Sepercik Ingatan

14 Des

Koran bekas yang tadi saya baca memang telah beberapa menit yang lalu saya tinggal begitu saja di bangku ruang tunggu bandara. Tapi salah satu berita yang ada di koran itu terus teringat hingga saya menemukan kursi bernomor 8B.

Saya mencoba duduk nyaman, namun ada kilatan-kilatan peristiwa yang seolah membawa saya ke beberapa tahun silam. Ke peristiwa yang sama dengan berita di koran bekas itu.


Antara tahun 1996 – pertengahan 1997

Siang itu, pulang sekolah saya tidak langsung pulang. Saya main dulu ke rumah sahabat saya, Ar. Tidak ada agenda penting apapun. Hanya main saja.

Kami ngobrol sambil mempersiapkan makan siang. Nah, dalam obrolan kami terselip sebuah cerita kalau beberapa hari lalu, di samping rumah kost yang dia tempati dengan kakak perempuannya, ditemukan orok. Penemuan itu pun bermula dari seekor anjing. Rupanya, anjing tersebut mencium aroma tak sedap dari lubang yang dangkal dan hanya diberi pengganjal batu besar. Urusan itu telah ditangani pihak kepolisian.

Cerita itu menguap begitu saja.

Beberapa minggu kemudian…

Sebagai siswa kelas 3 MTs (setingkat SMP), kami mulai dipersiapkan mengikuti ujian akhir. Sore hari, kami mengikuti pelajaran tambahan.

Hari itu, saya janjian dengan Ar untuk ke rumah kost-nya terlebih dahulu. Rencananya, kami akan bersama-sama ke sekolah.

Setelah makan siang dan ganti baju, saya keluar lebih awal agar cepat tiba di kost-an AR.

Saya tidak mengerti apa yang terjadi. Begitu tiba… saya mendapati Ar berada di luar rumah, sedang duduk di rumput depan kamarnya. Tanpa persiapan apa pun!

Khawatir terlambat tiba di sekolah, saya mendesak AR agar segera berkemas. Ia terus menggeleng.

“Ada apa?” pertanyaan yang saya lontarkan bertahun silam itu hingga kini tetap tak terjawab.

Saya mengajak dia masuk ke kamar, dia tidak mau. Ar tetap memilih duduk sambil terus mencabuti rumput-rumput yang ada di depannya.

Karena tidak mengerti dan tidak mendapat alasan jelas dari Ar, saya menerobos ke kamar. Ar hendak melarang…. Terlambat!!! Pintu telah terbuka dan mata saya terlanjur melihat seorang lelaki yang sedang tidur.

“Siapa dia?” pertanyaan ini pun tak terjawab. Ar begitu sedikit memberi jawaban. Saat itu yang terdengar jelas dipendengaran saya, kalau lelaki itu teman kakaknya, Un. Kata-katanya yang lain hanyalah gumaman yang tak jelas.

Un muncul hanya berbalut handuk di tubuhnya. Dia dari kamar mandi yang letaknya terpisah dari rumah kost. Kami pun kembali duduk di rumput.

“Kamu pergi saja sendiri. Saya tidak jadi pergi.”

Kata-kata Ar membuat saya benar-benar kecewa.

“Kenapa?”

Saya masih tidak mengerti alasan dia. Di mata saya, tidak ada sesuatu yang menghalanginya.

“Saya sudah jauh-jauh ke sini.”

Waktu berangkat les telah lewat. Percuma… Secepat apa pun saya melangkah, saya akan tetap terlambat. Kuselonjorkan kaki, masih menunggu sebuah alasan dari mulut Ar.

Berjam-jam berlalu begitu saja. Dalam diam kami… Tidak, sebenarnya hanya sayalah yang terus berbicara sejak tadi. Terus mendesak Ar untuk cerita dan hanya mendapat balasan gelengan kepala dan gumaman yang makin tak jelas.

“Saya pulang…” kata saya bernada marah. Sungguh saat itu saya benar-benar marah.

Demi sebuah persahabatan, demi sebuah janji, saya lewati sekolah untuk ke kost-annya terlebih dahulu. Padahal jarak rumah saya lebih dekat ke sekolah di banding ke kost-annya. Dan demi sebuah alasan… saya korbankan waktu les saya!

Esoknya di sekolah…. Kami tak bertegur sapa padahal kami sebangku. Amarah ini masih membakar saya… bahkan menutupi apa yang sempat saya lihat di sana.


Kisah itu terlupa. Bahkan memikirkan pun tidak. Pikiran kanan-kanak saya tidak sampai memikirkan mengapa ada lelaki di dalam kamar kost mereka. Pun saat hubungan saya dan Ar kembali baik, saya bahkan tidak lagi mempertanyakan sebuah alasan.

Tidak, tidak … saya tidak hendak men-judge seseorang karena sebuah berita di koran bekas yang entah kini berada di mana. Apakah masih di bangku itu ataukah telah terbawa oleh pembaca lainnya. Saya pun tidak berani mengaitkan kedua kisah di atas. Mungkin saja itu dua peristiwa berbeda yang kejadiannya berdekatan. Dan saya sangat berharap seperti itu.

Namun… berita di koran bekas itu seperti dejavu. Aborsi, mayat bayi, anjing, sepasang muda-mudi. Potongan-potongan kisah yang hampir mirip. Lalu saya dihadapkan pada fakta bahwa Un tidak menyelesaikan SMA-nya. Kabar terakhir yang saya dengar dia menikah. Apakah dengan lelaki yang tak sengaja kulihat itu? Entahlah….

Setelah membuang jauh-jauh pikiran betapa lugunya saya hingga tidak menyadari apa yang terjadi saat itu, saya mencoba membayangkan jika saja saya berada di posisi Ar.


Panas, lapar, dan rasa gerah mempercepat langkah Ar menapaki satu persatu tangga menuju rumah kost-nya. Ia ingin segera tiba dan bersiap-siap untuk ke sekolah lagi. Nur akan menyambanginya untuk bersama-sama ke sekolah.

Pintu kamarnya telah terlihat. Tidak tergembok. Berarti Un, kakaknya telah pulang terlebih dahulu. Ia membayangkan, makan siang telah siap.

“Teh Un…” diketuknya pintu. Terkunci!


Apa yang saya bayangkan kemudian, mungkin seperti itulah yang terjadi. Ar mengetahui dan melihat lebih banyak dibanding apa yang tak sengaja terlihat. Jika benar, saya kini mengerti betapa beratnya Ar menjawab pertanyaan-pertanyaan lugu saya.

Kugerakkan badan mencari posisi nyaman untuk tidur. Perjalanan masih panjang. Pikiran saya masih memperkirakan di mana keberadaan Ar sekarang, sebelum akhirnya benar-benar terlelap.




Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: