Tombalaki (kisah uang 5 ribu)

10 Sep

Menjelang sore, Fira, sepupu saya datang ke rumah sambil marah2. Kelihatan sekali kalau ia sedang kesal. Dan bagi saya, kekesalanannya itu mudah ditebak.

“Kenapa lagi? Mancuana (ini sebutan buat suaminya)? Apa lagi da bikin sampe ko begitu?”

“Sapa yang tidak kesal. Masa tadi kita mo pergi beli pabuka (makanan buat berbuka puasa maksudnya), dia bilang ‘pilih mi saja nanti saya yang bayar’. Iiih, sapa yang tidak kesal begitu.”

Jujur, saat itu saya masih bingung. Mau ditraktir kok, marah. Aneh, gitu pikir saya.

Tapi kemudian saya menyadari maksud kata2 Fira. Ini bukan soal traktir atau tidak. Tapi ini tentang kepercayaan antara suami istri, yang selama ini belum sepenuhnya saya mengerti (secara saya sendiri masih jomblo).

Tombalaki. Itu kata yang dipakai Fira untuk menggambarkan sifat suaminya itu. Kata ini mungkin kedengaran asing di telinga. Tapi, sebenarnya kata ini banyak terjadi dikehidupan sekitar kita dan mewakili kisah ini.

Kata tombalaki sendiri berasal dari bahasa daerah Tolaki (salah satu suku terbesar di Sultra). Untuk mendefinisikannya secara lebih ilmiah rada susah. Secara saya bukanlah anak bahasa. Tapi kalau mengartikannya secara lebih bebas, tombalaki ini sebutan buat seorang lelaki yang mengambil alih seluruh urusan perempuan. Contoh: suami yang memegang uang belanja, yang menentukan masak berapa liter hari ini, mau beli ini beli itu, dia yang menentukan. Seakan seorang istri hanyalah robot yang tinggal melaksanakan perintah.

***

Nah, hari berikutnya saya ditelpon Fira. Suaranya kedengaran agak parau seperti habis nangis.

“Kamu punya uang 5 ribu? Saya pinjam, nah!”

“Iya ada. Datang, mi!”

Begitulah percakapan singkat kami melalui telpon. Namun saya belum puas. Saya tindaklanjuti dengan sms

Ada apa lagikah?Datang mi, nanti saya kasih pinjam ko. Kalau perlu gak usah dibalikkin. Saya ikhlas dunya akherat.

Fira membalas dengan kata2 yang membuat saya miris. Bayangkan, hanya karena ia menggunakan uang 5 ribu, ia dituduh menghambur2kan uang (Wacks? Safir Senduk saja gak akan menuduh sesadis itu terhadap penggunaan uang 5 ribu)

Tega banget, deh!

Malam selanjutnya, menanti waktu sahur, saya sms Fira menggunakan kesempatan sms Rp 0,-. Secara sejak beberapa hari lalu pulsa saya nggak mencukupi untuk meng-sms.

Belum tidur? Saya lagi nonton (waktu itu saya lagi nonton film Sang Murabbi)

Belum tidur, say. Saya masih main gem

Msh blum ada wangmu? Datang mi nnt saya ksh pinjam.

Saya sdh bilang tdk ada uangku. Saya mo pake apa ke sana. Jalan kaki? (Terharu…)

Jadi apa mi ko bikin di sana? Membosankan bangetz. (kesannya saya terlalu mencampuri urusan mereka, ya? Tapi saya terlanjur kesal)

Ya, saya cuma bisa diam di rumah tunggu saya dikasih makan dgn kemarahan siang malam tanpa sebab.

Hiks… sedih banget deh baca smsnya.

Rupanya, oh rupanya… sms2 saya itu sengaja gak dihapus oleh Fira. Biar sang suami bisa baca (ini yg saya gak ketahui, ternyata HP-nya juga sering diperiksa oleh suaminya).

“Biar uang 5 ribu saja ko lapor ke keluargamu” Kira2 seperti itu katanya pada Fira.

Haahhh? Bukankah dia duluan yang permasalahkan uang 5 ribu? Ada ya orang seperti ini *sambil geleng2 kepala*

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: