Korengge yang Terbuang

30 Okt

Berawal dari keteledoranku masak nasi, akhirnya menyisakan kerak hitam di dasar periuk. Untunglah mama tidak marah2 (heran…biasanya mama akan berteriak histeris, tapi kali ini tidak!)

Pagi ini di meja makan. Mama duduk di sudut yang satu, saya duduk di sudut yang lainnya. Terdapat sepiring korengge di depan kami.

“Mari kita sama habiskan,” kata mama.

“Sa tidak mau ji.” Kakak kedua langsung kabur.

Saya masih tetap di kursi saya, mengaduk susu pelan-pelan. Saya tidak berniat menyentuh hasil dari kesalahanku itu.

Mama mengambil lauk pauk dan mulai memakan korengge itu. Tak berapa lama datang Echy, cucu kedua mama, ikutan makan.

Sambil makan, mama bercerita tentang korengge yang dibuang. Korengge tersebut diselipkan di antara dinding kayu. Suatu hari ada seseorang lewat, ia mendengar suara tangisan. Setelah dicari, ternyata korengge itu yang menangis (?).

Korengge itu dibawa pulang dan dimasukkan dalam peti. Tak berapa lama korengge itu jadi batu. Karena kebaikan orang itu, panennya selalu melimpah ruah.

Sayang karena keterbatasan kosakata saya dalam bahasa daerah, jadilah apa yang dikisahkan mama dalam bahasa Tolaki, kurang bisa kutangkap secara keseluruhan.

Namun, terlepas apakah itu hanya dongeng belaka atau tidak, hari ini saya mendapat pelajaran penting. Sehitam apa pun itu, jika ia adalah nasi, jangan sia-siakan sebab kita tidak tahu pada bulir yang mana rahmat itu berada.

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: