Dunia Tanpa Kacamata

10 Des


Dunia terasa sempit, tanpa warna, tanpa bentuk. Semua terasa kabur, samar-samar. Merasa sendiri.


Aduhai, adakah kalian mengerti dunia seperti itu?

Pagi itu, saat seluruh kaum muslim menantikan shalat Idul Adha di lapangan, saya mendapati kenyataan gagang kacamata saya patah. Semua terjadi begitu tiba2. Pandangan saya jadi kabur. Saya sipitkan mata ini untuk melihat lebih jelas. Kini saya menyadari betapa saya sangat tergantung padanya.

Awalnya, saya sangat membenci harus mengenakannya. Sungguh! Saya merasa menjadi makhluk aneh diantara beberapa teman2 yang normal. Saya bahkan sering lupa di mana meletakkannya. Dan baru kelimpungan mencarinya ketika menyadari pandangan saya tidak cukup jauh menjangkau sekeliling.

Perlahan tapi pasti, saya mulai terbiasa dengan benda yang selalu bertengger diatas hidung itu. Saya sangat bersyukur, Allah memberi inspirasi kepada seseorang –siapapun dia- menemukan alat bantu penglihatan itu.



Namun, suatu hari saya menyadari hati saya kebas saat mengetahui minus itu terus bertambah dari 1 ke 2, dari 2 ke 2.5, dari 2.5 ke 2.75.
*tidak separah adik saya yang sudah mencapai 5*

Sepertinya saya harus mengubur harapan hidup tanpa kacamata karena tak ada tanda2 minus ini berkurang.

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: