Moment 5 -> Akhirnya Aku Menyerah

28 Jul

Malam semakin menanjak. Bersepuluh kami telah duduk di kursi masing-masing di angkot sewaan kami. Wajah-wajah dihadapanku menunjukkan kepuasan jalan-jalan hari ini meski lelah tak dapat bersembunyi dari raut wajah-wajah bugis itu. Sedang Hasna dan Aminah yang duduk di sebelahku pun saling menyenderkan bahu. Semua capek!

Tiba-tiba Yan bertanya kepada Lisa yang membuatku kaget. Dan pertanyaan itu pun disahuti Lisa.

Rupanya kekagetan bukan hanya milikku. Hasna dan Aminah pun menjadi gelisah. Apa pasal? Secara tiba-tiba Yan merubah rencana yang sore tadi kami sepakati.

Aku meradang!

Pikiranku sedang kalut. Seharian tadi banyak sms teman-temanku yang memenuhi inboxku. Rata-rata bermasalah dan menginginkan aku pulang secepatnya. Ditambah lagi masalah ini. Waaa….

Tiba di Pondok Labu, lagi-lagi aku menerima sms Amy. Apa yang harus kujawab kali ini? Aku tidak menemukan kata-kata bijak dan nasihat di kepalaku untuk menenangkan dirinya. Aku sendiri butuh ditenangkan dari gelegak amarah ini.

Yan tahu ketidaksukaanku pada keputusan sepihaknya. Dengan suaranya yang datar, ia meminta kami semua menginap di sini, di Pondok Labu!

Wacks? Lalu apa gunanya kami ‘rapat’ sore tadi? Lalu, sahutan penolakan tadi? Bukankah itu bentuk keengganan?

“Bagaimana, One?”

Mereka menunggu keputusanku. Najmun, Aminah, dan Hasna harap-harap cemas menantinya. Aku tahu mereka pun kecewa dengan perubahan ini.

“Kalau tahu kayak gini, mending ke Kampung Melayu saja tadi.”

“Kamarnya besar, kok. Saya sudah lihat tadi.”

Ini bukan soal besar kecilnya kamar. Ini tentang (Arrrgh… aku paling benci mengakui ini) pengambilan keputusan sepihak tanpa meminta pendapatku. Aku merasa tidak dihargai!

Aku harus berpikir. Aku harus berpikir tenang.

Mataku beralih pada Motorola. Amy! Kuhubungi ia. Ternyata keadaannya tambah parah. Ia butuh aku di sampingnya. Oh, ya Allah, apa yang harus aku lakukan?

Sambil mendengarkan Amy berbicara di seberang, pikiranku terbagi pada keputusan menginap di Pondok Labu atau tidak.

One putuskan segera!

Kupandangi lagi Najmun, Aminah, dan Hasna.

Aah, adik-adikku itu begitu lelah. Haruskah mereka jadi korban keegoisanku?

Setelah kusudahi pembicaraan dengan Amy, aku sudah mengambil keputusan. Belum bulat memang karena diri ini masih susah menerimanya.

“Bagaimana?” Yan mendesak. Ia mengatakan sesuatu yang akhirnya membuatku menyerah.

“Terserah teman-teman,” kataku sambil berdiri masuk ke rumah, yang artinya aku menerima keputusan itu.

Tapi Yan masih ragu terhadap keputusanku ketika ia bertanya, “One tidak masalah nginap di sini?”

Pertanyaan yang tak perlu kujawab.

Tapi harus kujelaskan beberapa hal di sini. Kalau aku mau, kalau aku menuruti keinginan pribadiku, aku bisa saja memutuskan kami tak akan menginap di rumah ini. Kami bisa ke Kampung Melayu, meski jauh. Atau ke hotel terdekat dan menginap semalam sebelum ke Kampung Melayu keesokan harinya.

Tapi, tidak! Itu tidak kulakukan! Aku akhirnya menyerah. Menyerah pada diriku. Menyerah pada kata Yan yang membuatku berpikir pada satu orang yang seharian tadi tak kuperhitungkan keberadaannya. Ya, sebenarnya kami bersebelas.

“Kasihan sopirnya. Dia sudah lelah kalau harus mengantar kalian lagi.”

Kali ini aku benar-benar luruh….

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: