Layar HP-Q Tertulis: My Mommy

6 Des

Sejak mama memiliki HP sendiri, tak ada satu pun dari anak2 mama yang terlewat untuk ditelpon satu per satu. Meski itu hanya sekedar untuk ditanya sudah makan atau belum. *Ning yang paling sering ditanya tentang ini*

Beberapa hari lalu, saya mendadak harus berangkat ke Wakatobi. Mengapa mendadak? Karena pagi hari saya diberitahu bahwa besok saya harus berangkat. Pagi2 pula. Ditambah padatnya agenda siang-maghrib, trus ada nobar LP bareng teman2 KBK. Kapan sempat packing? Panik. Untung kakak bersedia mempersiapkan hal2 yang saya butuhkan selama perjalanan termasuk snack dan obat2an.

Tentu saja saya berangkat atas sepengetahuan mama.

30 November
Pagi sebelum berangkat, saya melakukan ritual yang sama kalau saya hendak pergi jauh. Cium tangan mama dan cupika cupiki. Dan seperti biasa pula mama selalu memberi wejangan yang hampir sama.

“Hati2 selama di sana. Jangan takabur. Jangan keluarkan kata yang tidak baik. Tidak boleh …. Trus kamu juga harus ….”

Fiuh…dering HP menyelamatkan saya dari ceramah mama yang bakalan panjang. Dari Yudi. Saya harus segera ke Pelabuhan Kendari.

Perjalanan Kendari-Wakatobi ditempuh ± 4 jam naik Sagori Express.
Terik matahari menyambut kami begitu tiba. HP berdering. Kulihat nama di layar. My Mommy.

“Iya, ma?”
“Sedang di mana mi?”
“Baru saja tiba. Saya baru keluar dari kapal.”
“Ooh, Alhamdulillah. Hati2 di sana ya, nak!”
“Iye, ma.”
“….”
“Baiklah, ma.”
“….”
“Oke, ma.”

Tit…tit…tit….
Sinyal yang buruk memutuskan obrolan kami.
Sambil menunggu jemputan, saya bertanya pada akhwat yang berasal dari Wakatobi.

“Di sini, apa2 sih yang tidak boleh dilakukan? Bahasa lainnya, apa2 pamalinya? Tiap daerah kan beda2, ya.”

Teman saya itu terlihat bingung.

“Maksud saya gini, jangan sampai saya melakukan sesuatu yang ternyata oleh masyarakat sini dianggap pamali.”

Ia berpikir keras. “Apa di’?”

Sampai jemputan tiba, saya tetap tidak mendapat jawaban pasti. Pertanyaan saya mungkin agak absurd *istilahnya Babol*

01 Desember
Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi. Athy, teman sekamar saya masih tilawah di sudut kamar, saya di sudut lainnya.

Tiba2 saya dikejutkan bunyi Latin_loops dari HP saya. My Mommy.

“Iya, ma?”
“Kapan pulang?”
“Eng, tanggal 4 pi.”
“Bukan hari ini?” suara mama terdengar kaget.
“Bukan, ma. Acaranya kan ….”

Oala… Rupanya mama mengira saya hanya sehari di Wakatobi. Saya ingat2 kembali, sudahkah saya beritahu kalau kegiatan ini berlangsung 3 hari? Mmh, sepertinya mama tidak membaca brosur yang saya bawa dengan teliti.

02 Desember
Hampir semua peserta antusias mendengar berita kalau siang nanti kami akan ke Pulau Hoga.

Sambil menunggu speed boat datang, teman2 berkumpul di Restoran Wisata (Kalau di Kendari, bentuknya mirip dengan Restoran Terapung)

Saya, Fati, Marni, Anwar, dan Abbas sedang asyik menatap kejernihan laut di tempat terbawah dari restoran itu, ketika Yudi tiba2 bergabung bersama kami dengan meloncat dari lantai atas. Tempat pijakan kami bergetar.

“Heh, hati2 ko. Kalo kita jatuh semua….”
Fati punya pikiran yang tidak2.
“Bagaimana di’ kalo kita jatuh semua. Nanti terdengar di Kendari kalo kader2 *** tenggelam semua.”
Marni tiba2 nyambung, “Nanti mayatnya kita …”
“Hush!” Segera saya hentikan obrolan itu. “Nah, yang seperti ini kata2 yang tidak boleh.”
“Afwan… afwan ….”

Ketika perjalanan, saya sempat cek HP saya. Ada 2 panggilan tak terjawab. My Mommy.

03 Desember
Penutupan sedang berlangsung di Lapangan Merdeka. Suara kemeriahannya terdengar sampai di penginapan saya. Malam ini saya bersiap2 packing. Besok kami balik ke Kendari.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika HP saya bergetar. Saya mencari asal getaran itu diantara tumpukan pakaian dan oleh2. Hah, itu dia. My Mommy.

“Besok ko pulang?”
“Iya, ma. Sekarang saya lagi siap2.”
“Jam berapa?”
“Kalau bukan pagi, ya siang. Kalau jadi siang berarti sampenya sore, ma.”
“Hati2 itu.”
Wah, bakalan diceramahin lagi, nih!
“Mama mo pesan apa?” tanyaku cepat.
“Buah apa yang ada di situ?”
“Buah? Tidak ada ji buah yang beda di sini. Di Kendari juga banyak.”
Saya dibisiki sesuatu oleh Athy.
“Oh, anu ma. Nasi Bambu.”
“Ya, itu mi.”
Terdengar lagi Athy menyebut sesuatu.
“Ada lagi, ma. Kasuami.”



“Itu juga boleh.”
“Hihihi…tapi saya tidak suka, ma. Agak kecut.”
“Heh, janko menghina makanan daerah orang lain.”
“Tidak ji, ma. Sa tidak hina ji.”
Athy memukul saya dari belakang ketika saya mengucapkan kata itu. “Saya tersinggung, nah!” katanya.
“Lidah saya saja yang belum terbiasa, ma.”
“Hati2 itu. Jangan ko ….”
Mama mulai lagi dengan ceramah panjangnya.

04 Desember
Alhamdulillah, saya sudah di Kendari lagi.
Begitulah, My Mommy adalah nama yang pa
ling sering muncul di layar HP saya.

*Afwan, nah yang tidak dapat oleh2 dari Wakatobi

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: