Kisah Kucing2 Saya: # 2 Cing

19 Okt

Kesedihan yang luar biasa karena kehilangan bayi kucing saya tak bertahan lama.

Suatu hari, saya membawa pulang kucing kecil yang saya temukan di jalan. Bulu dominasi putih dan sedikit hitam, ekor pendek. Ia terlihat kurus, kotor, kumal, dan kucel.

Masih pakai seragam sekolah, saya mengendongnya pulang ke rumah. Dengan gembira saya memperlihatkan temuan saya hari itu.

Tanggapan orang rumah.

Papa?

Saat itu papa belum pulang kantor.

Kakak2?

Biasa aja. Gak ada komentar.

Mama?

“Cepat buang! Kotor sekali dia.”

Tentu saja saya gak akan membuangnya. Kata mama, ia kotor sekali. Jadi saya akan memandikannya.

Byuuur…

Kucing kecil itu berontak melepaskan diri dari tanganku. Ia loncat dan berlari keluar kamar mandi.

“Mana dia?”

Aku mencarinya. Kutemukan ia sedang menjilat2 badannya.

Hup!

Segera kutangkap. Kali ini saya harus berhasil memandikannya. Biar gak kabur lagi, kamar mandi saya kunci.

Sukses! Setelah mengembalikan bulu putihnya kewarna aslinya, kami keluar. Ia pasrah berada dalam genggamanku. Mungkin pikirnya, “Ngapain kabur? Sudah terlanjur basah!”

Mama kaget melihatku keluar dari kamar mandi sambil memegang kucing dengan tampang basah kuyup gitu.

“Sudah bersih kan, ma?” kataku polos.

Mama berlalu sambil ngomel2 gak jelas. Yang sempat tertangkap telingaku kalau kucing gak suka air.

Pukul 15, papa pulang kantor. Gak sabar memperlihatkan peliharaan baru yang telah kuberi nama itu.

“Pa, ada kucing baruku. Namanya Cing.”

Jadilah, berdua papa bermain dengan Cing. Tapi, papa kadang jail dengan Cing. Tempat korek kayu kosong, diselipkan di ekor pendek Cing. Akhirnya, ia memutar-mutar terus berusaha menggapai tempat korek kayu itu dengan mulutnya. Lucu. Tapi, gak tega.

Atau hari lain, papa sengaja menutup kepala Cing dengan kantong plastik. Yang terjadi kemudian, Cing melangkah mundur berusaha melepaskan diri dari plastik itu.

Aah! Cing menceriakan hari2ku. Ia membuatku tertawa. Aku sering mengendongnya, memeluknya, tidur dipangkuanku, bahkan tidurpun kadang kami bersama (kalau tidak kedapatan mama).

Tentu saja, orang yang paling tidak terima dengan keberadaan Cing adalah mama. Rumah jadi kotor, bulunya nempel di mana aja, kotorannya di mana2, suka curi ikan adalah daftar dosa Cing yang dibenci mama.

Bukan mama benci atau tidak suka kucing. Menurut mama, kucing itu tempatnya di luar rumah. Cukup diberi makan. Sudah. That’s enough.

Tapi, siapa peduli larangan mama?

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: