Moment 4 -> Monas

27 Jul

Monumen Nasional. Monas. Akhirnya, aku bisa menatapmu secara langsung. Bersepuluh kami melewati pintu hijau itu. Orang-orang bertumpah ruah. Ramai. Layang-layang meliuk-liuk diterpa angin sore di atas kami. Tiba-tiba aku menyadari kami tak lagi seiring sejalan.

“Mana yang lain?” tanyaku.

Aduh, anak-anak ini kok perginya nggak pamit? Kalau ada apa-apa dengan mereka, bagaimana?

“Coba hubungi hp-nya.”

“Nggak aktif, kak.”

Aku berbicara dengan akhwat paling tua diantara mereka.

“Maunya mereka pamit mau ke mana supaya kita tidak khawatir mencari. Kalau mereka pamit, kita nggak akan melarang mereka pergi. Terus, kalau pisah dari rombongan, hp diaktifkan.”

Kejadian itu terus berulang. Hilang. Muncul. Hilang. Muncul Aku sampai khawatir sehingga tak dapat menikmati senja yang indah itu.

Saat itu aku berpikir, mereka pasti membenciku. Mungkin saja mereka akan berpikir, “Siapa kamu ngatur-ngatur kami. Kenal aja baru beberapa hari.”

Tapi, adakah diantara salah satu dari mereka yang menunjukkan kebencian itu? Tidak!

Ya, Allah, maafkan aku atas prasangkaku ini. Mereka akhwat-akhwat yang baik, nggak mungkin mereka berpikir seperti itu.

Aku hanya merasa, mereka adalah tanggung jawabku. Mereka adalah adik-adik perempuanku yang harus aku jaga.

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: