**n*ui.”

“Banyak teman-teman sekolahku yang suka sama ibu Br. Orangnya baik, ramah.”


Sepenggal pembicaraan itu menjadi pemikiran saya. Benarkah?

Dunia pun bagai terbalik bagi Br. Dia datang kembali ke rumah dan curhat kalau lelaki yang pernah digosipkan dengannya, yang dulunya hanya menganggapnya adik, kini sering menghubunginya dan menawarkan hubungan yang lebih serius. Dan apa jawab Br sekarang?


“Maaf kak, saya sudah punya calon! Tolong jangan ganggu saya lagi.”


Saya tahu… itu bukan jawaban untuk balik menyakiti hati lelaki itu. Karena seperti yang sudah saya katakan, Br orang yang baik. Meski pernah disakiti, dia masih ramah terhadap lelaki itu. Pada beberapa kali kesempatan bertemu, Br masih menyapa dengan bahasa yang santun. Br menyadari, lelaki ini telah berbuat banyak buat keluarganya


Tapi memang telah ada lelaki baik yang lain yang telah datang kepadanya. 


Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: