Diam

27 Jan


Beberapa hari lalu saya melihat seorang ibu yang membentak anaknya.

“Ma, minta uangmu, ma.” Anak usia 5 tahun itu mendekati mamanya dengan takut2.
“Kamu itu, dari kemarin minta uang terus.”
“Ma…”
“Kamu minta dipukul lagi, hah?”
“Oh ma, … uangmu!” Anak lelaki tersebut tetap merengek, malah sudah teriak2 minta keinginannya segera terpenuhi.

Dan terjadilah …

Di depan mata saya, anak tersebut dipukul. Oh, God!

“Sudah, tidak usah dipukul! Kalau tidak mau kasih, yah sudah. Biarkan saja!” Saya ikut emosi.
“Dari kemarin dia minta uang terus.”
“Biarkan saja. Tidak usah ditanggapi.”
“Saya tidak tahan dengar dia menangis terus.”
Saya geleng2 kepala. Lalu, kalau sudah dipukul apa menangisnya akan reda? Yang ada malah menangisnya makin kencang.

Saya tinggalkan ibu dan anak malang tersebut.

Pikiran saya melayang ke masa silam.

Dulu, dulu sekali, saya kesal bila Pa diam menanggapi keinginan2 saya. Mau beli ini, beli itu, Pa diam. Minta ini, minta itu, Pa juga diam. Seakan2 untuk mengatakan ‘YA’ dan ‘TIDAK’ terasa berat.

Pa tidak pernah bilang YA dan TIDAK, SETUJU atau TIDAK SETUJU. Mau menangis sekeras2nya atau guling2 di tanah pun percuma. Pa tetap diam. Pa seakan menulikan telinganya.

Saya kesal. Kesal sekali dengan sikap diam Pa.

Tapi, ya Allah, saya sadar bahwa saya memiliki seorang Pa yang sangat sabar. Semenjengkelkan apa pun tindakan yang saya perbuat untuk menarik perhatiannya, Pa tidak menunjukkan kemarahannya. Pa tidak pernah mengayunkan tangannya memukul. Yang Pa lakukan hanya diam. Pura2 tidak perduli, pura2 tidak dengar.

Sepintas mungkin terlihat kejam. Kok, sama anak sendiri gak pedulian gitu? Saya tahu Pa memang pendiam. Tidak banyak omong. Tapi, percayalah, saya sudah membuktikannya dan itu lebih baik dari pada ibu tadi berteriak2 menyumpahi anaknya sambil memukul.

Saya kini menyadari diamnya Pa menghalanginya melakukan tindakan negatif seperti memukul dan menyumpah. Diamnya Pa, mendiamkan saya dengan sendirinya, menyadarkan saya bahwa apa pun yang saya lakukan, semua akan percuma. Saya diajar dengan sendirinya bahwa semua keinginan tidak semuanya baik untuk saya dan tidak semuanya harus terwujud dengan cara meminta para orang tua.

Dan, saya banyak belajar DIAM pada Pa.

Terserah apa yang mau dikatakan para ahli Parenting tentang cara Pa mendidik dengan diamnya.

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: