Moment 3 -> Menginap di Mana Malam Ini?

27 Jul

Rombongan FLP Sulsel yang berjumlah 5 orang mau jalan-jalan setelah penutupan silnas. Mereka mengajak kami, rombongan FLP Sultra yang berjumlah 4 orang. Dengan satu guide dari FLP Malut

“Mau, mau, mau,” kataku pada Sultan, ketua FLP Sulsel.

Tibalah saat itu tiba. Sesuai rencana, kami akan menyewa sebuah angkot. Travel bag kami dititipkan di salah satu ruang masjid.

Tapi rencana tiba-tiba berubah. Aminah mendapat telpon dari salah satu akhwat Sulsel.

“Kak, katanya barang-barang kita dititip saja di rumah tantenya Lisa di Pondok Labu.” Lapor Aminah padaku setelah menerima telepon itu.

Semua setuju.

Kami tiba di rumah megah milik tantenya Lisa, salah satu akhwat Sulsel. Setelah menurunkan barang-barang dan menaruhnya di ruang tengah rumah tersebut, aku mengira kami akan langsung jalan.

“Eh, mana yang lain?”

“Shalat dulu, kak.”

“Tadi tidak jamak?”

“Dari tadi mereka memang belum shalat.”

Ealah, sekarang kan sudah masuk ashar. Emang dari tadi mereka buat apa waktu masuk waktu dzuhur? Aah, tak ada gunanya ngomel-ngomel. Aku kembali ke mobil di mana Hasna, Najmun, dan Yan menunggu.

Mereka sedang membahas di mana kami menginap malam ini.

“Di tempat teman Hasna, kan?” tanyaku menegaskan.

“Di tempat saya saja. Lebih dekat dari sini. Ada satu kamar buat akhwat. Najmun nanti bersama saya.” Yan memberi usul.

“Iiih, tidak enak sama Leman. Saya sudah hubungi dia tadi kalau kita mau nginap di tempatnya.” Hasna mencoba bertahan.

“Di mana?”

“Kampung Melayu.”

“Jauh itu. Tempat saya, dekat dari sini. Bla…bla…bla….” Yan panjang lebar memberi alasan.

Mmh, sepertinya masuk akal. Sekarang menjelang sore, tentu kami pulang sudah malam dan dalam keadaan lelah. Kalau kondisi begitu kami paksakan ke Kampung Melayu, nggak tahu apa yang akan terjadi.

Akhirnya aku mengambil keputusan: Malam ini kami menginap di rumah paman Yan.

Aku tahu, Hasna tidak enak dengan Leman, temannya yang sudah menyediakan kami tempat menginap. Tapi, apa Hasna mendebatku? Tidak! Ia menyerahkan semua keputusan kepadaku.

“Cuman saya tidak enak sama Leman.”

“Nanti saya yang bicara dengan Leman.”

Lewat hp Najmun, aku memohon pengertiannya dengan keadaan kami.

“Tidak masalah ji, toh kalau malam ini kami nginapnya di tempat lain dulu. Besok baru bisa ke sana, insya Allah.”

“Tidak masalah ji, kak,” kata suara di seberang sana.

“Betul tidak masalah? Sama-sama orang Kendari ji, toh?”

“Eee,… orang Muna ini.”

“Iyo, yo. Tapi besok tidak masalah ji, toh kalau kami ke sana. Lagi sibukkah?”

“Besok itu saya tidak yakin. Ada kuliah.”

“Iya, ya, besok Senin. Ah, nanti besok dipikir.”

Kuputuskan hubungan.

Tak berapa lama, teman-teman semua telah berkumpul. Dimulailah perjalanan kami bersepuluh ke Monas.

Iklan

Silahkan komentar... ^^ Jika tidak punya blog, masukkan url facebook atau twitter yah :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: