Ibu pun Bukan Penjaga Yang Baik

24 Sep

Selama dua bulan lebih mereka menjadi tetangga baru keluarga kami, belum pernah telingaku mendengar kata-kata kasar keluar dari mulut lelaki itu.

Keluarga baru itu sepintas memang kelihatan ideal. Gagah dan cantik. Sepertinya mereka menikah karena cinta. Tak ada tanda-tanda sang istri tersiksa dalam pernikahan itu. Dan bayi cantik mereka kebanjiran kasih sayang. Hampir tiap minggu, ada saja keluarga mereka yang datang menjenguknya.

Hingga suatu siang, bayi cantik itu terjatuh dari tempat tidur. Dan apa yang terjadi? Sang lelaki murka kepada sang istri.

“Apa yang kamu bikin? Apa yang kamu bikin?”

Tuduhan itu jelas menyakiti hati sang istri. Kata-kata itu biasa, tapi maknanya menyiratkan kalau sang istri tidak becus menjaga anak mereka, kalau sang istri hanya mengurus yang lain.

Tahukah sang lelaki kalau hati sang istri juga sedih dengan kejadian itu? Kalau mau diukur, tentu kesedihan dan penyesalan sang istri lebih besar dibanding sang lelaki. Lalu, mengapa pula ia juga harus menerima murka dan tuduhan dari sang kekasih?

Kisah di atas memang telah usai. Bahkan hubungan mereka kembali harmonis seperti biasanya.

Tapi kisah di atas mengingatkan saya pada sebuah artikel di salah satu majalah wanita (saya lupa judulnya) yang bercerita bahwa seorang ibu pun bukanlah penjaga yang baik. Sang penulis berkata bahwa saat sang anak terjatuh saat diasuh khadimat (pembantu), ia akan marah. Namun, ia menyadari bahwa berada dalam asuhannya pun sang anak tidaklah aman 100%. Kadang terjatuh, terpeleset, terantuk karena keaktifan sang anak

Selain tetap mengasuh dengan baik sang buah hati, kita juga menyadari bahwa yang terjadi pada sang anak adalah sebuah ketetapan Allah SWT yang tak bisa kita hindari. Yang perlu ditanamkan pada diri adalah bersama siapa pun sang anak, kalau sudah ditakdirkan terjatuh, pasti akan terjadi. Berdoalah demi keselamatan sang anak dan selanjutnya menyerahkan sepenuhnya pada Allah SWT karena sebaik-baik penjaga hanyalah Allah, sang Maha Penjaga (Al Haffizh).

Lagi pula, seorang anak yang tak pernah merasakan sakitnya terjatuh, perihnya luka, tidak akan menjadi kuat. Tantangan yang akan dihadapi sang anak kelak setelah dewasa, lebih berat daripada sekedar terjatuh.

Wallahu ‘alam bishowab.

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: